
Pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke tiga. Hari ke hari hubungan Sella dan Bara semakin dekat, bahkan juga sering berbagi ranjang untuk tidur bersama.
Meskipun sampai sekarang Sella belum di izinkan untuk memasuki kamar atas oleh suaminya, tapi terkadang Bara juga sering tidur di kamar bawah bersama Ia.
Sella sangat senang. Apalagi sikap bara berlahan mulai mencair dengannya, ia merasa mulai mencintai suaminya itu.
Padahal berkali-kali ia berpikir ingin pergi dan mengakhiri hubungan ini saat dia merasa sakit hati melihat kebersamaan suaminya dengan Lisa.
Tapi lagi-lagi ketakutan dan rasa malu membuat ia bertahan. Siapa sangka hari ini akan datang, dimana Bara mulai menoleh padanya dan berlaku manis setiap hari.
Seperti hari sebelumnya. Bara yang dengan manisnya mengajak ia berlibur keluar lota. Bukit Tinggi dengan kota yang penuh pemandang indah itu. Ia benar-benar di buat senang sepanjang hari.
Bukan apa-apa, sia yang penyuka alam membaut dirinya begitu mudah terpukau dengan keindahan. Ia juga senang Sangat menikmati kuliner yang menggugah selara.
Kebersamaan merka itu tak bisa sella lupakan. Bahkan ia masih terbayang bagaimana suaminya itu mengecup bibirnya pertama kali di bawah monumen bersejarah itu.
Ah... Jika di ingatkan lagi dia menjadi malu. Lihatlah... Wajahnya bahkan memerah tanpa ia sadari.
“Kenapa senyum-senyum? Kamu memikirkan apa se-pagi ini?” Bara yang baru keluar dari kamar segera duduk manis di depan sang istri.
“Oh! Gak ada mas... Aku hanya mengingat sesuatu,”
Tak ingin di tanya-tanya lagi Sella buru-buru mengambil makanan untuk sang suami.
“Hari ini kamu lembur lagi, mas?” Sella sengaja merubah arah pembicaraan.
“Iya, kenapa? Apa kamu bosan di rumah?” tanya Bara sebari menyuapi nasi gorengnya, tapi tatapannya tetap tak lepas dari wajah cantik sang istri.
“Bosan. Tapi bagaimana lagi. Aku hanya ada kegiatan jalan-jalan dengan teman-temanku, selebihnya hanya bisa di rumah.”
“Kamu tidak ingin bekerja lagi?” pagi ini Sella dibuat terkejut dengan Bara yang kembali bertanya tentang pekerjaannya. Padahal biasanya kan tidak.
“Mm... Sebenarnya mau, tapi aku tidak tahu harus melamar kerja di mana.” Padah Sella pikir suaminya itu senang bila ia tak bekerja. Kan dia bisa mengurus rumah dan memasak. Meskipun ada bibi yang bekerja di sini, tapi Sella lebih senang jika dia sendiri yang melayani suaminya.
“Bagaimana dengan tawaran ayahmu? Apa kamu menolaknya,”
Sella kembali di buat terkejut. Seingat dia, ia tak pernah bercerita tentang masalah ini pada suaminya. Kenapa bara tiba-tiba tahu?
“Mas... Kamu?”
“Oh, itu... Saya tahu dari papa kamu.” Bara terlihat canggung saat Sella menatapnya menelisik.
Sella semakin memicingkan matanya. Ada keraguan dalam hatinya, dan banyak pertanyaan yang membuat dia menjadi mencurigai suami dan Papanya.
“Memangnya kamu kapan berhubungan sama Papa aku, Mas? Kok aku gak tahu. Kamu juga gak pernah cerita sama aku, mas.”
“Karena kamu gak pernah tanya,” jawab Bara. Ia berdehem pelan, “Kamu jangan salah paham. Perusahaan saya sama papamu sudah bekerja sama, kamu gak lupa kan?”
Alasan!
Sella mengupet dalam hati. Dengan begini dia semakin curiga dengan maksud papanya memaksa masuk ke dalam perusahaan keluarga.
Jangan-jangan...
“Jangan berpikir macam-macam. Lagi pula saya hanya bertanya. Mau kerja mau tidak yang pasti kamu tidak akan kekurangan uang.”
Sella terkekah geli mendengar ucapan suaminya. Jelas saja dia tak akan ke kurangan uang, kartu yang suaminya beri tidak main-main, bahkan jika ingin beli rumah tiga masih cukup tuh. Apalagi bulanannya juga di tambahi.
Usaha suaminya dalam bidang bahan makan dan makanan siap saji memang sangat laris di pasaran. Mungkin Karena itu Bara begitu banyak uang, pikir Sella.
Tapi masalahnya sekarang dia merasa bosan.
“Kalau begitu bagaimana kalau aku melamar kerja di perusahaan kamu saja, Mas?”
Sejenak Bara tertegun. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya ikut masuk ke perusahaannya.
“Gak! Lebih baik kamu di rumah aja kalau begitu.”
“Loh, kenapa?”
