Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Meminta maaf


__ADS_3

Bukan main rasa sakitnya, tidak perlu pakai fisik cukup batinya saja yang di lukakan semuanya sudah hancur.


Sella hanya bisa tersenyum miris disela tangisnya yang tak bisa lagi ia bendung. Biarlah orang-orang menatapnya penasaran, ia merasa tak peduli.


“Embak enggak apa-apa?” seorang pelayan datang menghampiri Sella. Mungkin dia merasa kasihan melihat perempuan itu menangis sendirian.


Sella menggeleng, “Bisa minta tolong bungkuskan makanan ini gak, mas?” terlalu sayang di tinggalkan makanan sebanyak itu.


Setelah pelayan itu mengangguk dan pergi. Sella kembali melihat meja Bara tadi. Tak sengaja tatapan mereka malah beradu, membuat Sella membuat pria itu melotot tak percaya dengan keberadaan istrinya.


“Sella?” gumam Bara tak percaya.


“Kenapa, Mas? Kamu lihat apa,” Lisa menatap Bara yang terlihat gelisah, “apa kamu... Oh, ada Sella?” gumam Lisa ikut tak percaya.


Melihat Sella yang beranjak Lisa berniat ingin menghampiri wanita itu, tapi malah keburu di hentikan oleh Bara.


“Tidak usah, biarkan saja dia,”


“Tapi Mas...,”


“Sudah, kamu tidak perlu pikirkan yang lain. Biar itu urusan aku dan dia saja di rumah nanti,” ujar Bara membawa Lisa duduk kembali.


Sella yang lihat bertapa mesranya perlakuan sang suami pada wanita lain hanya bisa tersenyum miris. Karena tak ingin semakin merasa sakit hati lagi, ia langsung beranjak menjauh.


****


“Sella,”


Sella tertegun saat mendengar suara Bara memanggilnya. Gadis itu berlahan melirik sang suami yang terlihat baru kembali.


Lagi-lagi sendiri, sepertinya akhir-akhir ini Arya lebih suka tinggal bersama Ibunya. Apa karna dirumah ini ada dia?


“Sudah pulang,”


Kali ini Sella menghampiri suaminya. Ia ingin belajar jadi istri yang lebih baik, setelah semuanya terjadi dia tidak punya alasan lagi untuk memilih.


“Mm... Tentang tadi...,”


“Sebaiknya Mas Mandi saja dulu. Nanti saja kita bicaranya,” ujar Sella berusaha tersenyum. “Aku juga ada yang ingin dibicarakan nanti bersama mu, Mas.”


Bara menatap wajah istrinya sesaat. Merasa apa yang dikatakan Sella benar, jadi dia mengangguk setuju dan langsung naik ke lantai atas kamarnya.


Sedangkan Sella yang tertinggal hanya bisa menatap nanar pada punggung lebar itu. Andai saja dia menjadi istri yang sesungguhnya pasti sangat nyaman bersandar di sana. Andia saja... Ah.. Dia hanya bisa berandai-andai saat ini tanpa bisa menyentuhnya.


“Aku menunggu kamu berubah, Mas.” Gumam Sella dengan sejuta harapannya pada takdir tuhan agar berbaik hati membolak-balik hati suaminya.


Selagi Bara sedang membersihkan badan di dalam kamar, Sella memilih menyiapkan sedikit makanan untuk makan malamnya. Tidak tahu dengan suaminya, dia yakin pria itu mesti menolak karena dia sudah makan di luar dengan mantan istrinya.


Tidak lupa ia juga memanaskan makanan sisa dari restoran tadi yang sempat ia makan sedikit untuk makan siangnya.


“Kamu masak?”

__ADS_1


Sella melirik Bara sekilas lalu kembali sibuk dengan makanannya yang masih tersisa. Ya, dia tidak menunggu sang suami untuk ikut makan, karena dia takut di tolak kembali.


“Hanya sedikit, selebihnya dari restoran tadi.” Jawab Sella santai.


