Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Rencana sella


__ADS_3

“Kamu tidak pergi kerja?” Bara heran melihat istrinya terlihat belum juga bersiap-siap. Padahal hari sudah menunjuk jam delapan pagi.


“Oh, aku belum cerita ya. Aku udah gak kerja Mas, udah di pecat.”


Bara hanya menatap istrinya sebentar. Dia tidak ingin bertanya banyak, tak ingin terlalu akrab karena hubungan baik ini ia terpaksa ia jalani demi keinginan gadis ini.


“jadi... Kamu gak ingin bertanya kenapa aku di pecat?” pancing Sella ingin mengajak suaminya mengobrol.


Bara kembali mendongak, “apa ada yang penting? Kamu di pecat itu berarti ada membuat kesalahan.”


Mendengar jawaban suaminya Sella tak bisa berdecak kesal. Mentang-mentang berpengalaman menjadi bos di perusahaan, seenak itu menjawab. Kan di minta di perhatian dikit gitu loh.


“Hari ini arya gak pulang lagi? Aku lihat dia dari kemarin-kemarin jarang di rumahnya,”


Belahan Bara mengelap bibirnya setelah selesai menghabiskan sarapan. Sebenarnya ia juga ingin menjelaskan lagi pada Sella, jika mungkin mulai hari ini dan seterusnya Arya akan tinggal bersama bundanya.


“Sepertinya dia akan jarang di rumah,”


“Kenapa?” ah, padahal ia sudah bertekat ingin dekat dengan anak tirinya itu, tapi ternyata ibu kandungnya malah tak mengizinkan.


“Kamu tidak lupakan, kamu bilang tidak suka Jika bundanya arya datang kemari. Karena itu saya setuju saat Lisa membawa Arya,” ujar Bara menjelaskan.


Sella tak menjawab. Ia jadi berpikir, benar juga dia tidak suka dengan Lisa yang sering datang kesini, tapi ia juga tidak suka jika suaminya akan selalu bertemu dengan wanita lain di luar sana tanpa di ketahui.


Lalu sekarang bagaimana?


“Lalu kalian akan sering bertemu di luar?” tanya Sella.


“Kenapa? Jangan mengulang pembicaraan yang sama lagi, Sel. Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan mempermasalahkan...,”


“Stop! Jangan buat aku seolah benar-benar berjanji sama kamu mas. Seperti tentang pernikahan kita... Ingat semua hal di ambil satu pihak, dan aku...,”


Bara memotong, “tidak usah bicara lagi. Kamu hanya tahu bertengkar,”


Bara langsung mengambil tas kerjanya. Ingin berlalu pergi tapi malah kembali di panggil oleh sang istri.

__ADS_1


“Apa lagi?”


Sella tersenyum lebar sembari menyodor tangannya. “Jangan galak-galak, mas. Kan sudah aku bilang, aku mau menjadi istri yang baik. Aku cuma mau salim,” ujarnya langsung mengambil tangan Bara untuk ia cium.


Bara hanya memutar matanya malas. Dia tidak tahu apa yang merasuki istrinya itu bisa begitu berubah pikiran ingin memperjuangkan pernikahan ini.


***


“Kenapa mengajakku ke temuan? Emangnya kamu gak kerja, Sel?” Embun datang dengan penampilan barunya. Terlihat lebih cantik dengan kepala sudah memakai hijab.


Sella mengernyit heran, ada angin apa sampai-sampai temanya ini tobat nasuhah.


Sella tersenyum cemberut, “aku sudah di pecat, Em. Ngomong-ngomong kamu gak bawa anak kamu?”


“Eh, tidak. Kebetulan hari ini anak aku sedang di jemput neneknya baut dibawa berlibur. Jadi aku bebas hari ini,” ujar Embun tertawa kecil.


“Kamu terlihat seperti orang di penjara saja,” Sella menggeleng tak percaya, “Apa punya anak memang sesulit itu?”


“Tidak juga. Selain capek, tapi aku bahagia melihat dia bermain-main di depan mata aku. Kamu tahu tidak, sebenarnya aku itu lebih senang jika bocah itu bersama ku dari pada dibawa neneknya, tapi ya mau bagaimana lagi.”


