Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Sakit dalam rindu


__ADS_3

“Dari mana kamu? Sampai-sampai pulang semalam ini,”


Sella hampir saja membanting ponselnya saking terkejut melihat keberadaan Bara yang menunggu di ruang keluarga. Terlihat Bara menunggunya seorang diri. Tidak ada Arya sang anak tirinya, mungkin itu bocah sudah tidur. Pikir Sella.


“Loh, Mas Bara belum tidur?”


“Jangan mengalih pertanyaan saya, Sella. Kamu dari mana?” Bara terlihat tak sabaran, kesal sendiri dia melihat lagi-lagi istrinya pergi dan pulang di malam yang cukup larut.


Pikiran buruknya sudah memikirkan hal apa saja yang dilakukan oleh gadis itu. Ya, begitu tidak percaya dengan perempuan yang telah menjadi istrinya.


“Kamu kenapa sih, Mas. Kok sok perhatian gini?” dia jadi ingat dengan pertengkaran mereka di pagi hari tadi.


Tiba-tiba Sella menjadi tak mood, ia menatap jengah pria yang egois di depanya.


Tapi... Bagaimana dengan ucapan Mala tadi siang?


Apa dia perlu bersikap baik seperti istri sesungguhnya? Tapi bagaimana jika nanti dia benar-benar baper dan cintanya malah bertepuk sebelah tangan.


“Apa susah menjawab dengan benar saja, memangnya apa yang sedang kamu sembunyikan?”


Sella menarik nafas panjang. Tolong jangan di ingatkan lagi tentang apa yang terjadi, karena sesungguhnya di pulang kesini saja itu butuh kewarasan yang banyak.


Dan saat Bara kembali bertanya apa yang terjadi?


Jawabnya hanya satu. Saat ini perasaan dan otaknya sedang hancur karena luka yang tidak bisa dia katakan. Yang terjadi tak perlu di ceritakan lagi, itu hanya akan membuat dirinya sesak dan ingin menangis.


Tapi sayang tempat dia tidak punya bahu tempat bersandar dan menumpahkan kesedihannya. Sekarang ia hanya bisa berdiri di kakinya sendiri, menerima dan menahan apapun yang datang.


Andaikan... Ya, andaikan saat ini yang berada di sisinya Kaif... Mungkin pria itu akan sangat peka dan langsung memeluk dirinya.


Ahh.. Dia merasa rindu... Rindu dengan perhatian dan kasih sayang mantan kekasihnya dulu.


“Kenapa melamun. Atau kamu...,”


“Jangan berpikir macam-macam, Mas. Aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan. Tolong jangan samakkan aku dengan dirimu,” ujar Sella kesal.


“Emangnya kamu tahu apa yang saya pikirkan? Sebagai suami apakah salah saya bertanya kamu dari mana?”


Ya, memang tidak salah. Yang jadi masalahnya sekarang itu dirinya masih kesal dengan suminya itu.


“Aku dari rumah Mama,”


Bara memicingkan matanya, mencari kebenaran dari mata bulat itu. “benar? Tapi bagaimana..,”

__ADS_1


“Sudahlah. Aku sudah memberi alasan yang jelas. Kenapa kamu masih curiga.” Sella merasa tak suka saat diinterogasi seperti ini, “sekarang giliran aku yang bertanya. Ngapain aja kamu sama mantan Istrimu tadi?”


Diam.


Bara tak membalas lagi. Dia terlihat balik kesal saat sang istri kembali menyinggung hal yang sama lagi.


“Kenapa diam? aku kan bertanya.” Sella membalik ucapan Bara, “Pasti kalian Heppy sekali ya hari ini.”


Itu sindiran. Setelah mengatakan itu Sella berlalu ke kamarnya. Meninggalkan Bara yang termenung.


Dia menjadi ingat dengan ucapan Maminya tadi siang.


*****


Semua yang tampak indah belum tentu aslinya membuat bahagia.


David. Pria yang sudah berumur hampir kepala lima itu menatap sendu wanita yang sedang melangkah pelan di pusat perbelanjaan itu.


“Mas, kamu lihat apa?”


David tersentak. Dia melihat istri barunya dan beserta bocah lima tahun yang sedang menatap dirinya juga.


“Tidak ada,”


‘Mbak Zana?’


