
Bara berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia yang terlihat cemas membuat konsentrasinya hilang hingga beberapa kali menabrak suster yang lewat.
Saat ia sampai di depan sebuah ruang rawat ibunya, Bara terkejut melihat di sana ada pembatunya dan juga ayah mertuanya.
Ada apa ini? Pikir Bara. Kenapa Dua orang itu bisa ada di sana.
“Ayah?” Bara terpaksa menyapa dengan kaku.
“Kamu sudah datang, baguslah.” David menjawab dengan dingin. Tidak ada senyum, hal itu membuat Bara kembali bertanya- tanya ada apa?
“Bik?” Bara berbalik pada sang bibi yang terlihat tertunduk di, “kenapa Mami bisa masuk rumah sakit. Kenapa?”
“Anu.. Itu tuan,”
“Bibi mau bicara apa, ayo jelaskan. Dan kenapa bibi bisa sampai ada disini sama Mami?” Bara bertanya tanpa henti. Bahkan ia tak peduli dengan mertuanya yang sedari tadi menatap dingin dirinya.
“Anu... Saya pergi karena antar makanan yang di suruh Non Sella,” ujarnya sembari melirik David.
“Lalu?”
“Nyonya mendadak serangan jantung saat... Saat berdebat dengan tuan...,” Bik Neti tak melanjutkan ucapannya tapi hanya melirik takut-takut David yang masih diam dengan wajah dinginnya.
Bara langsung menghampiri mertuanya. Ia melihat David dengan raut marah. Dari awal dia tidak pernah menghormati mertuanya ini, mendengar Maminya terluka karena dia Bara langsung ingin menghajarnya.
“Apa yang kau lakukan pada Mamiku?!”
David tersenyum sinis, “bukankah aku yang seharusnya bertanya... Apa yang kau lakukan pada putriku sampai-sampai ibumu murka begitu?”
Murka?
Bara tidak mengerti apa yang di maksud David, ia kembali menoleh pada bik Neti tapi wanita itu malah memilih buang muka tak ingin melihat majikannya.
Bara ingin kembali bertanya, tapi saat itu pula pintu ruang rawat sang ibu malah terbuka membuat ia mengurungkan niatnya. Ia memilih menghampiri dokter itu buru-buru.
__ADS_1
“Bagaimana dok? Apa ibu saya baik-baik saja?”
Sang dokter itu hanya tersenyum. “tidak ada maslah serius. Ibumu hanya syok dan mendapat sedikit tekanan membuat dia mendadak serangan jantung. Hanya butuh beberapa saat istirahat jantungnya akan kembali normal dan dia bisa kalian bawa pulang.”
Bara menarik nafas lega. Tak terkira bertapa khawatirnya ia mendengar ibunya mendadak serangan jantung. Penyakit ini sudah lama tak muncul pada sang Mami, terakhir kali seingat Bara tiga tahun lalu. Entah bagaimana sekarang datang lagi?
“Terima kasih dok. Kalau begitu apa bisa saya melihat Ibu saya?”
“Tentu saja. Sebentar lagi dia akan siuman,” ujar sang dokter. Setelahnya ia berlalu pergi dan Bara pun memilih masuk ke dalam ruang rawat sang Mami.
*****/
“Jadi benar yang pelayan kamu itu bilang. Kamu mau membawa madu untuk putriku?”
Bara yang baru saja merasa tenang dengan kabar ibunya baik-baik saja. Tapi sekarang kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan Ayah mertuanya. Tapi ia tak memberi reaksi yang berlebihan, wajah tetap dingin membuat David berdecak kesal.
“Apa maksud ayah?”
Diam...
Bara hanya menatap malas ayah mertuanya itu. Meskipun belum mengerti sepenuhnya, tapi ia mulai paham jika sang Mami telah bercerita tentang ia yang ingin membawa dan menikahi kembali Lisa.
Sedangkan Bibi Neti terlihat semakin gemetar ketakutan. Entah apa yang terjadi sebenarnya, bara hanya bisa menerka-nerka.
