
Sella merasa tak percaya. Bagaimana bisa Bara begitu mudah menuduhnya, padahal selama ini bukanlah dia yang sudah berbuat curang di luar sana.
"Apa maksudmu, Mas? Bukanya kamu ya yang setiap hari selalu bertemu dengan wanita itu. Kenapa sekarang kamu nuduh aku yang selingkuh?"
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu kenapa bisa bersama dengan Pria itu... Oh, apa sekarang kamu ingin kembali dengan mantan mu yang miskin itu?!"
Bara meremas kasar bahu istrinya tanpa memedulikan rintisan kesakitan Bella. Kecemburuannya membuat dia buta, dia tidak suka wanita yang sudah menjadi miliknya di sentuh laki-laki lain. Apalagi ia melihat pria asing itu menyentuh mesra tangan istrinya.
"Mas!"
"Berani kamu teriak sama saya?!" Cengkeraman tangan Bara semakin kuat membuat Sella tak bisa menahan air matanya.
"Mas, sakit. Tolong lepaskan!" pintanya terisak, “kenapa kamu menyalahi aku? Kamu yang tidak pulang berhari-hari untuk wanita lain. Kenapa kamu malah menyalahkan aku?”
Bara tersenyum sinis. Dengan kasar ia mendorong tubuh istrinya, sampai Sella membentur dinding dengan kencang. Tak hanya dinding, tapi siku dan pinggang Sella juga terbentur pada Almari pakaian. Ia meringis ngilu merasa perutnya mendadak nyeri.
Ya Tuhan, anaknya!
Tubuhnya terasa kaku saat merasakan benturan, Sella menatap nanar sang suami yang terlihat masih saja menatapnya dengan kemarahan.
"Tega kamu pukul aku hanya karena kecemburuan kamu itu mas. Atas dasar apa kamu memukuli ku? Yang selingkuh itu kamu! Bukan aku." Isak tangis Sella pecah mendapatkan perlakuan yang begitu buruk. Suaminya bahkan sampai tega menyakitinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
Lagi-lagi Sella meringis kesakitan, ia terbelalak melihat siku tangannya yang tergores cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah. Tapi dari pada sikunya Sella merasa lebih sakit pada perutnya.
Bara terkejut saat melihat istrinya merintih kesakitan memegang sukunya. "Kamu... Kenapa bisa berdarah?" Dengan bodohnya dia malah bertanya. Kemarahan di wajahnya berubah menjadi kawatir, bukan maksud dirinya melukai, ia hanya sedang emosi
__ADS_1
Sedangkan Sella.
Tanpa memedulikan Bara lagi Sella langsung berlari meninggalkan kamar. Dia tak ingin melihat wajah pria itu lagi. Rasanya sangat menyakitkan saat orang dicintainya menuduhnya berselingkuh.
"Aku akan menghubungi Bang Alvian. Tapi...,"
Saat dia ingin mengadukan perbuatan suaminya pada sang kakak. Sella kembali teringat dengan pembicaraan Mamanya beserta kakak-kakaknya secara diam-diam tadi siang.
"Bagaimana mungkin aku meminta bantuan mereka... Bukanya mereka yang menjual aku pada Mami Rena."
Kehidupan yang begitu miris siapa yang dapat menebak. Ia sangka jika dirinya bisa merebut hati suaminya ia akan bahagia dan hidup dengan suka cita. Tapi itu hanya khayalannya saja, realitasnya sungguh sangat mengenaskan.
Tapi sekarang... Dia baru tahu jika Bara memiliki sifat posesif dan pemarah seperti ini. Apa mungkin karena ini dia bercerai dengan Lisa dulu?
Sepertinya dia harus mencari tahu lebih banyak lagi rahasia orang-orang Sekelilingnya. Ia menjadi takut, apakah mungkin jika dia kembali ke kamar Mas bara akan memukulnya lagi.
Tapi sekarang dia butuh teman untuk bercerita. Ia Bahkan tidak tahu siapa lagi yang dapat ia percaya sekarang, keluarganya sendiri tega mengkhianatinya dan melukainya begitu dalam, apalagi orang lain.
....
Sibuk berpikir, Sella tak menyadari jika darah di lengannya sudah mengering. Ia kembali tersadar saat merasa nyeri.
"Apa aku harus menyerah? Lalu bagaimana dengan bayi ini?" Ia mengusap dengan hati sedih, "Nak, kamu terlalu cepat hadir. Ayahmu tidak menginginkan kita... Aku takut dia tidak bisa menerima mu jadi lebih baik nanti kita pergi saja ya." Sella mengusap perut ratanya.
Ia sangka hari ini akan menjadi hari kebahagiaan untuknya karena baru mengetahui kehamilannya. Tapi siapa sangka malah kebenaran malah terkuak sekarang dan menghancurkan hatinya yang baru saja mulai baik-baik saja. Dan hari ini kembali hancur karena di kecewakan oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
Ia kembali merasakan mual lagi, tapi saat ia muntah malah merasakan seseorang memijit pelan punggung belakangnya.
Bara?
Sella langsung beringsut menjauh, ia merasa takut dengan keberadaan suaminya. Tiba-tiba Sella menjadi takut jika Bara mendengar ucapannya tadi.
“Kamu... Mas mau apa?”
“Sudah dua jam kamu di luar, masuk.” Itu bukan ajakan yang lembut, tapi perintah yang membuat Sella lagi-lagi merinding.
“Aku...,”
“Kamu sudah masuk angin, Sel. Jangan membuat saya marah lagi!” Tanpa sadar Bara kembali membentak membuat sang istri kembali menangis.
Sella bernafas lega mendengar ucapan Bara yang menyangka dia sedang masuk angin. Jika begitu berarti dia tidak mendengar ucapannya tadi.
Pada akhirnya dengan berat hati Sella menuruti keinginan suaminya. Tapi saat sampai di dalam rumah Bara tak berbelok ke kamar mereka di bawah, tapi malah langsung menaiki tangga membuat sang istri kembali berteriak memanggilnya.
“Mas...” Sella menarik tangannya, “kamu gak mau di kamar bawah sama aku aja?”
“Saya capek. Kamu sendiri saja malam ini” Bara menepis tangan sang istri berlalu begitu saja.
Tadinya ia berharap bisa kembali merasakan pelukan hagat suaminya, tapi siapa sangka penolakan ini terus saja terjadi padanya. Sella menatap lantai atas dengan mata yang berembun, sudah berbulan-bulan menikah sekalipun suaminya itu tak mengizinkan naik ke atas sana.
Sella menyeka air matanya yang tanpa sadar melelh kembali. Ia tak boleh selemah ini, bagaimanapun rasanya ia pantas mendapatkan ini. Bukankah dirinya sudah di tukar dengan uang oleh keluarga ini.
__ADS_1