Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Mantan yang lebih tahu


__ADS_3

Tak ada yang berubah, semua terasa sama. Hanya saja sikap suaminya yang terasa perhatian membuat Sella sangat senang. Ternyata pria itu benar-benar menepati janjinya dengan belajar menerima dan mencintai dirinya.


Semua akan terasa indah jika dalam rumah tangga saling mencintai dan saling percaya. Sella mengakui itu, semenjak hubungannya membaik dengan Bara ia terlihat semakin ceria, tidak seperti dulu yang suka termenung.


“Mau bawa bekal kemana, Non?” Bibi bertanya dengan sedikit heran melihat sang nyonya rumah tengah menyiapkan makanan entah untuk siapa.


“Oh, ini Bik. Saya mau anyar makan siang buat mas Bara,”


“Loh, tumben Non. Memangnya non Sella sudah kasih tahu sama Tuan Bara?”


Sella menggeleng. Ia sengaja tak memberi tahu karena memang ingin memberi kejutan, Ia juga ingin melihat bagaimana suaminya itu bekerja di kantor seharian.


“Kenapa tidak m3mberi tahu non, bagaimana kalau dia tidak di kantor nanti tapi bekerja di luar, atau mungkin nanti dia marah karena takut non kenapa-napa di jalan. Kasih tahu aja, Non.”


Sella merasa tak mengerti mengapa Bibi Neti begitu keras menyuruhnya menelepon Mas bara.


“Kenapa harus di kasih tahu, Bik? Apa salahnya saya pergi ke perusahaan suami saya sendiri. Lagi pula jika dia marah itu kenapa? Aku pasti akan berhati-hati di luar nanti.” Sella menatap tajam pekerja di rumah suaminya itu.


“Lagi pula aku hanya pergi mengantar makan siang suamiku, kenapa Bibi kawatir seperti itu?” pertanyaan itu membuat Bik Neti gelagapan sendiri.


Sella tersenyum kecil. Melihat sikap wanita paruh baya itu membuat ia berpikir, memangnya ada apa di kantor suaminya?


“Maaf, Non. Bukan begitu maksud bibi, tapi...,”


“Sudahlah, Bik. Aku juga cuman bercanda. Oh ya... Tolong bibi juga jangan kata apapun sama mas Bara ya, saya benar-benar ingin membuat kejutan nanti.”


Wanita itu memperlihatkan senyum manisnya sebelum berlalu pergi membawa bekal untuk sang suami.


....


Tiba di perusahaan Sella meminta pada seorang resepsionis mengantarnya ke ruangan Bara. Karena ia belum pernah datang ke sini, jadi dia tidak tahu di mana letak ruangan sang suami


“Mbak Sella benar-benar istrinya Bapak Bara?” salah satu dari mereka bertanya dengan penasaran.


“Iya, Mbak. Memangnya kenapa bertanya seperti itu?”


“Eh... Bukan apa-apa, Mbak... Eh ibu bos. Soalnya kan yang sering datang belakangan ini Mbak Lisa. Saya pikir dia yang istrinya Pak Bara.”


Mendengar ucapan rekanya, teman yang lain lekas menepuk bahu gadis itu memperingati.


“Kamu ngomong apa Na!” Gadis yang di panggil Na itu langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.


Sedangkan Sella, meskipun dia sedikit sedih mendengar ucapan salah satu resepsionis itu, tapi ia tetap tersenyum.


Dia sudah memilih menyerah dan percaya pada suaminya, jadi ia tidak terlalu berpengaruh jika ada gosip seperti ini.


“Ya udah... Kalau begitu biar saya antar Ibu ke ruangan Pak Bara.” Ujar gadis itu menunjuk jalan Pada Sella.

__ADS_1


“Terima kasih,”


Mereka menuju ke ruangan paling atas dengan bantuan Life. Sepanjang di dalam kota persegi itu Sella tak lagi bertanya, ia terlalu fokus dengan memikirkan respons apa yang suaminya itu berikan nantinya.


Marahkah? Atau mungkin senang?


Sampai dilantai atas mereka langsung meminta izin pada Sekretaris yang juga asisten Bara. Siapa lagi kalau bukan Wil, pria yang menjadi kepercayaan Bara.


Pintu diketuk dengan sopan, lama tak mendengar jawaban dari dalam membuat Ia menjadi gugup. Tapi saat ketukan yang ke lima kali, baru terdengar seseorang berseru menyurih masuk.


“Silakan masuk, Bu Sella.” Wil berucap dengan sopan mempersilahkan sang istri bos untuk masuk.


“Terima kasih,”


Ia segera mendorong pintu kaca yang tidak tembus pandang itu dengan berlahan. Karena dia masuk sendiri, jadi mendadak Sella merasa gugup, takut saja dengan respons suaminya nanti.


“Ada apa, Wil?” Bara bertanya tanpa menoleh.


Sella yang melihat itu berdecak kesal. “Ini aku, Mas. Bukan Asisten kamu,” ujar Sella bersuara.


Bara yang mengenali suara istrinya di buat terkejut. Menatap tak percaya keberadaan istrinya yang berdiri di depanya, Bara langsung meninggalkan mejanya menuju Sella yang terlihat cemberut.


“Kamu kok bisa di sini?”


“Aku mau antar makan siang buat kamu, Mas. Gak apa-apa kan,”


“Memangnya kenapa? Kamu gak senang aku datang ya, Mas?”