“Bukankah saya sudah memberi keuntungan untuk perusahaan kalian. Lalu kenapa protes lagi?” Bara menatap tak gentar. Meskipun David lebih tua darinya tapi ia juga merasa lebih berhak di sini.
“Lagi pula ini rumah tangga saya. Ayah tak bisa ikut campur, sama seperti rumah tanggamu, saya juga tidak ikut campur!” ucap Bara lagi tersirat akan ancaman yang membuat David sungguh teramat kesal.
Ia tahu sindiran pedas itu menyinggung tentang pernikahan keduanya. Merasa tak puas David hanya bisa pergi meninggalkan ruang rawat Mami rena dengan emosi yang memecah.
“Kamu akan menyesal melakukan ini pada putri saya!”
Setelahnya David pergi tanpa menunggu jawaban dari menantinya itu. Sedangkan Bara, ia hanya menarik nafas lelah. Ia berharap dengan masalah ini tak akan menyulitkan dirinya untuk membawa kembali Lisa dalam kehidupan nya.
__ADS_1
***
Sedangkan di tempat lain. Seorang Wanita paruh baya terlihat menangis di depan taman kanak-kanak setelah mendengar anaknya tak ada di sekolah.
Ya, Tati. Dia yang berniat menjeput pulang sang putri mendadak mendapat kabar yang mengejutkan bila sang putri kecilnya sudah tak ada.
“Aduh, Maaf ya Ibu. Kami benar-benar gak tahu, soalnya wanita itu tadi mengaku-ngaku sebagai kakaknya Bunga. Karena itu kami izinkan dia membawanya.” Ujar sang guru menjelaskan duduk perkaranya.
“Bu guru gak bisa gitu aja menyerahi anak saya sama orang bari dong. Saya gak mau tahu, ibu harus tanggung jawab anak saya hilang nih!” teriak Tati tak terima. Ia tak lagi peduli dengan keanggunan dan tata kerama, dia sungguh takut terjadi yang buruk pada sang putri kecilnya.
“Tapi Mbak-mbak itu sering kok datang dan menemui Bunga kok, Bu. Tadi dia juga memberi bukti Chet ibu sama dia dan mengizinkan Bunga ikut dia.” Ujar sang guru membela diri.
“Hah sering? Siapa?” Seingat Dirinya ia gak ada menghubung siapa pun. Tapi kenapa wali kelas putrinya itu malah bilang bukti Chet?
“Orang yang pernah saya laporkan pada ibu kemarin itu, masa lupa.” Ucap sang guru itu sembari memperlihatkan foto Seorang wanita.
Tati menutup mulutnya tak percaya. Ya tuhan, ternyata anak tirinya sendiri yang menculik putrinya.
Tati tak lagi mendengar ocehan guru itu lagi. Dia mencoba menghubungi suaminya, tapi sudah beberapa kali mencoba malah tak diangkat-angkat.
“Sial! Kemana pria tua itu. Apa dia tidak tahu putrinya sudah menculik putriku!” Maki Tati kesal.
Guru-guru yang ada disana terlonjak kaget mendengar makian Tati yang cukup keras. Mereka tak percaya, wanita yang biasanya terlihat begitu lembut dalam bersikap dan kata-kayanya bisa juga berubah mengerikan seperti sekarang.
“Kalau sampai ada apa-apa sama putri saya sekolah ini akan saya tuntut. Camkan itu!” Tati menunjuk wali kelas putrinya dengan marah.
“Loh gak bisa gitu dong buk, toh yang bawa anak ibu juga seudarnya kenapa ibu marah sama kami.” Bantah sang guru tak terima.
“Dia bukan saudara Bunga, ia mau menyelakai anak saya negrti gak kalian?!” bentak Tati.
Ia segera berlari keluar. Berbicara dengan guru disana membuat dadanya semakin sesak. Ia sudah curiga saat Sella selalu mendekati putrinya, tapi karena David yang marah dia memilih abai dan percaya begitu saja. Dan hari ini dia benar-benar merasa takut, bagaimana kalau Sella membalas dendam pada putrinya.
Memikirkan itu membuat Tati semakin terisak. Sekarang ia harus melakukan apa untuk menyelamatkan putrinya?
__ADS_1