Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Sayang gak cinta


__ADS_3

Bara mengirim satu sopir dari kantor untuk menjemput Istri dan anaknya. Ia ingin membawa istri barunya itu untuk mengunjungi


Sella terdiam saat dia baru di beri tahu oleh Mami mertuanya. Padahal tadi pagi Bara tidak ada mengatakan apa-apa, tapi siang ini dia malah di ajak pergi ke pertemuan penting malam ini.


“Itu masih kerabat Ayahnya Bara yang merayakan pesta. Kamu wajib menemani suami kamu, Sel. Sekalian nanti mengenal diri pada keluarga Papinya Bara.”


Itu ucap Mami Rena yang datang ke rumah ini untuk menyuruh menantunya segera bersiap-siap secara langsung.


Mungkin dia takut memantunya tidak siap dan menolak untuk ikut pergi, karena Itu secara khusus dia sendiri yang menyampaikannya.


“Kamu sudah siap?” Sella bertanya pada anak tirinya itu,


“Aku harus memanggil mu siapa?” Arya menatapnya dengan wajah datarnya, “Ayah tidak bilang apa-apa tentangmu padaku... Bibi, aku harus panggil kau dengan sebutan apa?”


Sella yang sedang mengambil tas tangannya segera mendongak.


“Benarkah ayahmu tidak bilang apa-apa tentang saya?”


Sudah satu minggu menjadi istri dari seorang Bara. Tapi dengan anak tirinya ini Sella tak bisa begitu dekat, terlihat Arya yang menjaga bayas dan sedikit menghindarinya belakangan ini, Sella ikut menjadi sungkan pada bocah SMP ini.


“Kalau begitu panggil saja saya sesuka hatimu... Bunda misalnya,”


“Tidak! Aku sudah punya bunda,”


Ehh... Dia sudah punya bunda?


Sella menatap tak percaya. Seolah dia lupa jika anak yang berada di depannya ini adalah anak tirinya, tentu saja dia punya bunda lain.


Mereka segera berangkat menuju kantor suaminya. Sella yang masih masa cutinya jadi dia bebas setiap harinya, berbeda dengan satu minggu lagi. Nanti dia pasti akan sibuk.


“Apa kita sudah sampai pak?” ia bertanya pada sang sopir yang sudah menghentikan mobilnya.


“Iya, Nona.”


Sella menatap ke depan gedung. Dia bingung, apa dirinya harus masuk dan menyusul suaminya ke ruangan? Atau tunggu di sini saja?


“Ini gimana, Pak? Saya harus masuk atau tunggu di sini?”

__ADS_1


“Wah, kalau masalah itu saya kurang tau, Non. Bapak tadi gak bilang apa-apa,” sang sopir juga terlihat bingung seperti dirinya. “Atau Non Sella telepon saja pak Baranya.”


Saranya sebenarnya bagus sih... Tapi masalahnya dia gak berani telepon. Apalagi dia tidak punya pulsa sekarang.


Mau mengakui, dia malu!


“Kalau begitu saya sama Arya masuk saja ke dalam deh, Pak.”


Baru juga ia membuka pintu mobil, bayang Bara yang keluar langsung menghentikan niat Sella yang semula.


“Kenapa, Non?”


“Gak jadi pak, orangnya udah keluar.” Tunjuk Sella pada suaminya uang berjalan santai dengan menteng tas kerjanya.


Ganteng sih... Tapi sayang gak cinta!


Sella terkekeh geli dengan pemikirannya sendiri.


Sejak satu minggu menjadi istri dari Bara Prayoga dirinya memang menjadi sedikit aneh. Statusnya yang di gantung ini membuat dia lupa diri... Alih-alih menganggap Bara seperti suami sungguhan, mereka berdua jika berbicara malah sering bersikap asing dan berdebat tak tentu.


“Kenapa kau senyum-senyum?”


Sella terkejut saat mendapati suaminya sudah duduk manis di sampingnya.


“Loh... Kapan masuknya? Dan itu... Kok Arya sudah pindah ke depan?”


Bara yang mendengar pertanyaan istrinya hanya berdecak malas.


“Makanya jangan melamun Jorok. Jadi gak sadar kan!” decak bara tak senang, “Ayo pak, jalan. Kita harus ambil baju di rumah Mimi dulu,”


Tentu saja Bara berbeda dengan Sella. Jika istrinya itu sudah berdandan dengan cantik, sedangkan dia baru pulang kantor dan masih memakai baju kerja. Jadi tidak etis jika dirinya langsung mengunjungi pesta orang dalam keadaan seperti ini.


“Ke rumah Mami? Tapi tadi dia sudah datang ke rumah kamu tadi... Kenapa gak sekalian dia titip sama aku ya?”


“Lalu kamu menyurih saya berganti pakaian di dalam mobil? Yang benar saja!”


Sella berdecak malas. Jika begini menyesal juga dia berdandan cepat-cepat, jika tahu mending dia mengias wajahnya di rumah mertuanya saja tadi. Kalau begini kan berakhir luntur juga Make up nya.

__ADS_1


“Aku merasa seperti di permainkan!


....


Pesta ini terasa sedikit aneh bagi Sella dengan pesta yang dulu sering ia hadiri.


Jaka dulu pesta kantor yang setiap tahun mereka rayakan tentu saja menyenangkan. Tapi kini... Jangan tanya lagi, dari tadi rasanya ia sudah ingin menghilang dari tempat ini.


Saling menonjol kemewahan dan kekayaan, yang Sella lihat di pesta ini para wanita terlalu glamor dan....


Ia tidak tahu bagaimana mengabarnya. Ini terlalu glamor. Dan lagi pembicaraan mereka hanya membahas seputar bisnis dan harta yang mereka miliki. Sella benar-benar merasa dirinya tak pantas berada di kumpulan sosialita ini.


“Kamu kenapa?” Bara yang sedang menggandeng istrinya mengerut kening melihat kegelisahan gadis di sampingnya.


“Apa kita sudah bisa pulang? Aku merasa tak nyaman di sini,”


“Kamu tidak lihat pesta baru di mulai. Dan lagi Arya juga baru bertemu dengan kakek buyutnya. Tahanlah sebentar lagi,”


Ia hanya bisa pasrah sekarang. Tak mungkin juga dia pergi pulang duluan dan meninggalkan suaminya.


Sella menatap Arya yang terlihat di keliling oleh beberapa orang dewasa. Mungkin mereka keluarganya ayah Bara, terlihat mereka yang begitu sayang pada sang cucu laki-lakinya.


Mereka berdua belum sempat menyapa, kecuali sang paman suaminya pemilik pesta malam ini. Mungkin karena mereka masih sibuk dengan tamu yang lain, Sella pikir jadi Bara terlihat enggan menyapa kakeknya.


“Ayo ikut...,”


“Eh... Kemana?”


“Kamu lupa pesan Mami? Kamu harus berkenalan dengan keluarga Kakek. Setelah itu baru kita pulang,”


Ia yang mendengar kata pulang langsung membuatnya semangat.


“Baiklah, Ayo!”


Sella pikir itu tak akan lama. Cukup mereka berkenalan saja dan setelahnya pulang.


Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi...?

__ADS_1


__ADS_2