Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Rahasia


__ADS_3

Pulang dari kantor Sella tak langsung pulang ke rumah sang suami. Tapi dia memilih mampir ke rumah orang tuanya.


Karena memang tadi siang kakaknya Melisa menelepon dan menyuruhnya untuk datang untuk berkumpul bersama.


Sella tahu, saat patah hati seperti sekarang ini pasti sang Mama ingin berdekatan dengan semua anaknya untuk menjadi penguatnya dikala hati merasa gundah.


Lagi pula pulang ke rumah suami ia merasa malas. Setelah pertengkaran tadi pagi ia merasa kesal jika harus melihat wajah Bara itu lagi.


Lihatlah... Setelah berbicara begitu menyakiti hatinya, tak ada niat sedikit pun untuk meminta maaf.


Benar-benar lelaki yang tidak peka. Ia jadi berpikir... Apa dulu Lisa meninggalkan Bara juga karena hal seperti ini juga?


Hais... Kalau ia malang nian dia mendapat suami.


Kali ini Sella tak pergi dengan taksi, dia memilih pakai ojek saja agar cepat sampai. Waktu sore sepeti sekarang ini sedikit macet, berbeda dengan sepeda motor mereka bisa melewati jalan pintas.


“Alamatnya di mana, Mbak?”


“Ke jalan sekolah ya, Pak. Kalau bisa lebih cepat ya... Nanti ongkosnya aku tambahin.”


Tentu saja bapak itu semangat. Sesuai permintaan Sella, dalam dua puluh menit mereka telah sampai di tempat tujuan dengan selamat.


....


“Bagaimana dengan Mama, Kak?” Sella langsung memburu sang kakak dengan pertanyaan.


“Duduk dulu, Dek. Mama baik-baik saja kok,”


“Tapi tadi kakak bilang..,”


Melisa menyengir, “maaf. Kakak Cuma mau kamu datang kesini biar kita mengumpul. Kasihan kalau kita biarkan Mama dalam keadaan sekarang sendirian.”


Sella mengerucut bibirnya. Dia kesal dengan sang kakak yang berkata sesuka hati dan berakhir membuatnya kawatir.


Bagaimana tidak, tadi dia bilang sang mama tidak baik-baik saja karena kebanyakan menangis. Karena itu Sella meminta buru-buru tadi. Eh... Rupanya dia cuma dibohongi.


“Kalau gitu aku ke kamar aku aja lah. Mau mandi dulu,” ujar Sella. Gadis itu berlalu dengan mengentakkan kakinya tanda ia masih kesal pada Melisa.


Sedangkan Melisa yang melihat adik bungsunya itu berlalu hanya terdiam. Senyum yang tadi di bibirnya berlahan lenyap, sekarang hanya tinggal wajah sendu. Rasanya sedih melihat kehidupan sang adik yang mungkin tak bahagia karena ulah Papa mereka.


“Kenapa?” Alvian datang dan menepuk pelan bahu Melisa.


“Bang, aku merasa kasihan dengan Sella. Masalah yang kamu ceritakan tadi membuat aku kecewa... Bagaimana bisa Papa melakukan itu pada putrinya sendiri.”


Alvian menarik nafas panjang. Jika di ingat pemikiran pria itu sangat berbeda dengan perempuan. Alvian tahu apa tujuan sang ayah melakukan itu. Bukan hanya sekedar mencari untung saja, tapi juga ada niat baiknya untuk masa depan Sella.

__ADS_1


Tapi Melisa tentu saja tidak setuju dengan ucapannya. baginya Sang Papa keterlaluan memaksakan kehendak pada sang putri.


“Kita tidak bisa memutar waktu, Mel. Lagi pula sepertinya Sella bahagia saja, kenapa kita harus menyesal?” ujar Alvian.


“Enak kamu ngomong ya, Bang. Kamu itu tidak tahu bagaimana perasaan wanita. menikah saling mencintai saja banyak masalahnya, apalagi seperti Sella. Emang kamu yakin si Bara itu memperlakukan adikmu dengan baik?”


Telak!


Hati Alvian merasa tercubit.


Benar, apa adiknya bahagia?


Apalagi beberapa hari lalu dia juga sempat bertemu dengan Bara yang lagi bersama anak dan wanita yang tidak ia kenal. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah sana?


“Diam kan! Lihat tuh kamu sama kak Tias, Bang. Memangnya istri kamu itu selalu kamu buat bahagia, meskipun kalian saling mencintai. Gak kan. Lalu bagaimana dengan Sella yang dibuat sebagai bahan perjanjian oleh Papa?” ujar Melisa menggebu-gebu.


Terlalu geram ia melihat keluarga ini. Bertahun-tahun hidup seperti pasangan yang saling menyayangi. Terlihat seperti keluarga bahagia, tapi aslinya apa?


