
Bara menatap pintu rumah menunggu kepulangan istrinya yang tak juga sampai. Sudah setengah jam dirinya menunggu, dan saat dia kembali mengingat taksi Sella bersama pria yang menjadi mantan kekasih istrinya darah Bara kembali mendidih.
Tak hentinya ia mengumpat, bahkan sudah dua buah gelas menjadi pecah karena pelampiasannya.
“Sial! Kemana wanita itu!”
Tepat saat ia kembali mengayun kelas ke tiga, Sella datang membuka pintu dan langsung terkejut melihat suaminya yang sedang mengamuk.
“Mas?” Sella merasa tercekat melihat tatapan intimidasi dari Bara.
Kali ini apa lagi kesalahannya?
Oh, atau jangan-jangan....
“Beraninya kau pergi tanpa seizinku! Sella, apa kau tidak tau di mana posisimu! Dasar wanita tidak tau di untung, tidak tahu membalas budi. Begini caramu berperilaku di belakangku!” Tanpa menunggu Istrinya menjelaskan, Bara langsung mencercanya dengan makian.
“beraninya kau pergi menemui selingkuhanmu di belakang ku! Benar-benar murahan. Padahal saya masih menjadi suami sah kamu, tidak bisakah kau menghormatiku
Prakk
Gelas itu langsung hancur di ujung kaki Sella karena di lempar kuat. Sella gemetar ketakutan melihatnya, ia semakin ketakutan melihat serpihan kaca sudah mengores kakinya.
“Dari mana kau? Pergi bersama lelaki itu lagi. Dasar murahan!”
Deg
Rasanya ini hal yang menyakitkan yang pernah Ia rasa. Jantung dan hatinya rasa tertusuk mendengar penghinaan langsung dari mulut suaminya.
Rasanya benar-benar membuat hatinya remuk, Sella menatap Bara yang masih diliputi kemarahan di depanya.
“Kau mengumpatku murahan, Mas? Atas dasar apa kamu menghinaku?”
“Atas dasar kau wanita yang telah ku beli! Jangan lupa berapa keluargamu memoroti uangku dan menukarkan dengan dirimu! Atas dasar itu, apa kau mengerti!”
Sunyi.
Waktu seakan berhenti setelah ucapan itu terucap dari bibir Bara. Apalagi Sella, sinar mata yang tadi masih ingin berdebat dengan sang suami berlahan mati menjadi gelap membuat siapa saja tahu apa yang tengah gadis itu rasakan.
‘wanita yang telah ku beli...beli...beli’
Seakan kata-kata itu bermain di dalam benaknya tanpa henti.
Entah mengapa rasanya benar-benar sakit. Sella mencoba mendekati Bara yang ikut terdiam, mungkin dia bulai merasa bersalah dengan ucapannya. Tapi Sella tak yakin dengan itu, nyatanya tatapan marah dan benci jelas masih tergambar di wajah pria yang dia cintai ini.
“Apa hanya begitu hargaku di matamu, Mas?” Sella semakin dekat, menuntut jawaban dari Bara uang terdiam saja. “Lima bulan aku menjadi istrimu, lima bulan aku melayanimu. Jadi di matamu selama ini hanya wanita yang kau bayar? Kamu tidak pernah melihatku sebagai istrimukah?”
__ADS_1
Diam
Bara hanya terdiam tanpa menjawab. Tapi kemarahan tentu masih tercetak jelas di wajahnya. Kecemburuannya melihat Sella masih bertemu dengan Kaif sudah tertanam jelas dalam otaknya.
Tes..tes...tes
Sella menangis melihat sang suami diam seolah mengiyakan ucapannya. Jadi benar selama lima bulan berumah tangga Bara tidak pernah memiliki rasa. Ternyata dia hanya pelampiasannya saja.
“Kamu menghakimiku setiap saat. Lalu bagaimana dengan mu, Mas? Kamu setiap hari berselingkuh dengan mantanmu, apa pernah aku marah dan memaki dirimu?!”
“Saya tidak selingkuh! Ini beda. Jangan kau semakan dirimu dengan Lisa, dia wanita baik-baik tidak sepertimu yang pergi menemui lelaki lain di belakang ku.” bela Bara tak terima dirinya di tuduh selingkuh dengan wanita yang di cintainya.
“Jika dia wanita baik-baik apa pantas masih mengejar suami orang! Seharusnya dia juga mikir perasaan aku jika dia memang wanita baik-baik. Dia lebih murahan dari aku..,”
“Sella!”
Pelak!
Suara tamparan nyaring membuat semua kembali hening.
Sella yang di tampar telah terpental sampai jatuh di samping sofa. Ia linglung mencerna apa yang baru saja ia dapatkan, rasanya sungguh membuatnya terkejut.
Tamparan!
Ya tuhan. Kenapa rasanya teramat sakit. Kenapa ia harus merasakan cinta sepihak begini. Kenapa rasanya rasa sakit ini datang tanpa henti dan menghunjam relung hatinya yang terasa hampa.
