Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Keinginan David


__ADS_3

Embun menatap sahabatnya tak percaya. Semenjak mereka pulang dari Sekolah kanak-kanak tadi Sella menjadi aneh sendiri.


“Kamu kenapa sih, dari tadi tersenyum terus.” Embun merasa jengah, “kamu gak macam-macam sama bocah itu tadi kan?”


“Memangnya apa yang bisa aku lakukan, Em. Kamu pikir aku apa?” tanya Sella sembari terkekeh kecil.


“Gak tahu. Tapi saat kamu bilang dia anak papamu dari wanita lain aku jadi berburuk sangka padamu.” Ujar Embun jujur.


Sella hanya tersenyum kecil. Dia tahu tadi Embun gak mendengar pembicaraan dirinya dengan Bunga, jadi dia tidak merasa perlu menjelaskan apapun pada temanya itu.


“Aku mau ke mal, hari ini sesuai janji aku akan mentraktir kamu,”


“Padahal tadi aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu lah mentraktir aku segala”


“Aku sudah berjanji, Em. Kamu harus mau, karena aku tidak mau punya hutang,” Jika saja yang dipakai untuk berbelanja uang ia sendiri, pasti Sella tak akan rela.


Tapi berhubung ini bukan uang miliknya, jadi dia tidak keberatan. Toh dia dengan Embun sudah sangat akrab, jadi dia tidak merasa rugi berbuat baik pada janda muda itu.


***


Zana menatap mantan suaminya dengan tatapan nanar. Meskipun mereka berpisah dengan kata talak saja, tapi tetap saja mereka bersua sekarang bukanlah sepasang insan lagi.


David yang tiba-tiba meminta bertemu mau tak mau Zana terpaksa menuruti.


“Kenapa lagi, Mas. Saya malas jika harus melihat wajah kamu terus,” tanpa rasa hormat atau sungkan lagi Zana langsung menunjukkan kebenciannya.


“Apa begini cara bicara kamu sama sua...,” David yang sadar ada kesalahan dalam ucapnya buru-buru berhenti.


“Kenapa, Mas? Sadar diri ya.” Zana tersenyum sinis, “ingat kamu sudah tidak punya hak lagi mengatur-atur akun mas. Jadi hentikan semua ini... Cukup sekali ini saja kamu mengancam saya dan memaksa minta bertemu.”


David menjadi bungkam. Tapi ia tak terlalu mengidahkan ucapan mantan istrinya itu, dia malah tertarik meneliti setiap inci wajah Zana.


David bisa melihat wajah yang dulu terlihat sangat terawat untuk dirinya sekarang berlahan terlihat mulai berkerut dan tak bersinar lagi. Mungkin karena terlalu banyak pikiran jadi garis-garis wajahnya mulai terlihat.

__ADS_1


David menarik nafas panjang. Berapa kali pun dia bilang menyesal tetap saja wanita ini tak akan mau kembali lagi bersamanya.


“Apa kamu benar-benar membenci aku sepenuh hati, Na?” pertanyaan lirih itu berhasil membuat mereka sama-sama membisu.


Hidup berpuluh tahun selama ini mana mungkin mereka bisa menghapus jejak cinta dan sayang hanya beberapa bulan. Jika diikuti hati mungkin mereka akan menjadi manusia bodoh, tapi sayang. Zana lebih mengikuti logikanya untuk memilih menyerah dari pada berbagi.


“Sebenarnya apa yang kamu inginkan, mas? Cepat bicara, kalau tidak aku akan pergi sekarang,”


David tidak punya pilihan lagi. “Aku dengar Sella tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Apa itu benar?”


Zana mengernyit heran. Dia tidak tahu masalah ini, karena ia memang tak pernah bertanya. Tapi masalahnya sekarang kenapa David bertanya masalah kecil seperti ini?


“Aku tidak tahu. Tapi kenapa kamu bertanya?”


David merasa geram saat lagi-lagi Zana membalasnya dengan sarkas. “Ingat, dek. Meskipun aku membuat kesalahan, tapi ingat dia tetap anakku.” Ia benar-benar merasa tak senang jika Melihat istri pertamanya itu memisahkan urusan anak-anak dengan dirinya. Aku hanya bau bilang... Kamu tolong bujuk Sella agar mau masuk ke perusahaan.”