“Bukan begitu, Sel... Kamu tahu saya itu selalu sibuk. Bagaimana jika saya sedang tidak di dalam kantor tapi keluar bertemu kalian?”


Sella mengangguk mengerti. Dia langsung memeluk Bara dengan senang, “Baiklah... Tapi sebelum itu ayo makan, Aku sudah siapkan makan enak buat suamiku,”


Bara terkekeh geli. Melihat Sella bergelayut manja membuat dia senang, “kalau begitu kamu harus ikut makan sekalian.”


Tentu saja Sella mengangguk dengan semangat. Meskipun dia masih merasa kenyang, tapi dia tak akan menyia-menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


Selesai menghabiskan makan siang Sella tak langsung pulang. Bara mencegahnya, karena sebentar lagi dia juga akan ikut pulang.


Pukul tiga sore akhirnya Bara menutup Laptopnya. Dia langsung merapikan barang-barangnya, karena pekerjaan selesi jadi dia memilih ikut pulang bersama sang istri.


“Ayo pergi!” Sella langsung menggenggam tangan yang terulur padanya itu. “jadi mau kemana dulu sebelum pulang?”


“Mm... Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, Mas. Kita belum pernah jalan berdua kan, anggap saja ini sebagai kencan. Bagaimana?”


“Ide bagus.”


Mereka langsung keluar. Melewati karyawan yang menatap mereka penasaran, Sella memilih acuh dan tetap menggandeng tangan sang suami dengan mesra.

__ADS_1


Sampai di parkirkan mereka langsung meluncur ke Mal terdekat. Kali ini Bara membawa sang istri di tepat belanja yang cukup mewah, Mal yang biasa tempat para orang kaya berbelanja dengan harga fantastisnya.


“Mas, aku rasa kita cari Mal lain aja kalo ya... Di sini terlalu mahal mas,” Sella berkomentar saat mobil mereka sudah berhenti di basemen mal itu.


“Hey, kamu lupa siapa suami kamu. Jangan membuat malu saya... Apapun yang kamu inginkan nanti pasti mampu saya bayar.”


Sella terkekeh geli. Untuk pertama kalinya ia mendengar pria ini berkata sombong seperti ini didepanya. Dan sialnya di mata ia malah menjadi memesona, benar-benar membuat ia gemas.


“Iya, iya. Aku taju kamu kaya, Mas.”


Merka segera masuk ke dalam Mal dengan saling bergandengan tangan. Sella ya g melihat tangan mereka yang saling bertaut diam-diam m3ngambi potretnya.


‘Ku tidak percaya kamu bisa menerimaku seperti ini, Mas.”


Mengunjungi beberapa toko baju, akhirnya Sella membeli beberapa pasang pakaiannya dan juga pakaian Bara. Bahkan tanpa sepengetahuan Bara ia juga membeli beberapa lingerie, ia ingin memberi kejutan untuk suaminya itu nanti malam.


Tapi saat mereka memasuki toko sepatu tak sengaja malah berpas-pasan dengan Lisa.


“Mas Bara, Sella? Kalian di sini juga berbelanja?” Lisa tersenyum senang. Ia segar menyapa Sella dengan ramah.


Berbeda dengan Sella yang merasa dongkol. Bara malah tersenyum lebar menyambut sapaan sang Mantan istri.


“Iya... Hari ini Sella ingin berbelanja,”


“Wah, Pas sekali. Aku juga lagi belanja, Mas. Kalau begitu bagaimana kalau kita belanja bersama-sama saja.” Ajak Lisa menatap dua sejoli di depanya.


Sella ingin menolak, tapi belum dia berucap Bara lebih dulu menyahut ajakan Lisa.


“Tentu saja boleh. Kamu juga bisa membantu Sella, dia pasti suka dengan pilihan kamu.”


Diam-diam Sella mengepal tangannya. Mendengar saran suaminya entah mengapa ia merasa tak suka.


“Aku bisa pilih sendiri, Mas. Lagi pula selera kami pasti tidak sama,” bantah Sella.


“Kamu tidak tahu, Lisa ini sangat pintar memilih Fashion. Jadi kamu belajar saja dari dia ya, kamu pasti akan sangat senang.” Ujar bara bersikeras.


Meskipun kesal, tapi Sella terpaksa ikut saja saran suaminya itu. Akhirnya mereka memilih dua pasang high heels.


Sella menatap malas dua pasang barang itu. Dua sepafu pilihan Lisa dan Bara langsung menyetujuinya, Sella berjanji ia tidak akan memakian barang itu antinya.


"Saya bilang apa, kamu pastibakan cantik memakinya." puji Bara.


"Tapi aku gak suka warnanya, Mas. Ini terlalu cerah,"


"Gak kok, Sel. Sepafu igu cocok dengan kaki kamu yang putih, jadi Mbak pilih itu." Lisa langsung menyuarakan pendapatnya. "Lagi pula mas Bara itu suka warna Biru seperti itu, dia pasti senang lohatbkamu memakinya."


Lalu pada akhirnua dia bisa bilang apa? Ya menerima dengan tidak lapang dada. Sella mengambil dua sepatu iyu dengan malas.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku tidak tahu aku pakai nantinya atau tidak." ujarnya acuh meningalkan Bara yang menatap tajam.


__ADS_2