Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Punya anak?


__ADS_3

“Kamu kenapa lagi? Kemarin sudah bahagia, sekarang sedih lagi?” Embun menatap prihatin sahabatnya yang berwajah lesu.


“Biasa lah... Apalagi kalau bukan masalah suamiku,” ujar Sella dengan malasnya.


“Kenapa lagi? Bukanya kemarin bilang kalian sudah bahagia.?”


Sella mengerucut bibirnya. Jika dengan sang sahabat dia benar-benar terbuka dan mudah menceritakan banyak hal. Meskipun ada beberapa hal privasi yang dia sembunyikan.


“Kenapa sih bikin pria move on itu susah bangat sih. Aku kesal Em. Mas Bara masih begitu memedulikan mantan istrinya, bahkan sampai melupakan aku.”


Embun yang sedang menyusun barang-barang jualannya segera berhenti dan menatap Sella dengan prihatin.


“Itu memang risiko menikahi Duda. Apalagi duda ditinggal bercerai, susah Sel kalau kamu mau merebut hati dia. Pasti masa lalu akan selalu menghantui hubungan kalian.”


Bukanya memberi kata-kata semangat, tapi Embun malah mengucapkan realitas dan membuat mood nya semakin hancur. Wajahnya semakin terlihat sedih, membuat embun merasa tak tega.


“Udah, kamu lupakan semua masalah kamu. Jangan ingat yang buruk, tapi ingat juga yang baik suami kamu lakukan. Mungkin sekarang dia hanya sedang khilaf.” Ujar Embun menasihati.


“Khilaf kok di ulangi lagi. Hari ini aja dia pagi-pagi sudah pergi ke rumah sakit untuk menemani mantan istrinya itu.”


“Kamu tahu dari mana?” Embun memicing matanya. Jangan bilang kalau temnya ini sudah sampai ke tingkat yang ekstrem. “Kamu gak memata-matai dia kan, Sel?”


“Mm... Aku pasang pelacak di bawah mobilnya.”


Embun hampir saja menjatuh barang di tangannya mendengar ucapan Sella. “Gila kamu, Sel. Kok sampai segitunya?”


“Ya mau bagaimana lagi, dia yang bikin aku gak percaya.” Ujar Sella, “asal kamu tahu, Em. Dia bahkan sering berbohong bilang lembur karena kerja di kantor, tapi sebenarnya dia pergi dengan anak dan mantan istrinya jalan-jalan.”


Ya, Sella tahu jika Bara sering berbohong padanya. Dia juga tahu Bara sering menghabiskan waktu berdua saja dengan mantan istrinya tanpa arya, karena Ia pernah melihat sendiri mereka pergi berduaan, hanya saja suaminya itu yang tidak tahu.


Embun menatap sendu temnya itu, “jadi kamu pasti sangat berat.”


Sella mengangguk, jadi dia memang sangat berat. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur jadi suami istri dengan pria seperti Bara.

__ADS_1


“Jadi bagaimana dengan kakakku? Apa hubungan kalian sebenarnya,”


Pertanyaan Sella lagi-lagi membuat Embun terkejut. Wanita itu menatap horor sang sahabat.


“Kamu... Heh, ternyata kamu gak cuma jadi penguntit suamimu, tapi juga kepoin urusan aku?!” Embun menatap tajam. Kesal sendiri saat tahu jika Sella juga memata-matai dirinya.


“Siapa bilang. Aku tahu dari Bang Vanka tahu! Dia yang cerita kalau dia naksir kamu.”


“Eh..,”


Sella terkekeh geli melihat wajah Embun yang memerah. “Kenapa? Kamu malu ya?”


Malu?


Sebenarnya ia bukan malu, tapi hanya merasa segan pada keluarga sahabatnya ini. Statusnya yang janda membuat ia merasa tak pantas bersama Vanka, apalagi mereka dari orang berada.


Terlepas dengan masalah kedua orang tuanya. Tapi saat ini keluarga Sella masih termasuk keluarga yang disegani.


“Memangnya dia cerita apa?” tanya Embun dingin.


“Kamu tidak menyukai Abangku ya?” bukanya menjawab Sella malah balik bertanya, “padahal dia sudah berencana serius sama kamu lo, Em. Masa kamu gak ada rasa sedikit pun sama dia,”


“Memangnya keluarga kalian mau menerima aku ini yang seorang janda?” Embun tersenyum sinis, “berteman saja sama kamu aku sudah bersyukur, Sel. Aku gak se percaya diri itu ingin menjadi menantu keluarga Kusuma.”


