
Sella mendekati dua orang yang sedang duduk segan santai di kursi tepi kolam renang itu.
Dia bisa melihat tatapan Bara yang berbeda jika berada di dekat wanita itu. Tiba-tiba ia merasa ada yang nyeri di hatinya.
“Ah, maaf. Apa Mas Bara mencariku?”
Sella langsung menyela pembicaraan dua sejoli itu. Meskipun ada rasa tidak suka, tapi ia juga tak bisa menunjuknya secara langsung. Toh sebelum pernikahan mereka sudah saling berjanji untuk tak saling ikut campur urusan pribadi.
“Kamu sudah datang rupanya.” Bara mengode istrinya untuk duduk di sebelah kananya. “Saya hanya ingin...,”
“Bunda! Lihat aku bawa makanan kesukaan Bunda,” teriakan Arya yang datang membawa sepiring brownis menghentikan Bara yang sedang berucap.
“Bunda?” Sella memasam ekspresi terkejutnya sembari menatap wanita cantik di depannya. “Kamu bundanya Arya?”
Bara menatap wajah istrinya itu dengan tampang malasnya. Dia tahu sekarang Sella sedang berpura-pura terkejut, dia mulai mengenali sifat perempuan satu ini.
“Ah... Iya,” jawab wanita asing itu gugup. “Saya Lalisa, panggil Lisa saja. Kamu pasti istri baru Mas Bara?” tanya lisa dengan sungkan.
Sella mengangguk. Sekali lagi dia menatap wanita cantik di depannya. Sekarang Sella menjadi berpikir bagaimana wanita se cantik Mbak Lisa ini di tinggalkan oleh suaminya.
Jika di bandingkan dengan dia yang bertubuh pendek dan kecil, apalagi wajahnya tidak cantik-cantik amat. Rasanya mereka berdua memang bagaikan langit dan bumi.
“Bunda, ayo coba kue ini. Ini dibuat sama Bik Neti. Kue kesukaan bunda dulu,”
__ADS_1
Kata dulu yang terucap membuat Sella mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa masa lalu harus di ingatkan oleh anak tirinya itu sih, kan dia menjadi canggung berada di antara keluarga kecil ini.
Ais... Dia merasa menjadi orang ketiga kalau begini!
“Saya sengaja memanggilmu kesini karena ingin mengenalkan kamu dengan dia... Ibu kandungnya Arya.” Kata Bara menjelaskan.
Sella mengangguk mengerti. Lalu dia menatap lagi Lisa yang terlihat sangat bahagia dengan anaknya.
“Dia sering kesini ya?” pertanyaan itu seperti bisikan yang hanya mampu di dengar olah Bara dan ia saja.
Bara berdehem pelan. “Iya, satu kali sebulan paling sedikit.” Ucap Bara membuat Sella mendengus pelan.
‘kalau begini kenapa mereka gak menikah lagi saja sih?!”
Hari berlalu sepeti biasa. Tidak ada yang iatimewa, hanya saja kehidupan Sella sajanyangvsemakin hari semakin kacau.
Jika di rumah dia di pusingkan dengan masalah Suaminya yang kerap kali datang bersama dengan mantan istrinya, sedangkan di kantor ia semakin di gosipkan dan bahkan ada secara terang-terangan mengejeknya pelakor.
“Sial!”
Suara keras Sella yang mengumpat membuat teman-temanya menatap gadis itu dengan bingung.
“Kenapa lagi?” tanya Ridwan bosan. Sudah berapa kali gadis ini mengumpat hari ini? Dia bahkan sampai bosan mendengarnya.
__ADS_1
“Mas Ridwan mengerti gak sih, aku benci bangat sama anak-anak kantor yang terang-terangan mengejek aku.” Keluh Sella lagi.
“Itu kan salah kamu sendiri yang nikah ngak undang-undang kita. Jadi ya gitu jadinya kan,”
Sella menatap malas rekan kerjanya itu. Dia saja takut mengundang temanya dulu karena takut di ejek, dan siapa yang menyangka akan ada kejadian seperti ini.
“Apa aku resingn saja ya?”
Ridwan dan Mala yang duduk berdekatan dengan Sella langsung terbelalak.
“Jangan gila kamu, Sel. Cari gak mudah loh,” ucap Mala yang ikut tidak tahan mendengar gerutu temannya itu.
“Ya, tapi aku gak tahan La. Gosip yang di sebar Hera benar-benar membuat aku malu.”
“Ya kalau kamu gak salah kenapa malu? Dia aja, nanti kebenaran juga akan terbongkar.” Kata Ridwan menengahi. “Tapi kalau kamu keluar juga gak apa-apa sih, kan kamu sekarang ada suami kaya. Minta nafkah yang banyak saja sama dia,” godanya mengedipkan mata pada Sella.
“Sialan kau, Mas!” maki Sella tak terima.
“Gak usah pura-pura gak mau, Sel. Nanti juga kecanduan kamu sama nafkah lahir batinya dia.” Balas Mala membaut beberapa orang disana terkikik geli.
Sedangkan orang yang sedang mereka goda hanya mendengus kesal.
....
__ADS_1