Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Status baru Sella


__ADS_3

Sella menatap kebaya yang membalut tubuhnya. Gadis cantik itu sedari tadi Berdiam diri di dalam kamar sembari menerima layanan dari MUA.


Pernikahannya hari ini di langsungkan di kediaman orang tuanya. Tak mewah semang, berhubung calon suaminya seorang duda, malu jika harus berpesta meriah. Sedangkan ini pun bukan pernikahan bujang dan gadis.


“Wah... Mbak cantik bangat. Pasti suami Mbak nanti akan terpesona.”


Terpesona ya?


Sella gak yakin dengan ucapan Mbak yang merias wajahnya itu.


Belum nikah saja dia sudah disodorkan dengan perjanjian. Suami seperti itu mana bisa diharapkan. Pikir Sella.


“Mudah-mudahan ya, Mbak.” Jawab Sella dengan senyum kecilnya.


“Loh kok gitu? Ya pasti dia terpesona lah Mbak, kan Anda istrinya.” Ucap sang perias bingung.


Sella yang malas menceritakan memilih diam. Lagi tak ada untungnya juga dia menceritakan masalah keluarga dengan orang luar.


Setelah satu jam lebih bersiap-siap akhirnya acara inti mulai berjalan. Sella yang di dalam kamar berdebar saat-saat ijab kabul akan di ucap oleh Papanya.


“Kamu jangan gelisah gini, dek. Semuanya pasti akan lancar,” ucap Alana sang kakak ipar pada Sella.


“Iya... Entah mengapa aku merasa takut, kak. Belum siap rasanya punya suami,”


“Eh... Gak boleh ngomong gitu. Pamali, dek!”


Sella hanya diam. Orang yang menikah karena suka dan orang yang menikah karena tidak suka tentu saja berbeda.


Sepuluh menit berlalu, kata sah sudah berkumandang di seluruh penjuru rumah. Semua tamu undangan mengucap syukur.


Sella yang sudah berubah statusnya tak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


Rasanya campur aduk. Ada rasa takut, senang dan juga sedih. Tapi meskipun begitu ia tetap mencoba tersenyum, memperlihatkan pada para tamu bahwa dia bahagia dengan pernikahan ini.


Jangan sampai membuat orang tuannya malu!


“Kamu idah siap? Ayo kita turun, dek.” Alana yang mendapat tugas untuk mendampingi sang adik ipar segera membimbing pengantin untuk keluar dari kamar.


Di susul dengan kedatangan Zana yang juga menjemput putinya. Mamanya itu langsung memeluk putri bungsunya dengan bahagia.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu sah juga jadi istri, nak.”


Saat Samapi di depan penghulu, Sella langsung di tuntun bersalaman pada pria yang sudah menjadi suaminya dan dibalas dengan kecupan kecil di dahinya. Seperti pernikahan pada umumnya, Sella juga melalui hal itu.


Dua jam setelah berlalu dengan acara sungkeman dan yang lainya. Tiba sekarang saatnya sepasang pengantin itu menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang datang.


Meskipun tamunya tidak terlalu banyak, tapi mereka berdua cukup ke kelahan.


"Apa kita benar-benar sudah menikah?" Sella berbisik pelan di telinga Bara, "Om... kenapa aku menjadi takut ya,"


tidak peduli dengan wajah gadis itu yang tiba-tiba berubah cemberut.


.....


Pukul 19:00


Semua acara sudah selesai. begitu pula dengan pengantin pria sudah pulang ke rumahnya. Besok pagi baru acara akan berlanjut di kediaman Bara.


Sella yang merasa lelah memilih istirahat di kamarnya dengan di temani sang Mama. Tentu saja dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, dan ia tidak tahu kapan lagi bisa tidur berdua dengan Mamanya seperti ini.


“Jadi aku akan pulang rumah Om Bara ya, Ma?” Sella bertanya pada Zana saat mereka berada di kamar.


Besok acara resepsi di kediaman keluarga suaminya. Dan untuk malam ini tentu saja dia belum di boyong ke rumah Bara. Belum juga terjadi tapi Sella sudah was-was besok ia akan pindah tempat tinggal.

__ADS_1


Dan malam ini Sella sengaja meminta tidur berdua dengan ibunya. Dia merasa sedih nanti akan berpisah dengan keluarganya, karena itu dia ingin menghabiskan waktu puas-puas dengan sang Mama malam ini.


“Iya lah, dek. Mau di mana lagi tinggal? Gak mungkin masih sama mama kan, sedangkan kamu sudah menikah.”


Masih belum percaya dia jika dirinya benar-benar bukan lagi seorang gadis. Tapi sudah menjadi istri orang.


“Kamu bahagia dengan pernikahan ini kan, nak?”


Kenapa baru tanya sekarang?


Sella menghembus nafas lelahnya. “Belum tahu, Ma. Kami bahkan belum tinggal bersama, bagaimana bisa tahu bahagia apa tidaknya.”


“Tapi Mama harap kalian akan selalu bahagia nanti. Jika cinta belum tumbuh di antara kalian... Kamu harus berusaha membuat suamimu mencintaimu, nak.”


Membuat suaminya mencintai dia? Sella terdiam sesaat. Awal mula dia memutuskan untuk menerima pernikahan ini dia belum berpikir ke arah sana.


Cinta?


Bagaimana mungkin bisa muncul. Sedangkan sang suami sudah terlebih dahulu memberi peringatan padanya untuk jangan berharap.


“Insyahlah, Ma.” Ucap Sella berbohong. Dalam hati dia malah berdoa, semoga saja dia tidak mudah mencintai Bara dan berakhir patah hati.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur, ya. Bagaimana pun besok Mama yakin kamu bakalan lebih capek dari ini... Jadi mulai sekarang kumpulan tenaga dulu." Ucap Zana.


"Maksud Mama?"


"Ya, besok Kan acara di rumah mertua mu, Sayang. Mama yakin pasti tamu undangan lebih banyak dari rumah kita ini. Secara mereka kan orang kaya,"


Mendengar hal itu Sella mengidik ngeri. Habislah dia besok berdiri sepanjang hari.


Ternyata menikah itu tak seenak yang dia bayangkan dulu.

__ADS_1


....


__ADS_2