Sella mendengus mendengar itu. Apanya yang sehebat itu keluarganya sampai-sampai Embun harus minder, padahal mereka kan tidak pernah membeda status. Oh... Dia lupa Mamanya sama papanya kan gila nama baik.


“Susahlah... Aku hanya bertanya, urusan kalian berdua aku tak ingin ikut campur. Tapi sebelum itu perlu aku ingatkan, Em... Kakakku itu pria yang gigih. Jika dia sudah menyukai sesuatu dia akan berusaha sampai mati untuk mendapatkannya. Jadi kamu harus bersiap-siap mentalmu menghadapi kegilaannya.” Sella mengedip matanya.


Embun hanya memitar matanya tanpa peduli dengan peringatan sang sahabat. Dia pikir ucapan Sella hanya omong kosong yang ingin menakut-nakutinya saja.


****


DI RUMAH SAKIT

__ADS_1


Bara dengan telaten menyuapi Lisa yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Efek dari penyakit Hemofilia yang di derita Lisa membuat wanita itu mengalami demam tingi dan juga muntah-mutah.


Bara yang mengetahui itu tentu saja merasa tak tega. Karena itu pagi-pagi sekali dia sudah datang dan mengurus Lisa dengan tangannya sendiri. Dia bahkan sampai rela tidak masuk kantor dan mengambil libur.


“Udah, Mas. Aku gak mau makan lagi,” ucap Lisa menolak suapan dari Bara.


“Tapi kamu baru makan tiga sendok, Lis. Makan ya, biar kuat. Aku gak tega lihat kamu seperti ini.”


Bagaimanapun Bara membujuk, Lisa tetap menggeleng. “Gak mau. Pahit, aku sudah kenyang.” Lisa mengerucut bibirnya tanda merajuk pada Bara yang terus saja membujuknya.


Di tahu Bara tidak akan bisa marah padanya, apalagi dalam keadaan sakit seperti. Lihatlah baru saja dia berkata dalam hati pria itu sudah membelai pucuk kepalanya dengan sayang.


“Baiklah... Kalau begitu saya jemput anak kita ke sekolah dulu. Kamu baik-baik ya,” ujar Bara sebelum berlalu pergi meninggalkan Lisa.


Jam satu siang, waktunya Arya pulang dari sekolah. Berhubung Mantan istrinya itu masih sakit, jadi di yang bertugas menjemput dan mengurus anaknya.


Saat dia baru keluar dari ruang rawat Lisa, ponselnya berdering kencang. Melihat nama Sella yang ada di layar ponsel, Bara langsung menolaknya tanpa berpikir dua kali.


“Aku harap kamu mengerti, sel. Aku benar-benar ingin menjaga dan merawat Dia. Aku mohon kamu mengerti dan sabar menungguku,”


***


“Kenapa? Apa Bara tidak mengangkat teleponmu?” Rena mendengus kesal. “kamu itu kadi istri bagaimana sih, Sella. Tujuan Mami menikahkan kamu itu sama anak mami supaya bisa jauhkan Bara dari wanita masa lalunya. Tapi kamu... Kenapa sangat tidak berguna.” Wanita tua itu terlihat menahan rasa gramnya.


“Kata mas Bara tadi di ke kantor, Mi. Mungkin dia sedang sibuk kerja.”


“Kerja apanya. Mami sudah dari kantor Bara tadi, tapi suamimu gak ada.”


Jelas saja tidak ada karena bara memang sedang di rumah sakit menjaga mantan Istrinya. Ingin Sella mengatakan yang sebenarnya, tapi ia takut Mertuanya ini menyalahkannya dan kembali mengatakan dia istri yang tak berguna.


Padahal kan yang salah anaknya yang tidak bisa move on.


“Bagaimana kalau mami saja yang telepon? Soalnya mas Bara memang tak suka jika aku yang menghubunginya,” ujar Sella memberi saran.

__ADS_1


“Kamu benar. Sepertinya lebih baik Mami yang menghubunginya. Tapi Sel... Kamu sama Bara apa sudah berencana mempunyai anak?”


Eh?


__ADS_2