Bagi Melisa keluarga ini bagaikan bom waktu yang bisa kapan saja bisa meledak dan menghancurkan segalanya. Dan sekarang sudah terlihat efeknya kan. Satu persatu mulai terbongkar.


Dia tidak tahu bagaimana sedihnya sang adik nanti jika kebenaran akan terungkap. Yang pasti ia hanya mengharapkan kebahagiaan untuk si bungsu, semoga saja.


****


“Mama itu harus sehat. Aku gak suka kalau lihat Mama kayak gini,”


Zana hanya tersenyum. Ia mengusap rambut sang putri bungsu dengan sayang. Banyak hal yang tidak bisa ia katakan. Luka ini tidak hanya karena pengkhianatan, tapi juga banyak hal yang membuat ia merasa sakit.


“Sayang... Jika suatu hari nanti Mama buat salah tolong maafkan mama ya, Sel.”


Sella tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mamanya. Tapi karena dia tak ingin banyak bertanya, Sella memilih mengangguk saja.


“Sella gak mungkin marah sama Mama, lagian kesalahan apa yang bisa mama lalukan pada putri mama ini? Mama itu Ibu yang hebat, jadi Sella akan selalu percaya apa yang mama lakukan demi kebaikan untuk hidup Sella.”


Zana tersenyum hambar. Dalam hati ia merasa miris, andai saja ucapan anaknya itu benar... Tapi sayang, tak semua yang dilakukan oleh seorang Ibu itu hal yang terbaik untuk anaknya.


“Gak tahu. Kehidupan siapa yang tahu kan, Nak. Masa depan kita tidak tahu apa yang terjadi,” Ujar Zana.


“Kalau begitu dari sekarang aku sudah memaafkan Mama. Jadi jangan sedih lagi ya mikir masa depan.”


Selesai menyuapi sang Mama, Sella memilih ke dapur mengantar mangkuk yang sudah kosong.


Gadis itu kembali mengernyit saat melihat wajah tegang kedua kakaknya di ruang tengah.


‘kali ini apa lagi?’

__ADS_1


“Kalian kenapa? Kok tegang begitu,” tanya Sella. “wajah kak Melisa juga memerah. Kalian berantam lagi atau apa?”


Melisa yang mendengar itu langsung merubah wajah suramnya menjadi senyum yang manis.


“Kamu itu ngomong apa sih. Kakak sama Bang Alvian lagi bahas tentang kamu tahu,”


“Tentang aku... Memangnya aku kenapa?”


Melisa menatap Alvian meminta bantuan. Tapi kakak tertuanya itu malah melengos dan membuang wajah.


Ah... Kenapa dia malah berucap dengan jujur, kesal sendiri dia dengan mulutnya ini.


“Itu... Kamu... Maksud kakak bagaimana kehidupan kamu di sana?” tanya Melisa sambil memaksa senyum di bibirnya, “kami membicarakan itu tadi... Ya, itu.”


Meskipun sedikit merasa curiga, tapi Sella memilih abai lagi. Dalam situasi seperti sekarang ini dia malas terlalu banyak bertanya dan ingin tahu, ia hanya takut semakin banyak yang ia ketahui nanti semakin menyakiti dirinya nanti.


“Baik kok, kak. Kamu lihat kan aku gak kenapa-napa, jadi jangan khawatir.”


“Ya, ya. Kakak mengerti. Sekarang lanjut saja urusan kamu yang tertunda... Kakak mau pergi dulu, mau menghubungi suami kakak,” ujar Melisa.


Berusaha melarikan diri agar tak keceplosan. Melisa tahu dia tidak terlalu pandai menyimpan rahasia, jika sedikit saja terbawa perasaan ia akan langsung mengatakannya. Karena itu lebih baik dia menghindar dulu untuk sementara.


Sedangkan Alvian hanya menarik nafas lelah melihat tingkah adik-adiknya.


Meskipun ia setuju dengan Ucapan Melisa tadi. Tapi saat Sella sendiri bilang dia bahagia, ia hanya mampu untuk mempercayainya saja.


"Kalau begitu Abang juga mau lihat kakak ipar kamu dulu, ya." Alvian ikut menghindar membuat Sella semakin bertanya-tanya.


'memangnya apa yang mereka bicarakan?'


Sella melanjutakan kembali langkahnya ke dapur untuk mencuci mangkuk sang Mama.


Saat dia ingin kembali kekamar, oa malah mendapatkan telpon. Nama Bara tertera di layar ponselnya.


Sebelum mengangkatnya Sella menarik nafas dalam-dalam untuk mendenangkan dirinya. Ia harap kali ini suaminya ini tidak lagi berkata yang menyakiti hatinya lagi.


"Iya, ada apa?"


*****


Halo pembaca setia cerita Cinta tanpa Syarat. Kali ini Author monta dukungan kalian ya.


Yuk tingalkan jejak... Like, komen dan vote juga jika mau.


Terima kasih😘

__ADS_1


__ADS_2