Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Perjanjian yang ditolak


__ADS_3

Pernikahan seperti apa yang dia jalani nanti. Pertemuan demi pertemuan yang mereka lakukan sebelum menikah, tak terlihat jika pria yang akan menjadi suaminya terlihat menyukainya.


Sella tertunduk. Dia merasa gelisah. Hari-hari yang dia lalui menjadi menakutkan membayangkan hari pernikahannya yangbsemakin dekat.


Pernikahan tinggal menghitung hari, tapi sampai sekarang ini Papa dan Mamanya tak terlalu peduli dengan dirinya. Mereka malah sibuk dengan urusan persiapan pernikahan.


Terlalu bahagia kedua orang tuanya, sampai lupa menanyakan apa putrinya juga bahagia?


"Saya ingin membicarakan tentang pernikahan ini...,"


Setelah dua menit sama-sama terdiam. Akhirnya Sella memulai terlebih dahulu pembicaraan yang terlampau canggung ini.


"Pernikahan? Apa ada masalah?"


Sella merasa muak melihat wajah datar itu. Dia malah bertanya apa ada masalah? Sudah jelas masalahnya di sini adalah hubungan di antara mereka berdua.


"Om serius mau menikah sama saya? Gak mau mundur gitu?"


Sejak saat pertama mereka bertemu memang sampai sekarang Sella masih memanggilnya dengan sebutan Om. Ya, dia malas memangil Bara dengan sebutan Mas, sedangkan merka masih menjadi orang asing.


Meskipun terkadang Bara merasa jengkel, tapi tetap saja diam tak protes. Ah... Dia tentu saja takut melawan orang tua.


"Memangnya kenapa. Apa kamu ingin mundur sekarang?"


Sella mendengus kesal. Pria ini sangat tahu dia tidak bisa melakukanya, malah balik bertanya.


Tentu saja dirinya tidak akan mungkin mundur dan membuat orang tuanya malu. Dia sudah terlanjur basah sekalian masih saja. Meskipun menikah nanti tidak bahagia, dengan paksa sepertinya ia tetap harus menjalaninya.


Tentang bahagia atau tidaknya lihat saja nanti. Semoga saja dia bisa membuat pria dingin itu berubah pikiran.


"Tidak," ujar Sella pelan. "Hanya saja...Om sepertinya tidak bahagia."

__ADS_1


"Bisa kamu berhenti memanggil saya dengan sebutan Om! Saya tidak pernah menikah dengan Tante mu!"


Sella menjadi tercengang melihat sorot mata Bara yang terlampau tajam. Dia berdehem pelan, merasa canggung karena sudah membuat calon suaminya marah.


"Itu... Kamu kan memang sudah tua," ujar Sella sedikit berbisik, tapi masih mampu di dengar oleh pria di depannya.


Bara tak menanggapi. Dia malah terlihat tak perduli dengan perkataan Sella yang mengatinya tua.


"Jadi... Kamu sudah tahu kenapa saya meminta bertemu hari ini?"


"Tidak," Sella memang belum tahu. Padahal sekarang dia sedang dalam masa pingitan, tapi calon suaminya ini malah mengajaknya bertemu.


"Kalau begitu saya ingin membicarakan.... Perjanjian pernikahan,"


Deg


Sella tak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan calon suaminya.


Memangnya ada ya?


Enak saja pria ini bicara. Apa dia pikir dirinya mainan, dia tak akan setuju dengan hal gila ini. Jika perlu ia akan melapor pada Papanya nanti, biar papanya tahu pria yang baik seperti apa yang dia sebut!


"Kau bercanda, Om." Sella tersenyum sinis, "aku lebih tertarik jika Om berani bilang sama Papa untuk membatalkan pernikahan ini."


"Kau ingin membuat keluarga Saya marah?"


Bara berdecak kesal. Ternyata gadis ini tak semudah yang dia pikirkan untuk menghadapinya.


"Lalu kamu ingin mempermainkan saya, Om?! Enak saja!" Sungutnya tak ingin kalah. "Om hanya dapat dua pilihan. Menikah atau Om sendiri yang bilang sama Papa tak ingin menikah!"


Dahi Bara berkerut. Tak percaya malah dirinya yang balik di ancam, rencananya dia ingin bertemu gadis ini untuk membicarakan pernikahan ini.

__ADS_1


Setelah berpisah dengan istri pertamanya, rasanya dia belum bisa membuka hati untuk wanita lain. Itulah kenapa ia ingin menegaskan pada gadis ini, JANGAN PERNAH MENGHARAPKAN CINTANYA!


Atau dia akan terluka sendiri nanti.


Ehh... Sekarang malah dirinya yang diancam. Bara yang melihatnya Hanya bisa mendengus geli.


"Kau jangan menyesal nantinya jika tak bahagia menikah dengan saya!" Ucap Bara lagi.


Bara menatap dingin melihat raut wajah gadis itu memucat. Seakan tahu apa isi pikiran gadis itu, dia dengan santai menyerigai.


"Apa Om berniat menyiksa saya setelah menikah nanti?" Tanya Sella takut-takut.


"Kamu pikir ini Drama! Yang benar saja,"


"Kalau begitu tidak masalah. Asalkan tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, aku akan mencoba bertahan."


"Kau yakin?" Tanya Bara tak percaya.


Sella tersenyum kecil, "jika tidak yakin aku tinggal selingkuh kan. Kamu tidak bisa membahagiakan ku, maka aku akan cari di luar."


Tangan Bara mengepal mendengar ucapan itu. Selingkuh ya?


Meskipun dia benci di tunggalkan, tapi masalah ini berbeda.


Apa yang dikatakan Sella benar. Tidak mungkin nanti gadis itu menghabiskan sisa hidupnya bersama dia yang tidak memiliki perasaan.


"Terserah kau saja, aku tidak peduli!" Ujarnya pada akhirnya.


Sella tersenyum lebar. itu artinya tidak ada yang akan mengekangnya setelah menikah nanti.


meskipun dia sendiri tidak yakin bisa melakukan hal keji itu. Tapi sekarang ia hanya ingin mewanti-wanti saja, agar suatu hari nanti tidak ia saja yang di rugikan dengan perjodohan ini.

__ADS_1


__ADS_2