Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Tidak percaya lagi


__ADS_3

Pukul delapan malam Bara masih belum kembali ke rumah. Sella sudah menunggunya sedari ia kembali dari pusat perbelanjaan. Untung saja tadi ia yang memegang kartu suaminya, jadi dia bisa membayar semua belanjaan yang sudah di pilih.


Tapi meskipun begitu Sella tak merasa senang. Ia masih ke pikiran dengan suaminya yang pergi keluar dengan wanita lain.


“Apa dia lupa denganku?” Sella kembali melihat jam di dinding. “Sudah selama ini, kenapa masih juga belum pulang.”


Berkali-kali ia menatap pagar depan rumah, berharap mobil suaminya itu datang. Tapi tak kunjung juga terlihat, Sella benar-benar merasa khawatir.


Lama menunggu akhirnya tepat pukul sembilan malam mobil Bara memasuki pekarangan rumah. Sella langsung berlari keluar menyambit sang suami.


“Akhirnya... Kamu pulang juga mas.” Melihat suaminya pulang dengan tampang kusut, senyum yang tadi merekah berlahan surut.


Apalagi saat Bara datang dan langsung melewatinya begitu saja tanpa membalas sapaannya. Lagi-lagi hanya senyum pedih yang berhias di wajah cantik itu.


“Mas Bar...,”


“Udah, saya mau istirahat dulu. Kalau mau bicara nanti saja ya, Sel.” Bara memotong ucapan istrinya. “Jangan berbicara apapun sekarang, kepalaku sedang sakit.”


Bara berlalu menaiki tangga menuju kamarnya sendiri. Dia yang sedang kalut dengan masalah Lisa membuat rasa cemas dan hatinya lelah seketika.


Tidak ada yang dia pikirkan selain Kesehatan Mantan istrinya. Khawatir dan khawatir itulah yang bersarang dalam benaknya, ia bahkan melupakan istrinya sendiri. Ahh... Bukan melupakan, tapi dia berusaha menenangkan diri sendirian sekarang.


“Ya, tuhan. Kenapa aku baru tahu dia sakit sekarang?”


Bara mengusap kasar mukanya. Dia masih terbayang dengan wajah pucat yang dulu selalu tersenyum manis padanya. Bara merasa separuh nyawanya saat Lisa di fonis mengidap penyakit Hemofilia.


“Aku bahkan tidak bisa melupakannya sedikit pun. Maaf... Sella, setiap melihatmu aku malah membayangkan Dia. Aku benar-benar tidak bisa melalui ini lagi.”


Bara menghempas tubuhnya dia atas ranjang. Mencoba menutup telinganya, tapi ia tetap saja seakan mendengar suara Lisa yang meminta kembali padanya.


****

__ADS_1


Sella yang sedang ditinggalkan pada akhirnya hanya biasa melalui makan malam itu sendirian tanpa di temani sang suami seperti biasa.


“Loh, kok sendiri Non. Bapak Mana?” Bik Neti bertanya heran.


Sella menatap malas pembantu suaminya itu. Perasaannya entah mengapa Bik Neti ini terkesan terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangganya, dan Sella tak menyukai itu.


“Di kamar, Bik. Katanya lagi capek,”


“Aduh... Kenapa tidak kamu panggilkan, kalau suami kamu kelaparan bagaimana. Lagi pula Bapak itu kalau sedang banyak pikiran memang suka telat makan, sebaiknya Non antar saja makanannya ke kamar atas. Dulu Nyonya Lisa juga sering melakukan itu.”


Sella mendelik mendengar ucapan wanita tua itu yang ikut menyebut nama wanita yang sedang menjadi masalah dalam rumah tangannya.


“Bibi bicara apa? Lagi pula saya istrinya, saya yang lebih tahu.” Sella menahan dirinya agar tak marah-marah. “Bibi mau pulangkan? Sana pulang, sudah malam juga!”


Dia bukanlah orang baik yang bisa bersikap lembut pada orang menyinggungnya. Sella akui, mungkin dulu Mbak lisa lebih baik menjadi istrinya mas Bara. Tapi apa pantas wanita tua ini menyebut dengan jelas di depanya.


