
Keesokan harinya, Sella terkejut saat dia bangun tidur dan mendapati seorang pria tengah tertidur di sampingnya.
Dia yang belum terbiasa, tentu saja membuat dirinya terkejut. Saat menyadari jika Bara lah yang tidur di sampangnya, ia bisa bernafas lega.
“Aku bahkan tidak tahu kapan dia pulang,” kata Sella mendengus kesal.
“Kau sudah bangun,” Sella kembali di buat terkejut saat mendengar suara suaminya.
“Sudah,” dengan canggung segera ia berdiri dari ranjang. “Mas Bara sejak kapan pulang? Kok aku gak dengar?”
Padahal kemarin sepertinya dia sempat kunci pintu. Dan entah bagaimana suaminya bisa masuk begitu saja. Mungkin punya kunci serap kali ya?
“Saya sudah pulang dari kemarin. Hanya saja saya istirahat di kamar Arya.”
Arya?
Anak itu lagi. Pikir Sella.
Sepertinya sekarang anak tiri lebih kejam dari pelakor ya? Kok bisa bikin dirinya emosi.
“Tapi kenapa aku gak sengar Mas masuk kamar?”
“Itu karena kamu yang terlalu nyenyak tidurnya!” Bara mengambil selimut dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Mumpung dia masih masa liburnya. Jadi bukankah lebih baik dia nikmati dengan benar.
****
“Sudah bangun, sayang.” Mami tersenyum lembut melihat menantunya sudah rapi dan segar di pagi hari. “Bara mana? Masih tidurkah?”
__ADS_1
“Iya,”
Sella mengalih tatapannya pada anak laki-laki yang duduk di sebelah Mami Rena.
“Apa dia Arya?” ia belum pernah bertemu dengan anak ini sebelamnya. Hanya beberapa kali melihatnya selintas di saat acara pernikahan kemarin.
“Oya... Kamu belum kenal sama putra barumu? Dia Arya, bocah kecil yang menjadi kesayangan di rumah ini.”
Sella tersenyum manis pada anak lelaki itu, yang dibalas juga dengan sapaan lembut dari arya.
“Dia umur berapa, Mi?”
“Baru masuk 13 tahun, baru masuk sekolah menengah Pertama.”
Lagi Sella menatap anak tirinya itu. Ia tidak tahu apa bocah itu menyukainya atau mungkin tidak, tapi ia berharap hidup di rumah mewah ini tidak di persulit lagi dengan orang-orang yang tidak menyukainya.
****
Setibanya merek di rumah itu Bara langsung meminta untuk mereka pisah kamar untuk sementara.
“Aku rasa itu juga ide yang bagus. Aku juga belum siap jika sekamar dengan, Mas.”
Sella tentu saja menyambut ide itu dengan senang hati. Meskipun penolakan Bara ini sedikit melukai hatinya sebagai seorang gadis cantik, tapi dia akan berusaha untuk bersabar.
“Kamu tenang saja, kamu bebas memilih kamar yang mana saja di rumah ini. Asalkan dua kamar di lantai atas,”
Dua di kamar atas tidak boleh?
Itu berarti dia di campakkan di kamar lantai satu.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kamu keberatan?” seru Bara. “Saya tidak bisa memberimu kamar di sana, karena dua kamar itu punyaku dan juga Arya.”
Sella langsung menggeleng. Dia tidak keberatan, meskipun ada rasa yang tercubit di sudut hatinya, tapi ia berusaha menganggap hal ini biasa saja terjadi. Karena mereka tak saling mencintai.
“Tidak! Aku tidak keberatan,” Sella tersenyum, dan suaranya terdengar serak, “tapi bagaimana dengan privasi kita? Dan pekerjaanku...,”
“Nah, aku punya beberapa syarat untuk mu,” kata Bara, “kau bisa melakukan hal apapun sesuka hatimu, asalkan kau tidak mengganggu putraku.”
Sella tertawa. Apa suaminya ini pikir jika dirinya seperti ibu tiri di dalam sinetron. Apa pria ini sedang mencemaskan jika dirinya menyakiti Arya?
“Omong kosong! Apa kau sedang mewaspadaiku?” Sella menatap Bara dengan pandangan kosong. “Aku rasa pernikahan kita ini bagaikan pernikahan kontrak saja,”
Kenapa pernikahannya sehancur ini?
“Kamu bisa berpikir apapun itu, aku tidak peduli. Tapi ngomong-ngomong aku suka panggilan mu sekarang... Sebutan Mas lebih cocok untuk ku dari pada aku menjadi Om, mu!”
Sella berdecak masal. Kalau bukan karena Ia takut orang-orang akan curiga dengan panggilannya, dia juga tak berniat untuk mengubahnya.
Tidak mungkinkan dia memanggil suaminya sendiri dengungan panggilan Om di pesta pernikahan mereka. Karena terbiasa makanya dia sampai terbawa sampai sekarang.
Hingga Bara pergi, Ia tetap memilih duduk santai di ruang keluarga.
Setelah tiba di rumah ini dirinya baru tahu jika Bara itu bukan pria yang sekaku terlihat di luar. Buktinya saat sampai di rumah dua tingkat ini, kesan pertama yang dia lihat adalah perfek untuk seorang Deddy.
Rumahnya terlihat ceria, bahkan ada satu ayunan di depan rumah. Ada kolam ikan kecil, dan juga taman kecil tepat bermain keluarga. Dan dia belum melihat taman belakang... Mungkin lebih indah dari yang di depan.
“Apa mungkin itu dia buat saat masih ada istri pertamanya?” Sella menutup mulutnya.
Sial! Sepertinya dia benar-benar menikmati sisa dari orang lain.
__ADS_1
.....