Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Rasa yang mungkin salah


__ADS_3

Sore harinya setalah seharian di kantor, Sella dengan wajah lesunya kembali pulang ke rumah.


Setelah melewati hari yang panjang dan banyak rintangan, akhirnya dia bisa merasa lega saat tubuhnya telah menyentuh kasur empuknya.


“Nyamannya...,” dengan tubuh letih dan hujan yang rintik-rintik, ia rasa untuk hari saat ini waktu yang tepat bergelung di bawah selimut.


Tapi itu tinggallah angannya saja, saat dia kembali mendengar suara sedikit heboh di ruang tengah.


Sella menghembus nafas kesal.


“Dia datang lagi?” Keluh gadis itu pada dirinya sendiri.


Dia sudah hafal suara merdu yang sedang tertawa bersama suami dan anak tirinya itu. Siapa lagi kalau bukan mantan istri Bara.


Sudah berkali-kali ia mencoba bersabar dan menahan hati, tapi entah kenapa ia tetap merasa sakit melihat bertapa bahagianya bila sang suami bersama mantan istrinya.


“Mereka benar-benar gak memikirkan perasaan aku, ya!” rasanya kesal juga karena keberadaan kita tak di hargai di rumah suami sendiri.


Sella tidak tahu. Apa perasaan sukanya sudah mulai tumbuh dalam hatinya untuk duda itu, tapi yang pasti sekarang ia mulai merasa cemburu. Tapi yang pasti mulai sekarang ia tak ingin kalah lagi, karena itu dia mulai bangkit dan segera menghampiri keluarga kecil itu diruang keluarga.


“Hai... Mas, Bara sudah pulang?” ia tersenyum manis, “Loh, ada Mbak Lisa juga?”


Lagi-lagi ia berpura-pura terkejut melihat keberadaan mantan istri suaminya itu. Berharap janda cantik itu mengerti dan segera pergi dari rumah ini.


“Hay juga, Sel. Maaf ya, sudah mengganggu kamu istirahat,” ucap lisa bersalah.


Sella memilih pura-pura tak peduli, Jikapun dia mengatakan secara langsung ke tidak sukaannya, pasti Bara akan marah.


“Mas...” panggil Sella tapi matanya tetap menatap lurus dua manusia di depanya, “aku mau bicara bersua. Apa boleh?” tanyanya pelan.


Bara seakan mengerti kecanggungan yang terjadi. Jadi dia dengan cepat mengangguk setuju. Dengan sedikit kode dia seakan meminta izin pada Lisa untuk di tinggalkan sebentar.

__ADS_1


Setelah itu mereka segera menjauh dan masuk ke dalam kamar yang istrinya itu tempati. Bara tidak tahu mengapa, tapi ia tahu hari ini dia telah membaut sedikit kesalahan sampai membaut Sella jengkel begini


“Ada apa?” tanya Bara cepat. Ia bisa menatap mata tak senang dari istri barunya itu, tapi meskipun begitu Bara tetap memilih tak peduli dan berpura-pura tidak tahu saja di depan Sella.


“Apa maksud kamu membawa dia setiap hari kesini, Mas?” tanya Sella tak senang.


“Kamu lupa dengan apa yang aku ucapkan di restoran dulu?” dengan santainya Bara balik bertanya, “kenapa? Apa kamu merasa tak suka. Maaf, tapi saya sudah memperingati kamu hari itu, Sella.” Lanjut Bara menjelaskan.


“Perjanjian yang mana?” tanya Sella menantang, “kamu lupa saat itu kamu bahkan tak sesikitpun membicarakan tentang mantan istrimu itu! Kamu mau mempermainkan aku?!”


Kesabaran itu ada batasannya, dan Sella percaya dengan itu. Sekarang bukan masalah cinta ataupun rasa cemburu, tapi saat ini dia benar-benar merasa harga dirinya di permain kan oleh suaminya sendiri.


“Sella, jangan berteriak di depan saya!” Bara merasa tak senang, “kamu harus ingat batasan yang sudah saya buat dari awal-awal pernikahan. Dan kamu jangan coba-coba untuk melanggarnya!” ucapnya penuh penekanan.