Zana tidak tahu apa yang sedang di rencanakan David. Tapi mendengar permintaan pria itu dia sudah bisa menebak jika ada lagi rencanabaru dari David untuk mengorbankan putrinya.


“Kenapa gak kamu saja, Mas. Kamu tahukan... Sella tidak akan semudah itu mau masuk lagi kesana setelah dulu kamu tolak dia untuk bekerja di sana.”


Ahh... Dia yang terlalu bodoh menuruti semua ucapan pria itu dulu. Dia bahkan berkali-kali membaut anak-anaknya kecewa hanya untuk menyenangkan hati sang suami. Tapi siapa sangka akan ada hari ini sekarang, hari dimana ia menyesali semua kesalahanya.


"Tapi itu tugas kamu, Zana. Kamu ibunya... Kamu harua menyakinkan Sella agar mau masuk ke perusahaan."


Wanita itu hanya menatap suaminya dengan senyum remeh. "aku bukan lagi istrimu yang bisa kamu perintah seperti dulu, mas. jika kamu mau lakukan sendiri... Lagi pula kamu pikir akan sepeeti apa hancurnya anak kita itu nanti saat dia tahu ayahnya mengeorbankan dirinya hanya untuk kebahagian wanita lain?"


Lagi-lagi David melupakan jika Zana tidak lagi bisa dia atur aesuka hati.


"Kamu tahu akan prusahaan...,"


"Aku tidak mau tahu. Lalukan seperti apa yangvkamu inginkan, Mas. Tapi aku mohon kali ini tolng... Tolong jangan korbankan lagi Anak bungsu kita hanya untuk memuaskan Ego mu, mas."


David mengertak rahanya, ia merasa terpojok. Membujuk lagi Zana, tapi tetap saja Zana menolak.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaiaman?" tanya David putus asa.


***


Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Sella cukup terkejut mendengar cerita ibunya kalau sang Papa minta dia bergabung ke perusahaan.


Jika dulu dia dengan mudah akan menuruti semua ucapan Sang Papa, tapi sekarang tidak sama lagi. Dia berpikir pasti ada tujuan Papanya, jika tidak bagaimana mungkin dia mengambil keputusan ini. Lagi pula sudah ada Alvian yang mengelola bersama Melisa juga, tapi kenapa sekarang ia juga ingin di libatkan.


Bukankah dulu dia di tolak?


“Sebenarnya papa ingin apa dari aku?” Sella menatap malas pada Mamanya yang terlihat masih melamun. Mungkin masih memikirkan pertemuannya dengan David tadi siang.


“Ma,” Sella terpaksa memanggilnya sekali lagi. “udah lah, Ma. Gak usah di pikirkan lagi. Lagi pula aku gak ada niat buat gabung kesana. Cukup kak Melisa sama Bang Alvian di sana.” Ujar Sella memperjelas.


“Lalu bagaimana kalu papa kamu...,”


Sella tahu apa yang di khawatirkan ibunya. Dengan sikap David yang selama ini suka memaksa tentu saja Zana merasa khawatir. Tapi kali ini Sella ingin egois, lagi pula dia bukan lagi gadis kecil yang apa-apa harus menuruti semu keinginan Papanya. Sekarang dia seorang Istri dari pengusaha hebat seperti Bara, dia tidak ingin dia atur-atur lagi.


“Tidak perlu dikhawatirkan, aku yang akan mengurusnya.”


Meskipun semuanya akan semakin sulit kudepanya, tapi Sella juga muak. Dia sudah tidak percaya dengan Papanya.


"Ma, selain itu apa ada lagi yang papa katakan?"


"Tidak, kenapa?"


Sella mengeleng. Dia kembali ingat dengan pertemuan dia dengan anak papanya dengan Tati.


"Aku sudah punya rencana," Sella tersenyumblebar.


Merasa haru sudah cukup malam, Zana pamit pulang tanpa menunggu menantunya pulang dulu. Karena tadi Sella bilang suaminya akan lembir, jadi Zana tak ingin menunggu lagi.


"Mama pulang ya, ingat yang harus kamu pikirkan sekaran itu kebahagiaan kamu. Jangan pikirkan yang lain,"

__ADS_1


"Siap, Ma!"


__ADS_2