Bara tak menjawab. Dia segera menyambar tas kerjanya, tak ingin meladeni istrinya yang setiap hari bertambah cerewet menurutnya.
__ADS_1
Tapi saat dia baru dua langkah, bara kembali berbaik.
Cup
Sella nyaris saja berteriak saat merasa benda basah menempel di keningnya. Ia menatap Bara yang berlalu begitu saja setelah mencium keningnya.
“Apa, Apa dia menciumku tadi?” Sella menyentuh dahinya dengan senyum malu-malu.
Sella menatap suaminya yang berlalu dengan senyum bahagia. Ah, ternyata hari ke hari suaminya semakin romantis, dia sangat senang.
***
Siang itu Sella kembali bertemu dengan teman-temanya. Kali ini Ia tak hanya mengajak embun bertemu, tapi juga mengajak Mala sekalian.
Meskipun kedua temanya itu tak saling mengenal, tapi dia hanya ingin mengumpul-ngumpul saja. Karena ia juga tahu hari ini Mala tak kerja.
“Oh, kalian sudah datang lebih dahulu..,” Sella menatap senang dua temanya yang telah lebih dulu datang. “sudah lama?”
“Belum. Aku baru saja datang beberapa menit yang lalu, dan dia..,” Embun menatap canggung Mala, “dia yang lebih dulu datang.” Tunjuknya.
“Maaf ya, kalian pasti belum saling mengenal. Em, kenalan dia Mala, teman satu kantor aku waktu masih kerja.”
Setelah saling mengenal mereka segera memesan makan. Rencana hari ini mereka ingin bersenang-senang, karena itu Sella meluang waktu.
“Sel, semenjak kamu gak kerja sepertinya Hera juga gak kerja lagi tuh.” Tiba-tiba Mala membahas wanita licik itu.
“Benarkah? Tapi kenapa,”
Ia berpikir jika dia keluar dari sana pasti Hera akan sangat senang. Tapi kenapa wanita itu juga ikut berhenti? Apa maksud semua ini?
Terlalu banyak teka-teki yang todak ia tahu. Tapi ia semakin penasaran dengan sosok Hera. Ditambah ia baru tahu jika perempuan itu anak dari keluarga kaya, kenapa bisa terlibat dengan kakaknya dan juga Ia sendiri.
“Eh, kenapa jadi melamun.” Mala menyenggol lengan Sella, “Aku dengar dia juga salah satu anak investor di kantor, karena itu Dia bisa bersikap sesuka hati di sana. Aku berpikir yang membuat kamu di pecat pasti dia.”
Sella mengangguk setuju. Dari awal dia sudah tahu itu, apalagi dengan pengakuan wanita itu di pesta dulu.
‘Sepertinya aku harus bertemu Bang Alvian.’
“Kamu pikir apa?”
Berbeda dengan Mala yang tidak terlalu mengenal Sella. Embun yang sedari tadi diam menatap intens sang sahabat. Ia sebenarnya ingin bertanya juga tapi melihat Sella menggeleng, ia menjadi tak berani.
“Lalu bagaimana dengan suami mu? Apakah kamu sudah bisa menakluk lelaki dingin itu?”
Lagi-lagi Mala mengungkit pembicaraan sensitif. Tapi Sella merasa tak keberatan, karena dari awal ia juga sering bercerita dengan Mala.
“Sepertinya aku mulai mencintainya,”
Tidak ada sorak bahagia dari kedua temanya. Sella malah menangkap wajah terkejut mereka, “Kenapa?”
Setelah ia memikirkan perasanya ini dari waktu ke waktu, ia juga menyadari jika cintanya pada Bara sudah tumbuh. Ia juga menyadari suka cemburu jika suaminya membahas mantan istrinya.
“Kamu serius?” kali ini Embun yang bertanya, “Bukanya kamu bilang...,”
“Semua bisa berubah, Em. Apalagi siakap Mas bara semakin baik padaku, aku tidak mungkin mengabai suami sendiri kan.” Ia terkekeh sendiri dengan ucapnya.
Tak bisa menyanggah ucapan Sella, mereka hanya mengangguk saja. Urusan rumah tang orang lain mereka tidak berani berkomentar banyak.
Embun kembali menatap Sella dengan pandang yang sulit di artikan. “lalu bagaimana dengan Kaif?”
Deg
Mata Sella mendadak meredup saat nama mantan kekasihnya itu kembali di sebut.
“Kenapa bertanya,” ujar Sella lirih.
“Kami bertemu lagi beberapa waktu lalu. Dia bilang... kalian ketemu ya?”
“Begitulah. Sebenarnya hanya berpas-pasan sebentar, setelahnya Mas Bara membawaku pergi.”
“Begitulah. Sebenarnya hanya berpas-pasan sebentar, setelahnya Mas Bara membawaku pergi.”
__ADS_1
“Tapi Kaif bilang kalian sempat ngobrol. Aa... Dia juga bilang kalau dirinya terkejut melihat suami kamu. Dia kelihatannya cemburu,” Embun bercerita tentang pertemuannya dengan Kaif beberapa waktu lalu.