Tati berusaha menata suasana hatinya. Dia tidak cemburu, malah ia merasa malu jika sampai di lihat oleh istri pertama suaminya itu.


Ia dari awal menyadari menjadi wanita kedua memang tidak mudah. Tapi karena rasa cinta dan dirinya sudah terlanjur mengandung anak David, karena itu ia teguh berada di posisi ini.


David terlihat meneliti Zana dengan mata penuh kerinduan. Tapi dia tahu, jika dirinya datang dan menghampiri dia, pasti Zana akan marah dan pergi menjauhinya.


“Papa...,”


David menoleh melihat putri kecilnya yang sedang berceloteh. “Iya,”


“Siap makan kita main lagi, Ya papa.” Bunga menarik baju sang Papa dengan senang.


David terlihat tak terlalu mendengarkan ucapan Bunga, karena dia masih sibuk melihat Zana yang juga ikut masuk ke dalam restoran yang sama dengannya.


“Mas... Kamu gak mau menghampiri mbak Zana?” tawar Tati, “aku tahu pasti kamu mau bicara sama dia.”


“Sepertinya gak usah, Dek. Dia pasti gak akan mau,” ujar David.

__ADS_1


Ia bahkan masih belum tahu bagaimana hubungannya dengan sang istri. Setelah perselingkuhan dan pernikahan sirihnya terkuak Zana tak lagi mau bicara dengannya.


Lagi pula terakhir kali mereka bertemu terjadi pertengkaran hebat, saat itu ia terlalu emosi sehingga ia tanpa sadar telah menjatuhkan talak pada Zana.


Tapi David menganggap itu kesalahan. Dalam hatinya dia tidak niat sedikit pun, jadi dia menganggap kata talak itu tidak sah.


Tapi masalahnya sekarang....


“Mas, sepertinya itu putrimu juga ikut.” Tati menunjuk dua perempuan yang datang menyusul Zana.


Melisa dan Sella. Ya kedua anak perempuan David.


David terpaku. Dia merasa dilema, haruskah dirinya pergi kesana. Tapi bagaimana dengan Tati dan Bunga?


“Sudah, mas pergi saja bertemu dengan Mbak Zana dan anak-anak, Mas. Biar aku sama Bunga pulang duluan saja,” Tati tahu bagaimana perasaan David dan bagaimana posisinya. Jadi dia memilih mengalah dan memberi kesempatan pada suaminya.


David tidak melarang. Diam-diam dia malah bersyukur dengan sikap Tati yang begitu pengertian. Saat dia menatap Zana tak sengaja tatapan mereka bertemu, saat dia mencoba tersenyum wanita itu malah membuang wajah.


.....


“Mama kenapa? Kok wajahnya sedih lagi. Kita kesini kan mau Heppy-Heppy.” Melisa menyentuh bahu sang mama yang tampak melamun.


“Buat apa kita jauh-jauh pergi kesini, kalau pada akhirnya kita tetap saja tak bisa melupakan Dia.”


“Maksud Mama?” Sella tak mengerti. Tapi saat sang ibu menunjuk satu arah di pojok restoran ia menemukan apa penyebab Mamanya kembali bersedih.


“Papa...,”


Melisa terkejut, “apa, papa? Dimana?”


Mereka bertiga terdiam melihat David datang menghampiri mereka. Tiba-tiba Zana merasa tegang, entah mengapa ia sedikit gugup bertemu dengan David.


“Hay... Apa Papa boleh gabung sama kalian?”


Zana memejamkan matanya saat ia kembali mendengar suara itu lagi. Rasanya ia ingin menangis sekarang, bertapa rindunya dia dengan sosok lelaki yang telah mengecewakannya ini.


“Papa... Kok ada di sini?” Melisa yang lebih dulu bisa menguasai diri. Dia langsung bertanya pada sang papa, berharap situasi tak canggung lagi. “ayo duduk, Pa.”


David tersenyum senang mendapat sambutan baik dari sang putri. Tapi saat dia menoleh pada Sella sang putri bungsu, David serasa ditikam belati.


“Sel...,”


“Ngapain Kesini? Bukanya tadi Papa sama istri muda mu itu.” Ujar Sella ketus.

__ADS_1


“Sel... Papa...,”


__ADS_2