Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
semua terungkap


__ADS_3

Sella tersenyum senang saat dokter menyatakan jika dia benar-benar sedang hamil. Ia benar-benar tak percaya, Allah akan begitu cepat mendatangkan Anugrah ini di dalam rumah tangganya dengan Bara.


"Mas bara pasti akan sangat bahagia... Aku tidak sabar melihat reaksinya nanti saat tahu aku Hamil." Ia sudah bisa membayangkan bagaimana senyum lebar di wajah dingin suaminya itu nanti.


Tapi mengingat suaminya masih di kantor bekerja dan belum pulang sejak beberapa hari ini membuat Sella menjadi lemah kembali. Sella berencana akan mampir dulu ke rumah Mamanya. Ia juga ingin mengabarkan berita bahagia ini pada seluruh keluarganya, dan mungkin nanti ia akan merencanakan membuat kejutan untuk sang suami nantinya. Ia harap dengan kabar bahagia ini Bara bisa berubah dan benar-benar menerima pernikahan ini.


Ia yakin, setelah anak ini hadir di antara mereka berdua, suaminya pasti akan berubah. Berlahan Mas bara akan melupakan wanita itu, dan fokus pada anak-anak saja. Membayangkannya membuat Sella tersenyum sendiri.


Ia yakin, akhirnya pasti bahagia!


Bukankah cerita yang selalu dia tonton di drama seperti itu. Pria yang membencinya akan berbalik mencintainya saat tahu pasangannya telah mengandung, dan akan berubah akan sangat baik dan bucin pada pasangannya.


.......


Sella tersenyum senang saat taksi sudah berhenti di depan gerbang rumah orang tuanya. Setelah membayar ongkos taksi ia segera melangkah memasuki rumah tempatnya besar itu.


"Non Sella... Non baru datang ya?" seorang pelayan di rumah itu menyambut Sella dengan sopan.


Sella mengangguk, "Mama di mana Bik?"


"Ada Non, di taman belakang. Ada Mas Alvian sama Mbak Melisa juga." Ujarnya memberi tahu.


Sella mengangguk mengerti. Setelah berterima kasih ia langsung menuju di mana taman belakang rumahnya berada. Tempat itu memang tempat berkumpul keluarganya sejak dulu.


Sebenarnya ia sedikit heran, ada apa dengan kakak perempuannya itu akhir-akhir ini lebih sering di rumah Mamanya dari pada pulang ke rumah keluarga suaminya.


Ada masalahkah?


Sayup-sayup ia mendengar pembicaraan mereka. Terdengar serius, diam-diam Sella sengaja tak bersuara dan mendengar pembicaraan itu yang sesekali juga terdengar menyebutkan namanya.


Ia melangkah lebih dekat, dan suara perdebatan ibu dan kedua seudarnya terdengar semakin jelas. Meskipun ia mulai merasa tak enak dengan pembicaraan mereka, tapi Sella mencoba untuk mendekat tanpa bersuara.


"Jadi, perusahaan sudah mendapatkan investor yang menjamin perusahaan kita akan stabil?" Zana bertanya kepada kedua anaknya itu dengan gembira.


Karena memang mereka berdua bekerja di perusahaan keluarga, sedangkan Vanka dan Sella memang tidak bergabung ke sana. Memiliki jiwa yang bebas dan masih bujangan membuat Vanka tak terlalu terikat dengan semua masalah perusahaan keluarga, sama seperti Sella, dia waktu gadis juga memilih mencari pengalaman kerja di tempat lain semenjak di tolak oleh ayahnya dulu.


"Sudah, Ma." Jawab Melissa mantap. "Lalu bagaimana dengan Adek, apa kita bisa memberi tahunya dengan jujur kalau dia kita jadikan tumbal." Imbuh Melisa menatap dua orang di depanya.

__ADS_1


Zana melotot pada putrinya itu, "Hus! Baik-baik bicaramu, Sa. Adik kamu bukan tumbal, kamu pikir ini per Sugihan."


Melihat menatap sebel sang Mama. "Lalu apa lagi, Ma. Dia akan sudah Papa buat jadi jaminan agar Nyonya Rena itu mau membantu perusahaan kita. Jika bukan tumbal apa lagi,"


"Melisa!" Alvian ikut marah mendengar kata-kata sang adik. "Jaga bicaramu, kalau orang dengar bisa salah paham nanti!" Pria itu menatap sang adik dengan marah.


"Lagi pula ini juga demi kebaikan kita semua. Lihat dia sekarang, bukankah hidup enak dengan keluarga kaya. Papa melakukan itu juga demi kebaikan dia, kamu jangan asal menuduh papa." Ucap Alvian dengan raut kesal.


"Memang Bang Alvian yakin Sella hidup bahagia dengan pria gagal move on seperti Bara itu? Yang aku lihat malah Papa tuh yang hidup enak dengan istri mudanya." Melisa mencibir, ia merasa mata abang pertamanya ini buta sehingga masih saja bisa membela sang Papa.


Terdiam... Alvian cukup terkejut dengan perkataan Melisa.