Tapi tidak dengan Bara, dia kembali terdiam. Dia tahu istrinya sedang menyindir dirinya, tapi dia juga tak perlu merasa bersalah kan?


Bara ikut mengambil piring. Melihat itu Sella langsung bertanya, “Bukanya mas sudah makan di luar?”


“Eh, siapa bilang? Saya Cuma makan tadi siang seperti yang kamu lihat.” Ujar Bara. Ia kembali mengambil Nasi goreng yang pasti buatan istrinya.


Sella hanya mengangkat bahu acuh. Membiarkan Bara melakukan apapun, ia juga senang jika suaminya itu mau memakan hasil masakannya.


....


“Jadi mau bicara apa?”


“Bukanya kamu yang ingin bicara duluan mas? Jadi kamu saja yang duluan,” ujar Sella.


“Saya hanya ingin menjelaskan yang tadi siang. Kamu tidak marah kan? Sebenarnya saja juga tidak perlu menjelaskannya...,”


Ya, bagi Bara semua sudah jelas sejak awal jika dia bebas tanpa terikat apapun. Tapi berbeda dengan Sella, dia wanita yang perasa yang tidak mungkin tak sakit hati melihat suaminya mesra dengan wanita lain.


Padahal bukankah dari awal dia tidak pernah setuju dengan perjanjian konyol itu?


“Meskipun pernikahan ini tidak pernah kamu inginkan, setidaknya kamu bisa menghargai aku yang telah kamu janjikan pada Allah untuk bahagiakan mas.”


Bukankah seharunya dia sudah menjadi tanggung jawab suaminya?


“Aku hanya berharap hargai aku sebagai istri kamu, mas. Bisa ngak kamu itu coba sedikit saja menerima pernikahan ini.” Hanya semudah itu harapannya.


Semudah itu bagi dirinya, tapi Bara susah untuk ia beralih hati. Apalagi semenjak tahu mantan istrinya kembali dia semakin tak rela melepaskan wanita yang di cintainya itu.


Jika bukan karena paksaan ibunya, mungkin dari awal dia sudah menolak semua ini. Baginya cintanya pada Lisa tidak main-main, apalagi dia sudah ada Arya di antara kita. Dia tidak tahi ada satu hari seperti sekarang ini.


Ahh... Ini kesalahannya juga yang terlalu posesif dan mengengkang membuat semuanya menjadi sulit.


“Kenapa... Kenapa kamu tidak menyerah saja?” Bara mengusap wajahnya frustasi, “Kamu tahu saya tidak bisa...,”


“Kalau begitu kita pisah saja. Aku gak mau Cuma di jadikan tameng di hubungan kamu sama dia, Mas.”


Deg


Cerai?


Seketika Bara terdiam. Melepaskan gadis ini, dia tidak pernah berpikir. Dia benci dengan perceraian. Bara merasa dia mungkin tak mampu melakukannya. Dia tersenyum sinis.


“Kamu minta pisah? Kamu pikir semudah itu, Sella?!”


“Apa yang sulit. Kamu gak bisa berusaha untuk hubungan ini kan, lalu kenapa tidak mau lepaskan aku saja.” Tidak ingin bercerai, tapi juga tak ingin berjuang. Sella merasa Bara sedang membuat lelucon untuk hidupnya.


Bara mencengkeram bahu istrinya. Ia menahan kesal dengan gadis ini yang setiap saat membuat ribut dengannya.

__ADS_1


“Gak akan ada pisah kecuali saya yang ingin. Sella, kamu tidak bisa lepas begitu saja. Ingat, papamu...,”


Sella menunggu ucapan itu selesai. Tapi melihat Bara yang berhenti membuat dia semakin penasaran. Ia menjadi ingat kembali dengan ucapan Papanya di restoran tadi siang.


“Kenapa dengan papa aku?”


Bara melepas cengkamannya dengan sedikit mendorong tubuh gadis itu.