“Apa sekarang itu penting?”
Sella tersenyum kecut. Cemburu atau tidaknya Kaif pada dia sekarang apa penting ia memikirkannya, yang ada nanti ia semakin dibayang-bayang oleh kenangan mantan.
“Kaif. Kalian membahas siapa? Apa mantan kekasihmu yang tampan itu, Sel?”
“Kamu kenal mantan Sella juga?” Embun terlihat heran. Biasanya Sella merupakan orang yang susah bercerita dengan orang lain, jika Mala sudah sampai tahu begitu banyak berarti hubungan berdua pasti sangat dekat.
“Ah, iya. Beberapa kali dulu aku pernah melihat dia menjemput dan mengantar Sella bekerja. Karen itu aku tahu.”
Embun mengangguk mengerti, “Ya, itu memang dia. Bagaimana menurutmu, bagus dia atau suaminya yang sekarang?”
“Tentu saja tampan yang mantanya itu. Yang sekarang kan suami Sella tua, eh...,” Mala meringis, ia meninta maaf karena keceplosan mengejek Bara. “Maaf, maksudku bukan gitu..,”
“Sudahlah. Kenapa kita harus membahas hal ini... Aku mengajak kalian bertemu itu untuk menghilang stres. Setelah menganggur aku benar-benar merasa bosan, tapi tidak tahu harus melakukan apa.” Lagi-lagi Sella mengalihkan pembicaraan.
Ia tak ingin kembali mengenang Kaif di dalam hidupnya. Ia harus belajar melupakan, dan dia sekarang seorang istri yang harus menjaga perasaan suami. Memikirkan pria lain hanya akan membuat ia berdosa saja.
“Lalu bagaimana dengan Anak tirimu? Apa dia masih belum bisa menerima pernikahan kamu sama Ayahnya?” tanya Embun.
“Dia sudah resmi pindah ke rumah Ibunya. Mas bara yang mengambil keputusan, katanya dia tidak ingin bertengkar setiap kali Mbak lisa datang ke rumah dan aku marah-marah.”
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Maksud kamu gimana Mala?”
Sella tidak mengerti. Meskipun dia awal dia bisa menebak apa yang di khawatirkannya, tapi dia berusaha untuk percaya saja.
“Bagaimana bila suami kamu itu sering bertemu di luar dengan Mantan istrinya. Kamu gak takut?”
Bagaimana bila mereka bertemu?
Menikah dengan duda memang banyak masalahnya. Dari awal dia sudah mencoba memagar hatinya dari pesona suaminya yang cukup tampan itu. Tapi sekarang... Dia hanya bisa pasrah jika Bara tetap berkhianat di luar sana.
Jadi Sella tak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
***
Minggu pagi mereka mengunjungi rumah Mami rena. Meski merasa sedikit enggan, tapi Bara mana mengetahu itu. Pria itu kan Anam Mami, jika ibunya itu sudah memberi perintah suaminya ini mana bisa melawan.
“Kalian sudah datang?”
“Iya, Mi.” Bara langsung memeluk sang ibu, “bukanya mami yang minta kemarin. Jadi kami datang lebih pagi sekarang.”
“Bagus. Hari ini mami mau membuat kue dengan istrimu, jadi kamu harus mengantar Mami belanja dulu.” Kata Mami Rena Dengan senyum lebar.
Karena mereka pergi berbelanja jadi Sella memilih tinggal di rumah saja menunggu.
Sekitar satu jam berlalu, Mereka sudah pulang dari supermarket terdekat. Karena hari ini Ibu mertuanya sedang mengajaknya membuat kue, jadi Sella memilih mengganti bajunya agar tak kotor oleh tepung nanti.
Sura ponsel yang bergetar membuat mereka saling menatap.
“Ponselku yang berbunyi,” ujar Bara memberi tahu. Melihat siapa yang menelepon dia lekas-lekas menjauh untuk mengangkatnya.
“Siapa?” Sella bertanya saat suaminya telah kembali,
“Wil yang telefon. Ada sedikit urusan kantor. Saya harus pergi dulu, kamu gak apa-apa si sini sekarang kan? Saya benar-benar harus pergi sekarang,”
“Eh, tapi ini hari minggu, masa kamu kerja juga, Mas?”
Bara hanya mengangkat bahu, lalu berlalu meninggalkan Sella yang menatapnya kesal.
“Lagi-lagi di tinggal. Akhirnya nanti aku juga yang di marahi Mamimu!”
Sella menguru sendiri dengan sikap Suaminya. Padahkan tadi pria itu yangbmamaksanya pergi pagi-pagi sekali, tapi sekarang malah di tingal begitu saja.
"Loh, Sel. Bara mana?"
"Eh... Itu Mi. Itu, mas Bara pergi. Katanya ada pekerjan penting," kata sella.
__ADS_1
"Loh kok gak mau larang. Kamu itu bagaimana sih, gak senang apa suami ada di rumah, seharusnya kamu cegah tadi."
Tuh kan, dia lagi yang salah. Ia hanya bisa diam tanpa berani menjawab ucapan mertuanya.