Zana yang tidak mengerti menatap putrinya itu dengan perasaan cemas. "Maksud kamu apa, Sa? Sella gak bahagia nikah sama Bara? Tapi di bilang...,"


"Dia bilang bahagia dan sudah mencintai suaminya, jadi mama percaya begitu saja? Ma... Bara itu pria yang dingin. Beberapa kali bahkan aku melihat dia masih berhubungan dengan mantan istrinya di belakang adik. Mama yakin dia memperlakukan Sella dengan baik selama ini?"


Diam


Mereka bungkam mendengar perkataan Melisa. Mereka tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, bukankah sudah jelas. Pernikahan paksa ini dari awal sudah pasti akan merugikan Sella, tapi mereka tetap memaksa demi bisa mempertahankan usaha keluarga mereka.


Deg


Mereka bertiga mematung mendengar suara Sella yang menyapa pendengaran mereka. Melisa berbalik dengan cepat, melihat Sella berdiri dengan mata merahnya, ia merasa benar-benar menyesal.


Ia menatap takut-takut sang adik yang terlihat gemetar di depan pintu. Itu berarti...!


Tamatlah riwayat mereka!


"Sella... Kamu kok ada di sini?" Melisa bertanya dengan gugup, "kamu sejak kapan datangnya?"


Sella tidak memedulikan pertanyaan dari kakak perempuannya itu. Tapi ia meminta kejelasan pada Sang Mama yang terlihat bungkam.


"Apa Mama bisa jelaskan apa maksud dengan ucapan kalian tadi? Jadi selama ini aku kalian buat jadi tumbal untuk kebahagiaan kalian? Kalian jual aku demi uang!"


Ia benar-benar merasa kecewa. Ia pikir Papanya memaksa menikah dengan Bara itu murni untuk kebahagiaan dirinya, tapi siapa sangka dia telah di jual untuk menyelamatkan perusahaan.


"Sella... Jangan salah paham, Nak. Ini... Ini..,"

__ADS_1


Melihat Mamanya yang gugup Sella sudah dapat menebak. Jadi dia mengerti kenapa sikap Bara dan Juga mertuanya selama ini selalu memandangnya seperti barang.


Meskipun Mami rena bersikap cukup baik. Tapi ibu mertuanya itu beberapa kali juga seolah menunjukkan dimana posisi dirinya sebagai menantu. Dan hari ini... Hari ini dia mengetahui mengapa Mami rena bisa berbicara seenaknya tanpa takut melukai hatinya.


"Aku pergi,"


"SEL... Dengar dulu penjelasan kami," Alvian ikut membujuk sang adik, "kami memang melakukan itu. Tapi ini demi kebaikan kita bersama, Sel. Papa juga melakukan ini karena dia tahu kamu pasti akan bahagia hidup sama Bara."


Alvian menarik tangan sang adik supaya tak pergi, tapi Sella langsung menyentaknya kuat. Rasanya ia tak sudi di sentuh sang kakak yang sudah berani menukarnya dengan materi untuk kebagian mereka.


Bahagia?


Ingin rasanya ia tertawa. Bahagia apa apanya, dia selama menikah dengan Bara bahkan selalu di buat tertekan dengan suaminya yang selalu memedulikan wanita lain.


“Yang bahagia itu bukan aku, Mas. Tapi kalian!” Sella menunjuk tempat di depan mereka, “aku pikir kalian benar-benar menyayangiku, tapi ternyata semua palsu. AKU BENCI KALIAN! AKU BENCI MAMA!”


Tidak memedulikan keluarganya, Sella langsung berlari meninggalkan rumah orang tuanya dengan mata yang sudah sembab. Sakit rasanya ia mengetahui telah di khianati oleh mereka yang memiliki darah yang sama dengannya.


*****


Semua yang di paksakan tidak mungkin menjadi sebuah kebahagiaan. Bahagia karena terbiasa itu baginya hanya sebuah omong kosong, kata-kata itu hanya dibuat untuk meyakinkan hati seseorang dikala ragu dan ketakutan.


Sella menangis tergugu sendirian. Ia meratapi rasa sakit yang datang tanpa hentinya.


"Aku pikir akan bisa bahagia setelah kehadiran mu, Nak. Tapi ibu salah... Ternyata kamu hadir di waktu yang salah. Tak ada yang mencintai kita disini, ibu harus apa?"


Sella mengusap perutnya yang masih rata. Kebahagiaan yang tadi ia rasakan sesat sekarang sudah tak ada lagi. Yang ada hanya ketakutan dan ketidak percayaan.


"Apa kita harus pulang ke rumah ayahmu? Tapi ibu takut dia akan menolak kehadiran mu, nak...,"


Matahari sudah mulai tampak ingin tenggelam tapi Sella tak ada niat untuk beranjak. Masih kalut dengan pikirannya, ia merasa takut bertemu dengan Bara.


PANTAS... YA PANTAS!


Kata-kata itu selalu terucap di bibirnya yang bergetar. Semua sikap acuh dan dingin dari Bara terasa pantas terasa oleh Sella. Bagaimana tidak, keluarganya sendiri bahkan tidak menghargainya dan menukarkannya dengan materi. Lalu bagaimana mana bisa ia meminta orang lain bisa menghargainya.


"Loh... Sella! Ini benar-benar kamu?"

__ADS_1


__ADS_2