Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Pulang ke rumah suami


__ADS_3

Pagi itu rumah sudah kembali sibuk. Sella yang sudah bangun dari pagi dan jam 10 siang dia sudah siap di hias kembali sedemikian rupa.


Ratu sehari itu tak henti-hentinya mendapatkan pujian dari sanak saudara. Kecantikan Sella yang selama ini banyak di kagumi orang-orang dan hari ini terlihat dua kali lipat lebih cantik dari biasanya.


"Ayo siap-siap. Sebentar lagi mobil yang menjemput Pengantin akan segera sampai."


Zana segera menghampiri putrinya. Di hari ini hari dimana putrinya akan pergi dan pindah ke rumah suaminya.


"Ma, Mas Bara datang jemput juga?"


"Loh, iya dong sayang. Gak mungkin Anak Mama pergi begitu saja tanpa di jemput sama mempelai laki-lakinya." Sella menganguk mengerti dengan apa yang di katakan Mamanya.


Maklum saja dia kurang mengerti dengan adat dan budaya. Selama ini kan dia hanya tahu kerja dan kerja saja.


Resepsi yang di lakukan hari ini di rumah mempelai pria akan menjadi hari sekaligus kepergian mengantar sang mempelai wanita ke rumah mertuanya.


Zana merasa sedih. Setelah ini putrinya pasti akan jarang bertemu dengannya lagi.


"Nak... Kamu baik-baik di sana ya. Jadi istri yang baik. Ingat pesan Mama tadi malam," ucap Zena.


"Iya, Ma. Akan aku selalu ku ingat nasehat Mama."


Namun, dalam hati tentu saja masih meragukan. Zana tak lagi berbicara, wanita itu segera memboyong sang anak untuk masuk ke dalam mobil yang sudah datang menjemput mereka.


Sella mangucapkan terima kasih pada saudara-saudara di sana. Memang tak semuanya yang pergi. Hanya beberapa orang yang terdekat saja.


.....


Pesta pernikahan yang tidak terpikirkan oleh Sella selama ini. Ternyata perjanjian jika mereka melakukan pesta kecil-kecilan itu benar bagi keluarga Bara.


Nyatanya pria itu bahkan mengundang orang lebih dari seribu undangan.

__ADS_1


Sella yang sedari siang berdiri merasa sangat lelah. Padahal ini belum separuh waktu, tapi capeknya sudah mau membuat dirinya pingsan saja.


"Kamu lelah?" Tiba-tiba Bara bertanya, "kamu tahu kan ini belum beberapa jam. Kalau gak kuat duduk saja dulu,"


"Tapi tamu sedang banyak... Apa tidak apa-apa?"


"Kalau kamu kuat tidak apa-apa. Tapi kamu harus tahu, ini belum seberapa, sebentar lagi akan semakin banyak tamu dari Mami."


Sella tak ingin dirinya nanti benar-benar pingsan karena terlalu lelah. Karena mumpung sedikit sepi dia gerakkan istirahat.


Benar saja, baru setengah jam berlalu tamu undangan membludak. Sella bahkan hampir jatuh pingsan saking capeknya, tapi untungnya sang Mami mertua mengerti dan segera menyuruh sang menantu untuk kembali ke kamar lebih dulu.


Tentu saja itu tidak langsung membuat dirinya bahagia.


Nyatanya saat malam ternyata pesta itu berlanjut membuat dirinya benar-benar tak percaya. Entah seberapa banyak yang di undang oleh keluarga Mami Rena.


Ia kembali di rias dan berganti gaun lain yang terlibat lebih simpel tetapi elegan dan cantik.


"Sella,"


Gadis itu terkejut melihat teman kantornya ada di pesta ini.


"Oh, ya! Serius kamu yang nikah? Aku tidak percaya ini, aku pikir orang lain saat melihat undangan. Tapi ternyata benar-benar kamu," Hera menutup mulutnya.


Pesta malam itu yang tidak mengharuskan pengantin untuk berdiri di atas pelaminan. Karena itu Sella memilih untuk bergabung dengan beberapa keluarga yang masih tetap tinggal.


Sedangkan Bara, jangan di tanya. Sella benar-benar tidak peduli kemampuan suaminya itu pergi, karena sepertinya pria itu sangat sibuk bersama teman-temannya. Lagi pula Pria itu juga tak perduli dengannya. Nyatanya sedari tadi dia berdiri sendiri di sini suaminya itu tak kunjung datang menghampirinya. Ia terlihat seperti pengantin yang di tinggal pasangan saja.


Tadi Sella juga menyapa beberapa rekan bisnis suaminya bersama Bara, hanya sekedar itu. Setelahnya ia memilih menghampiri keluarganya.


"Memangnya kenapa?" tanya Sella acuh. Sedikit tak senang melihat teman kantornya itu ada di sana.

__ADS_1


Melihat temannya itu sendiri Hera tak sungkan memperlihatkan senyum sinis nya.


"Nikah dengan duda yang sudah tua. Jika teman-teman kantor tahu apa yang akan terjadi? Kamu pasti akan sangat malu," ucap Hera tertawa.


"Aku tidak peduli! Hera, jangan mengajakku bertengkar sekarang," Sella mencoba memprigati temannya itu agar tak membuat keributan.


"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, Sel. Memiliki suami tua, apa kau menjual tubuh mu padanya?"


Meskipun dia tidak menyukai pernikahan ini. Tapi melihat orang mengejek dirinya tentu saja Sella tak terima.


"Apa yang kamu bicarakan! Apa kau pikir aku seperti mu? Jangan membuat keributan di acara ku!"


Andai saja Mamanya tidak datang. Mungkin Sella sudah mencakar wajah tamunya itu.


Tidak tahu bagaimana Hera bisa datang ke sini. Padahal dia sudah mewanti-wanti agar teman-teman kantornya tak akan ada yang datang dan mengetahui pernikahannya.


"Ada apa, Nak?" Zana datang menghentikan interaksi kedua perempuan itu.


"Mama...,"


Hera yang melihat itu segera beranjak pergi. Dia tentu saja tak ingin membuat masalah dan berakhir malu nanti. Jadi setelah mengejek rivalnya itu ia merasa puas hati.


"Kamu kenapa, Sella? kok sepertinya marah sama wanita tadi,"


Ia mengeleng, "gak ada apa-apanya kok. Oh, ya... Mama kenapa cari aku?"


"Oh... ini mama sama papa dan kakak kamu pamit pulang ya. Mama juga cari suami kamu tadi, tapi kok gak ada ya?"


Sella mengernyit heran. gak ada?


memangnya pria itu kemana?

__ADS_1


"Kalau begitu aku cari dulu ya, Ma. Mama tunggu sebentar,"


Sella segera berlalu dari sana. Dia berdecak kesal melihat sikap Bara yang mempermalukannya di pesta malam ini, bagaimana bisa pria itu pergi dan meninggalkannya begitu saja.


__ADS_2