Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Pertengkaran di pagi hari


__ADS_3

Sejak pertengkaran hari itu hubungan Sella bersama suaminya semakin dingin. Begitu jiga dengan Lisa, wanita yang sebagai ibu dari Arya itu sudah satu minggu ini tak lagi datang ke rumah.


Arya sering kali bertanya, karena biasanya sang bunda akan datang setiap hari minggu. Dan juga akhir-akhir ini lebih sering, dan saat tiba-tiba sang bunda tak datang, Arya langsung bertanya dengan cemas.


Seperti sekarang ini. Saat mereka makan malam arya kembali bertanya perihal sang Bunda.


“Kenapa bunda gak datang lagi. Semenjak Nenek ke sini kemarin, aku lihat Bunda gak pernah datang. Apa karena Mama baru ini?”


Kali ini anak itu tidak hanya bertanya. Tapi dia langsung menyalahkan sang ibu tiri yang telah hadir di rumah sang ayahnya ini.


“Arya,” sela Bara tak senang, “jangan berbicara seperti itu,”


“Tapi ayah... Aku kan rindu sama Bunda.”


“Iya, ayah tahu. Nanti Bunda lisa pasti datang lagi,”


“Tapi dia pasti tidak akan suka dengan Mama baru. Kenapa dia disini sih!”


“Arya!” peringat Bara yang membuat bocah itu semakin merengut kesal.


Dia sudah berumur 13 tahun, tentu saja sudah mengerti dengan apa itu Ibu tiri. Jadi dengan begitu ia menuduh perempuan yang berani datang dan menggantikan posisi sang bunda. Hal itu juga yang membaut dia di malam pernikahan Sang Ayah menjadi sakit malam itu.


Sella yang mendengar pembahasan anak dan ayah itu merasa tersinggung. Pasalnya dengan tapa rasa sungkan sang anak tiri langsung menunjuknya.


“Apa kamu marah pada saya karena bundamu tak lagi mau datang ke sini?” Sella bertanya dengan kesal membuat Bara melotot.


“Sella, kamu...,”


“Kenapa? Anak kamu bahkan menunjuk aku tanpa sopan, Mas. Kenapa kamu gak marah?” balas Sella ikut melotot.

__ADS_1


Ia sudah cukup tersinggung dengan sikap Bara tadi malam. Meskipun ada perjanjian lisan di antara mereka, tapi dulu pria itu tidak pernah memperingatinya jika dia masih berhubungan dengan Mantan istri.


“Jaga bicara kamu sama anak saya, Sella!”


Bentakan keras itu jelas membuat Sella terkejut. Dia semakin merasa sedih melihat sikap suaminya yang langsung memantak di hadapan sang anak tiri.


Dia yang tidak terbiasa mendapat kekerasan mendadak menjadi melow. Meskipun tidak sampai membuatnya mengeluarkan air mata, tapi gadis itu cukup sakit hati.


Padahal semalam saja suaminya ini belum mengucapkan kata maaf padanya. Dan sekarang dia malah semakin dibuat tersinggung.


Sella menarik nafas panjang. Tak ingin berdebat lagi, dia langsung pergi dengan marah meninggal rumah.


...


Bara mengusap wajahnya frustrasi. Dia merasa menyesal telah membuat ke gaduhan pagi ini.


Dia tidak ada niat membentak istrinya itu. Hanya saja dia tidak suka cara Sella menyalahkan arya yang masih kecil. Selama ini dia selalu mengutamakan Arya dari segalanya, ketika dia melihat orang lain mempertanyakan kesopanan sang putra, ia menjadi sangat marah.


Bara tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Kamu jangan sedih ya, bunda pasti akan datang lagi nanti.” Ucapan Bara membuat Arya kembali bahagia.


Setelah membujuk sang putra, Bara langsung berangkat ke kantor. Sedangkan sang anak sudah ada sopir khusus yang akan mengantarnya, karena itu ia tak khawatir lagi.


****


“Kenap, Sel?”


Sella yang terlihat lesu sejak tadi pagi membuat Mala yang memperhatikannya menjadi penasaran.


“Apa karena Gosip itu lagi?”

__ADS_1


Sella menggeleng. “Ngak, lagi ada masalah di rumah aja.” Ujar Sella yang tak berminat untuk menjelaskannya lebih panjang.


“Kalau begitu kamu hanya bisa bersabar, Sel. Urusan rumah tangga mah aku gak bisa kasih solusi,”


Sella hanya mendengus malas. Ia kembali mencoba untuk fokus pada layar komputer di depanya, tapi tetap saja ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


Pikirannya benar-benar tidak bisa melupakan masalah tadi malam dan pagi tadi. Entah mengapa dia begitu merasa sakit, padahal dia kan tidak berniat menganggap pernikahan serius.


“La,”


“Mm, apa?”


“Gosip tentang aku masih panas ya? Apa orang-orang kantor masih membicarakan aku?” tanya Sella tiba-tiba.


“Gak tahu juga, Sel. Kenapa emangnya?”


“Aku mau ke kantin, La. Tapi takut kejadian kayak kemarin terjadi lagi,” ujar Sella merasa takut.


Ya, kemarin. Dua hari yang kalu dia pergi ke kantin seperti biasa saat jam istirahat. Tapi siapa sangka, disana tiba-tiba ada anak kantor yang meneriakinya dengan pelakor dan membuat semua orang tertawa.


Padahal saat itu kantin sedang rami-raminya di jam istirahat kantor. Tapi Hera malah membuat dia menjadi bahan ketawa orang-orang satu kantor ini.


“Memangnya kamu mau ngapain. Ini kan belum jam istirahat,”


“Izin sebentar buat nenangin diri, La. Sambil ngopi, soalnya mata aku mengantuk nih.”


Mala mengangguk mengerti. Mungkin temanya itu sedang stres dengan pernikahannya mungkin. Makanya Ia tak berani terlalu banyak bertanya.


“Kayaknya gak apa-apa, Sel. Lagian kamu jangan pedulikan mereka, palingan tuh si Hera sebentar lagi akan mendapatkan karmanya.”

__ADS_1


“Aku harap juga begitu,” Sella terkekah geli dengan doa buruknya. “Aku pergi sebentar ya... Kalau ada Pak Bambang cari aku bilang aja ke toilet.”


Setelah mengatakan itu Ia langsung berlalu. Selain mengopi dia juga butuh sarapan kayaknya. Soalannya tadi pagi ia bahkan belum selesai menghabiskan makanannya, dia sudah keburu marah dan pergi dari rumah.


__ADS_2