Bara berlalu meninggalkan istrinya yang terdiam kaku di dalam kamar itu sendirian.


.....


“Sangat romantis,” ujar gadis itu di Sella tawa kecilnya.


Dia jadi mengingat masa lalu disaat masih berpacaran dengan Kaif.


Saat itu ia masih Kuliah sedangkan mantan kekasihnya itu sudah tamat dan mulai bekerja. Meskipun begitu pria itu sangat perhatian dan menyayanginya. Dia bahkan sampai rela menjemput dirinya setiap pulang dari kuliah.


Di hari itu hujan deras sedang melanda kota pekan baru, bahkan beberapa siswa yang lain ikut berteduh dan menunggu hujan reda.


Dibawa hujan yang deras Kaif datang menjemputnya dengan payung merah dengan penuh perhatian. Meskipun mereka mendapat sorakan dari siswa dan siswi, tapi Kaif tak malu.


Dia berlari di bawah hujan, dan dengan romantisnya mereka berbagi payung di hari itu. Sampai saat ini bahkan kenangan indah di antara mereka belum mampu Sella lupakan, dia masih terbayang-bayang bagaimana wajah sedih mantan kekasihnya itu saat dia mengatakan akan menikah dengan pria pilihan Papanya.


Sama seperti Perlakuan Bara pada mantan Istrinya itu. Penuh kasih dan perhatian.

__ADS_1


Sella merasa air matanya menetes tanpa ia sadari. Ah... Ternyata mengingat masa lalu membuat dia merasa sedih.


.....


“Sepetinya kamu masih begitu menyayangi Mbak Lisa, ya Mas?” celetuk Sella di tengah sunyinya meja makan di malam itu.


“Apa maksudmu?” tanya Bara yang mulai kembali terganggu, “jangan mengajakku berbicara di meja makan, Sella!” tekan Bara lagi.


“Kenapa marah? Aku kan hanya bertanya.” Sella tersenyum sinis. Lalu ia beralih menatap anak tirinya yang sedari tadi diam saja, “Arya... Apa kamu senang bertemu dengan bundamu sepanjang hari, dek?”


Bukan Sella namanya jika tidak memperpanjang masalah. Mungkin karena perasaannya masih kacau, tiba-tiba ia menjadi berpikir mungkin saja kejadian hari-hari yang menyedihkan ini tak luput dari rencana anak tirinya itu yang ingin menyatukan Bunda dan Ayahnya kembali.


“Sella!”


“Mas... Aku bertanya pada Arya, kenapa kamu yang jawab. Sebagai ibu sambungnya bukankah aku juga bisa betanya tentang perasaan anaknya?”


“Maksud Mama apa? Aku hanya bermain di rumah Bunda tadi siang,” ujar Arya jujur.


Sella menatap balik suaminya. Seakan dia menyadari sesuatu, Sella menjadi tertawa miris.


“Wah, berarti kamu juga ikut mengatar Arya kesana ya, mas? Kalian ngapain saja tadi?”


Ucapan itu bagaikan sendirian. Tapi dasarnya Bara yang tidak peduli, dia bukanya merasa bersalah pada sang istri, tapi malah menatap garang gadis itu.


“Cukup! Jangan berbicara omong kosong di depan Arya! Sella kau harus ingat siapa dirimu di sini!” Lagi-lagi Bara membentak. Bahkan Arya sampai terkejut, tapi bocah itu kembali bersikap tak peduli.


Mungkin dia juga sedikit senang melihat Mama barunya itu di marahi oleh sang ayah.


“Ya, ya. Melihat sikapmu yang seperti ini aku semakin mengenal mu, Mas. Jangan salahkan aku jika Mami mu sampai tahu, nanti.”


Sella berlalu membawa bekas piring makanya ke dapur. Tak menunggu jawaban Bara yang mungkin akan kembali membentaknya, dia lebih dulu melarikan diri agar pertengkaran itu tak berlanjut lagi.

__ADS_1


Ahh... Dia mulai merasa lelah pada hubungan ini!”


__ADS_2