
Kantor benar-benar tempat yang menyeramkan buat Sella sekarang. Bisa-bisanya dia menjadi bahan gibah selama beberapa hari ini di kantor ini.
Meskipun dia sudah berusaha menjelaskan, tapi tetap saja mereka tidak percaya. Apalagi mereka juga marah karena dia tidak mengundang satu pun rekan kerjanya.
Sebagai perempuan Sella cukup malu dengan berita miring itu. Jika dia bisa membalas dia juga ingin membuat Hera merasakan seperti durinya ini, mungkin nanti lebih parah.
Tapi dia tidak punya aib gadis itu, bagaimana mungkin dia bisa membalasnya?
....
“Ada apa?” Ridwan yang satu ruangan dengan Sella bertanya dengan bingung melihat perempuan itu mengetuk-ngetuk kepalnya di meja kerja.
“Gak usah sok gak ngerti, Mas! Kamu pasti sudah dengar gosip laknat itu kan?!” tanya Sella gegas.
Ridwan terkekeh mendengarnya, “Iya sih. Tapi aku masih belum percaya ternyata kamu sudah nikah, sama dudu tua lagi.”
Ucap Ridwan cukup membuat Sella tersinggung. Memang sih suaminya sudah tua, tapi entah kenapa saat orang lain menjelekkannya dia tidak suka ya?
“Mulutmu, Mas! Dia belum tua tahu,”
“Loh... Memangnya umur dia berapa?” Ridwan jadi ikut penasaran. Kan gosip yang beredar suami Sella tua, dan di tambah dengan Sella yang merebut pria itu dari istri sahnya. Gadis ini sekarang benar-benar di pandang buruk oleh orang-orang kantor sekarang.
__ADS_1
“Dia... Sepetinya baru 35 tahun, Mas. Baru setengah matang kan?”
Sebenarnya Bara memang belum terlalu tua. Hanya saja karena dia kurus dan tubuh yang kurang di perhatikan, jadi terlihat lebih tua dari usianya.
Itulah mengapa saat pertama bertemu Sella merasa ilfil. Tak pernah dia sangka ternyata kaya, tapi sungguh tidak cocok dengan gayanya yang terlalu tua.
“Tapi dia tetap saja tua untuk mu, Sel. Jarak umur kalian 12 tahun dong,” ucap Ridwan. “Memang benar ya, kamu mengerubut dia dari istrinya?”
Sella mendelik. Gosip sialan itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.
“Tentu saja itu tidak benar. Dia bahkan sudah bercerai dengan istrinya bertahun-tahun! Ini semua karena Hera sialan itu!”
Ridwan mengangguk mengerti. Meskipun begitu, di dalam hati sepertinya pria itu masih meragu dengan ucapan Sella.
.....
Sella merasa lebih baik setlah selesai membersihkan tubuhnya.
Penatnya seharian ini bekerja dan ditambah dengan gosip yang membuat ia stres. Syukurnya sekarang ia bisa dikit rileks. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
“Mama,” diluar terdengar ketukan pintu dan suara arya memanggil lirih.
__ADS_1
Sella yang sudah bersiap untuk tidur menjadi terganggu. Dia segera bangkit dengan decakan kesal di bibir tipisnya.
“Ada apa?” tanya Sella, “Kamu ada perlu sama saya?”
Anak sudah umur 13 tahun, laki-laki lagi. Sella merasa dia tidak perlu terlalu akrab dengan anak tirinya ini. Cukup bersikap sopan saja, toh jika terlalu menye-menye akan terasa aneh lihatnya.
“Itu... Ayah suruh panggil,” ucap Arya. Setelahnya bocah itu langsung melengos pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Benar-benar dingin seperti sikap ayahnya.
Sella segera ikut menuju ruang tengah. Saat disana ia malah tidak menemukan suaminya itu.
“Loh, kok gak ada?” tanya Sella bingung. “Jangan-jangan di kerjain aku sama tuh bocah” gerutu Sella tak terima.
“Cari apa, mbak?” asisten rumah tangga Bara bertanya dengan lembut.
“Oh, itu bik. Bapak mana?” tanya Sella pada Bik Neti.
“Bapak Bara? Sepertinya di taman belakang, mbak.”
Sella mengerti, jadi dia langsung melangkah menuju taman belakang yang memiliki kolam renang.
Awalnya Sella tersenyum saat menemui keberadaan suaminya itu. Tapi saat melihat Bara tidak sendiri di sana, berlahan senyum gadis itu langsung surut.
__ADS_1
‘wanita duduk di samping mas Bara siapa?’