Lagi-lagi hanya rasa sakit yang suaminya beri, kenapa tak pernah rasa sayang yang dia dapatkan.
Belum sempat Sella membalas, Bara sudah berancak pergi meninggalkan Ia yang masih mematung terdiam linglung.
“Mas!”
Bara tak menoleh, ia terus berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Kenapa rasanya sesakit ini. Meskipun dari awal dirinya tahu telah di gadai oleh orang tuanya, tapi mendengar sendiri dari mulut mas Bara kenapa jadi berkali-kali lipat sakitnya.
Sella berusaha bangkit, tak ada niat di hatinya untuk mengejar Bara ke lantai atas, karena ia sendiri tak berani menginjakkan kaki di sana, atau nanti akan kembali mendapat amukan yang lebih sadis.
Tapi kenapa ia juga mulai penasaran!
Tak sengaja saat ia ingin melangkah masuk ke dalam kamarnya, Sella malah melihat Bik Neti terlihat sedang mengintip di balik dinding. Ia tersenyum kecut, melihat gelagat pembantu itu Sella tahu Bik Neti itu punya niat padanya.
“Pelayan pun tak menghargaiku di sini, huh!”
****
__ADS_1
Pagi harinya Sella bangun seperti bisa. Hari ini ia sudah bertekat untuk melupakan semua yang terjadi, ia haris fokus dengan apa yang dia rencanakan. Meskipun masih marah dan kecewa, tapi Sella merasa apa yang di katakan Bara benar.
Dan hari ini dia harus sadar diri. Sebentar lagi, ya hanya sebentar lagi ia harus bersabar. Ia yakin setelah ini semua pasti akan lebih baik.
Saat ia keluar Sella tak sengaja berpas-pasan dengan sang suami. Gadis itu tak menyapanya kali ini, jika biasanya dia akan menempel pada Bara maka kali ini dia memilih menjauh.
Saat sarapan pun juga hening. Tapi saat Bara ingin beranjak Sella langsung mencegah.
“Ada apa?” tanya bara dengan dingin.
“Hari ini aku ingin pergi ke luar.”
Bara menatap malas. Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah kartu di dompetnya. Awalnya Sella ingin mencegah, tapi ucapan tajam Bara membuat dirinya kembali kesal.
“Ambil! Jangan mencari pria lain lagi, apa kau pikir saya tidak bisa menafkahimu sampai harus pergi makan dengan pria lain.”
“Mas...”
“Jangan mengajak saya bertengkar pagi-pagi! Dan satu lagi, kamu bisa meminta apapun padaku, tapi jangan sekali-kali kau berani mengatur dan membatasi hidup saya untuk bersama dengan anak dan wanita yang saya cintai. Ingat siapa kamu!”
Diam
Sella hanya bisa meremas tangannya menahan rasa sakit. Terlalu tidak adil untuknya, tapi lagi-lagi bukankah dia harus sadar diri?
Sampai Bara berlalu pergi ia hanya terdiam. Setelah kepergiannya baru dirinya berdiri dan ikut mengambil tas jinjingnya.
“Bik!” Sella berteriak memanggil Bik Neti.
“Iya Non. Kenapa?”
Sella menatap dingin wanita paruh baya itu. Ia ingat tadi malam wanita ini mengintip dan juga ada beberapa kali momen Sella yakin pembatu satu ini memprovokasi suaminya. Seharunya dia memberi sedikit pelajaran kan?
“Bik tolong buatkan sop ayam dan juga beberapa masakan lain siang ini. Sekalian tolong bibi antar ke rumah Mami Rena. Bisa?!” Sella sedikit menekan di ujung kalimat seolah menegaskan agar wanita itu tak menolak.
“Loh, tapi non...,”
“Udah gak usah banyak alasan. Ini permintaan Mami langsung tadi malam jadi lakukan, atau Bibi mau di pecat?”
Bik Neti langsung menggeleng, tentu saja ia tak akan mau di pecat. Meskipun dia merasa tak senang dengan ini, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyimpan kekesalan di dalam hati.
Sedangkan Sella ia tersenyum licik. Ia sudah memikirkan ini, karena beberapa kali mencurigakan ia yakin pelayan satu itu pasti mata-mata dari Lisa untuk memantau dirinya.
“Kamu akan merasakan pembalasan ini, Bik. Bersiaplah akan di remuk oleh ibu mertuaku!” gumam Sella dalam hati.
Karena ia sudah mengadu pada ibu mertuanya tadi malam tentang kedekatan Bik Neti, dan juga Sella mengatakan jika wanita itu pendukung kuat untuk suaminya bersatu kembali dengan Lisa. Mendengar itu tentu saja Mami Rena sangat murka. Dan Ia hanya membantu sedikit dengan mengirim wanita paruh baya itu ke rumah mertuanya, dari pada Mami rena yang datang kesini dan membuat gaduh kan?
__ADS_1