Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Mantan meresahkan


__ADS_3

Benar kata orang-orang, wanita itu makhluk yang paling perasa dan juga mudah bawa perasaan. Mereka mudah memaafkan, tapi juga mudah terluka dan menyimpan dendam. Ah...atau lebih tepatnya sulit melupakan.


Sella kali ini tak menunggu kepulangan sang suami. Dia memilih mengurungkan diri setelah pertengkaran hebat tadi. Saat dia mendengar suara mobil memasuki garansi, Sella Tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


“Dia dari mana?” Dia bahkan tidak tahu jika suaminya itu pergi keluar tadi.


Melihat Bara tak ada niat sesikitpun untuk meminta maaf padanya membuat Sella lagi-lagi merasa patah hati.


Dia menatap sendu Bara dari balik kaca, menatap sendu bahu lebar yang tak pernah menjadi tempat bersandarnya di kala merasa sedih. Yang ada pemilik bahu itu yang sering membuatnya menangis.


Ternyata menikah dengan seorang duda ujiannya lebih berat ternyata. Sella menarik nafas panjang.


“Lebih baik aku tidur saja,”


Sella memilih tidur lebih dulu. Sedangkan Bara yang baru kembali tidak langsung masuk ke kamar Sella untuk menemui istrinya, tapi dia memilih mandi dulu dan mengganti pakaian.


Saat dia datang ke kamar Sella, ia sudah melihat wanita itu tertidur nyenyak dengan mata sembabnya. Ia mengusap wajah cantik itu dengan lembut.


“Maaf... Saya minta maaf membuat kamu lagi-lagi kecewa dengan saya. Maaf, saya berjanji... Saya berjanji akan berlaku adil untuk kalian berdua.”


Ya, jika dia di minta untuk memilih salah satunya Bara tak yakin ia mampu. Ia rasa dirinya mulai terpikat dengan pesona Sella yang begitu sabar menerimanya, dan di sisi lain cintanya pada Lisa tidak bisa ia hapus begitu saja.


“Bisakah aku mendapatkan kalian berdua, saya berjanji akan selalu adil. Saya berjanji, Sel... Saya harap kamu bisa menerima keputusan aku ini.”


Bara berbaring di samping Sella, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Malam ini ia ingin seperti ini saja, tanpa harus bertengkar lagi seperti biasanya.


****

__ADS_1


Saat pagi Sella terbangun ia terkejut mendapati lengan seseorang sudah melingkar di pinggangnya. Ia segera berbalik, melihat Bara yang juga sudah terbangun dan membalas tatapnya membuat Sella benar-benar terkejut.


“Eh, mas Bara?” Sella segera melepas lilitan tangan suaminya dengan kesal, “kamu kok bisa ada di sini, Mas?”


“Kenapa, Apa ada masalah?”


Sella menatap kesal. Ia ingat sebelum tidur sudah kunci pintu, tapi Bara... Ah, dia lupa pasti suaminya ini punya kunci cadangan yang lain.


Ia segera berusaha menuah, “lepas, aku mau ke kamar mandi, Mas.”


“Nanti saja. Kamu mau menghindari saya?” bukanya melepaskan, Bara semakin mengeratkan pelukannya. “Saya minta maaf,”


Sella diam saja. Dia ingin melihat sejauh mana Bara bisa melakukannya. Tapi apa yang mau di harapkan, pria itu bahkan hanya mengucap sebatas itu, lalu diam dan memeluknya saja membuat Sella mendesah pasrah.


“Apa yang dimaafkan, Mas? Kesalahan yang mana?” Sella menatap sang suami dengan sendu, “aku harus memaafkan perbuatan kamu yang berbohong dan pergi dengan mantan kamu, atau memaafkan kesalahan kamu yang sudah memfitnah aku di depan Mami Rena?”


Diam.


“Sella,”


“Aku tahu kamu belum bisa menerima aku di hati kamu, Mas. Tapi haruskan sekejam ini perlakuan kamu sama aku?”


“Saya minta maaf. Kamu seharusnya mengerti, saya melakukan ini karena...,”


“Karena masih mencintai dia dan tidak bisa menerima aku. Mas! Kalau kamu gak mampu jadi suami kita cerai saja, pergi sana sama mantan kamu itu.”


Melihat Sella kembali menggebu kemarahannya, Bara hanya bisa meringis pasrah.

__ADS_1


“Kamu ngomong apa. Saya tidak suka kamu membahas perceraian,”


“Tapi sikap kamu selalu menyakiti aku, Mas.” Keluhnya, “lagi pula kamu bahkan sampai berbohong berkali-kali padaku. Sebenarnya aku tahu kalau kamu sering menghabiskan waktu bersama Mbak Lisa ketimbang bersama aku.”


Bara melotot mendengar perkataan sang istri, “kamu tahu dari mana?”


“Gak penting aku tahu dari mana, aku bisa tahu itu dengan mata aku sendiri. Jadi mas Bara gak perlu berbohong,”


Bara merasa malu sendiri, tapi lebih dari itu ia merasa bersalah pada Sella. Ia tahu selama ini egois, tapi ia juga tidak bisa melepas salah satu dari dua wanita yang di cintainya.


“Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Kamu pasti mengerti, saya melakukan ini karna permintaan Arya juga.”


Apa kalian pikir Sella akan langsung percaya?


Tentu saja tidak. Dari perlakuan Bara saja yang berbeda padanya dan juga Mabk Lisa sudah cukup membuat ia menyadari.


"Bagaiamana kalau Arya bawa kembali saja, Mas? Lagi pula gak enakkan kamu bertemu terus dengan wanita yang bukan mahram buat kamu," ujar Sella memberi usulan.


Sella bisa melihat raut keberatan dari sang suami. "saya tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena kamu dan Lisa itu sama posiainya di dalam hatiku. Salla bagaiamana kalau...,"


Bara berhenti berucap saat mendengar suara ponselnya berbunyi di atas nakas. Ia langsung menyambar benda pipih itu saat tahu siapa yang meneleponya.


"Kamu mandi dulu saja ya, saya angkat telpeon dulu." setelahnya Bara langaung keluar buru-buru.

__ADS_1


Sella hanya diam tanpa tahu menjawab apa. Dia juga melihat siapa yang menghubungi suaminya itu di pagi-pagi buta seperti ini.


"Bayang-bayang mantan memang sangat meresahkan!"


__ADS_2