Sedangkan Bik Neti yang ucapannya di jawab ketus oleh sang istri majikan hanya bisa mengelus dada.


“Aku tahu. Tapi aku juga tipe orang yang tidak suka jika kehidupan pribadi di campuri oleh orang asing!”


Kali ini wanita itu benar-benar terdiam. Mungkin tersinggung atau Malu dia buru-bur berpamitan Pada Sella untuk pulang.


Saat Bik Neti sudah berlalu pergi, Sella membuang nafasnya dengan kasar. Diam-diam air matanya mengalir di pipi tirusnya.


Ketika ia kembali ingat dengan semua yang terjadi, rasanya Sella ingin menyerah. Tapi rasa dan cinta ini... Ia sudah terlalu dalam menyelam pada cinta palsu yang suaminya berikan. Ia terlalu nyaman berada di istana ini sampai tak menyadari jika sebentar lagi mungkin pemilik yang sesungguhnya akan datang dan mengusirnya keluar.


Ya tuhan... Dia tidak tahu pada siapa untuk mengadu. Keluarga yang di punya sudah hancur, ia bahkan sudah tak mempercayai mereka lagi.


****


Di sisi lain, tepatnya di sebuah rumah yang cukup mewah. David datang menemui mantan istrinya, Zana.

__ADS_1


Kebetulan di rumah hanya ada Zana dan pembantu saja, karena itu mereka bisa berbicara bebas di dalam rumah itu. Berbeda jika mungkin ada anak-anak mereka, mungkin David akan memaksa mantan istrinya itu pergi hanya untuk sekedar mengobrol.


“Kenapa Sella masih saja gak kamu yakinkan masuk ke perusahaan, apa kamu gak membujuk dia?” David beratap Zana dengan putus asa.


“Kenapa kamu selalu saja mendesakanku mas. Kamu sendiri saja meyakinkan dia sana!”


“Kamu jangan bercanda. Untuk bertemu denganku saja dia sudah tidak mau sekarang, bagaimana mungkin jika aku yang membujuknya. Zana... Ingat perusahaan ini tidak hanya untuk aku saja, tapi kita semua. Aku, kamu dan anak-anak kita, kamu mau kita kehilangan semunya?” David mengeram marah.


Zana tersenyum kecil. “untuk kita... Tapi tidak adil untuk Sella mas. Bagaimana jika dia tahu kamu membuat dia berada di atas surat perjanjian?!”


“Kita tidak punya cara lain, Na. Rena semakin hari mulai berhenti menyalurkan dana untuk perusahaan kita. Jika kita tidak membawa Sella, dan membuat wanita tua itu kembali menarik semua dana yang sudah dia beri, kita bisa bangkrut mendadak.”


“Apa gak ada cara lain membuat perusahaan kembali stabil?” Zana ikut merasa cemas dengan ucapan David.


Bagaimanapun ia dan anak-anaknya semua bergantung pada perusahaan, jika sampai bangkrut tidak hanya satu keluarga yang akan jatah miskin, tapi Tiga.


“Ada. Tapi meskipun begitu kita butuh waktu dan masih butuh suntikan dana dari perusahaan Bara.”


Zana menarik nafas panjang. Masalah inilah yang membuat mereka marah dan di tambah dengan perselingkuhan suami yang terkuak, dan mereka berakhirlah pisah. Tapi meskipun Begitu Zana tak menampik, ia juga ikut menikmati hasil dari perusahaan.


Jadi apakah dia juga ikut menjual putrinya sendiri demi uang?


“Aku tidak berani memaksanya, Mas. Melihat wajahnya saja aku sudah ingin menangis karena rasa bersalah ini. Aku tidak ingin putriku terluka lagi karena kita.”


"Lalu harus bagaiman?"


"Lenih baik kamu temui langsung Nyonya Rena dan diskusikan dengan dia. Aku yakin sekeras apapun kita mencoba memaksa Sella, dia tidak akan mungkin mau memuruti keinginan kamu."


Diam-diam David membenarkan ucapan Zana. Mungkin tidak ada salahnya jika dia swcara pribadi mendatangi rumah besannya itu untuk berdiskusi.


.....

__ADS_1


__ADS_2