“Tidak ada!” Bara menatap tajam, “kamu ingin saya bersikap sepeti suami sungguhan bukan. Oke... Saya akan melakukannya. Tapi satu hal yang kamu tahu Sella... Kamu bisa membuat saya menerima kamu, tapi kamu tidak bisa melarang saya dekat dengan Lisa. Karena dia ibu dari anak aku!”


Bara pergi dengan wajah yang terlihat masih memerah. Sedangkan Sella ia masih teridam, masih tak menyangka jika Bara menerima begitu saja.


Meskipun dia kecewa dengan ucapan sang suami yang mengatakan tak bisa jauh dari mantan istrinya. Tapi bara cukup senang, setidaknya sedikit ada harapan untuk hubungannya dengan Bara.


“Aku tidak tahu ini cinta atau apa... Tapi yang aku tahu sekarang aku mulai merasa takut kehilangan kamu, Mas.” Gumam Sella sendu. Ia mengusap air matanya yang menetes, ah ia kembali menangis lagi. Kenapa sia berubah begitu cengeng sekarang?


***


Di sebuah rumah satu lantai yang terlihat sangat indah itu terlihat seorang Istri sedang sibuk melayani suaminya.


Tati terengah setelah kegiatan panas mereka selesai. Dia menatap suaminya dengan penuh cinta. Pria yang lebih tua darinya ini entah mengapa bisa membuat dia begitu mudah jatuh cinta dan semakin sayang padanya.


Padahal umur dia dengan David itu berjarak sangat jauh. Dia berjalan dengan suaminya terlihat seperti paman dengan keponakannya. Tapi meskipun begitu pesona seorang pengusaha seperti David memang tidak bosan di ragukan lagi. Jika tidak dirinya wanita lain di luar sana pasti juga banyak mengincarnya.


“Kenapa?” David bertanya dengan lembut. Melihat istrinya yang menatap tanpa berkedip membuat dia menjadi penasaran.


“Kamu tampan, Mas.” Ujar Tati malu-malu. “kenapa sih kamu begitu hebat. Meskipun aku merasa berdosa, tapi aku tidak pernah menyesal bisa mengenal kamu, mas.”


David terkekeh geli mendengar ucapan sang tirinya itu. “aku tahu,” balas David singkat.


Murka kembali berpelukan dengan tubuh yang masih polos. Kegiatan yang menyenangkan ini kerap kali David lakukan jika dia sedang dalam keadaan frusatasi. Meskipun istrinya ini tidak tahu, tapi beginilah cara David mengalihkan pikirannya dari masalah.


Hal ini juga yang membuat dia selingkuh dan berkhianat dari Zana. Sayang istri pertamanya itu kurang mengerti dirinya, sering menolak jika dia butuh pelampiasan. Itulah mengapa dia mencari wanita lain.


Tapi berbeda dengan Tati, selain lembut dia juga patuh pada segala keinginannya. Berlahan ia terjebak pada hubungan terlarang ini. Ya... Meskipun menyesal, tapi ia tak memungkiri jika dia juga sangat butuh belayan Tati pada dirinya.


“Bagaimana dengan pembicaraan kamu dengan Sella? Kamu sudah menjelaskannya pada dia mas?”


“Belum,”


“Loh, kenapa? Bukanya kamu ingin menjelaskan dan minta maaf atas semua maslah perjodohan itu?” Tati merasa tak tega melihat suaminya yang hari ke hari terlihat murung karena masih merasa menyesal pada sang putri.


“Aku gak bisa, Ti. Aku merasa pengecut di depan anakku sendiri. Bagaimana... Bagaimana jika dia semakin benci sama aku?”


Tati mengusap lembut bahu suaminya, “ya sudah. Ada lain kali mas, aku yakin Sella pasti akan memaafkan kamu,” ujarnya menenangkan sang suami yang terlihat kembali kalut.


“Iya... Aku juga berharap seperti itu,”


****


Jangan lupa tingalakn jejak😘

__ADS_1


__ADS_2