Menjadi seorang ibu itu memang sesuatu yang sangat hebat. Meskipun seharian ia merasa hidupnya seperti babu, tapi dia tetap saja bahagia tak akan ada keluhan dan rasa bosan dalam dirinya. Karena apa? Karena kebahagiaan ia telah terselip pada kasihnya pada anak-anaknya.


“Jadi, hari ini kamu pasti bisa menemani aku jalan-jalan kan?”


“Memangnya kamu mau kemana?”


Sella tersenyum kecil. “Hari ini aku berencana menemui seseorang. Jadi apa kamu bisa menemaniku?”


“Tentu saja. Tapi kamu tahu kan, sel. Semua di dunia ini tidak ada yang gratis,” Embun mengedipkan matanya.


Sella mengangkat bahu acuh, lalu dia mengancungkan kartu hitam yang dia dapatkan dari suaminya.


“Aku ada kartu ini, hari ini aku akan mentraktir kamu sepuasnya. Bagaimana?” tanya Sella


Embun yang melihat kartu di tangan temnya hanya bisa terbelalak. “Oh, astaga. Kamu benar-benar menjadi orang kaya semenjak menikah, Sella. Suami kamu pasti memanjakan kamu... Oh, bertapa bahagianya hidup kamu kawan.”

__ADS_1


Sella hanya tersenyum puas. Meskipun pujian Embun itu tak sepenuhnya benar, soalnya uang dia pakai ini harus di bayar dengan sesuatu yang cukup mahal juga. Jadi dia tidak terlalu terkena dengan semua ini.


“Bahagia tidaknya hanya aku dan tuhan yang tahu. Jadi bagaimana? Apa kamu bau?”


Embun yang tidak mengerti dengan ucapan itu hanya acuh saja. Dia mengangguk setuju, memangnya siapa sih yang tidak suka di traktir. Apalagi melihat temanya itu cukup banyak uang, jadi dia tidak perlu sungkan seperti dulu lagi yang takut temanya itu kehabisan uang.


“Tentu saja aku mau,”


***


Sella menatap anak-anak kecil yang berlarian, tak ada kesenangan di wajahnya, hanya ada raut dingin yang tidak ada ramah-ramahnya.


“Jadi siapa yang ingin kamu temui di sini?” Embun mulai cerewet bertanya, “disini hanya ada anak-anak dan guru saja. Kamu bertemu siapa sebenarnya?”


Sella tidak memedulikan pertanyaan embun. Saat dia melihat seseorang yang di carinya, ia langsung berlari mendekati bocah kecil itu.


“Bunga?” panggil Sella.


Melihat orang asing yang mendekati dirinya, gadis kecil itu langsung bersembunyi di belakan guru pembimbingnya.


“Maaf, Mbak. Anda siapa ya? Kalau di sekolah ini gak boleh sembarangan bertemu dengan anak-anak ya, Mbak.”


Sella memutar matanya malas. Guru itu membuat dia kesal saja, tapi dia juga tak ingin berbuat kesalahan. Nanti bisa-bisa dia gak di bolehkan bertemu Bunga.


“Saya kakaknya, Bu guru. Jadi saya bukan orang sembarangan,” ucap Sella sarkas.


Meskipun dia jijik mengakui gadis kecil itu sebagai adiknya. Tapi dia tak punya cara lain.


“Adik? Setahu saya...,”


“Udah lah, Bu. Saya baru-buru, hanya mau bicara sebentar dengan Bunga.” Tekan Sella tak senang.


Merasa masih enggan jadi guru itu terpaksa setuju asalkan Sella berbicara masih di bawah pengawasan mata guru itu. Sella tak keberatan, ia hanya ingin bicara sebentar, asalkan pembicaraannya tak di dengar oleh orang lain, dia merasa tak masalah di awasi dari jauh.


Melihat guru itu menjauh, Sella langsung tersenyum devil pada bocah kecil itu.

__ADS_1


“Jadi kamu Bunga anak haramnya papa..?”


****


__ADS_2