Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Meminta kesempatan kedua


__ADS_3

Bara yang pergi dari rumah mobilnya langsung meluncur kw sebuah kompleks yang cukup jauh dari rumah Maminya itu.


Pria itu terliat gusar, ada raut khawatir di wajahnya. Ia menancap gas mobil lebih kencang lagi, berharap bisa sampai lebih cepat. Dia bahkan terlihat kalut dengan pikirannya sendiri, sehingga dia tak mendengar ponselnya yang bergetar terus menerus.


Saat mobilnya berbelok ke kiri, tak sengaja ia malah menyenggol seorang pengendara motor. Bara mengerang kesal, jika bukan karena takut di gebukin masa mungkin dai lebih memilih kabur dan meninggalkan saja korbannya itu.


Bara keluar dari mobilnya, ia segera membantu pria paruh baya itu. Ada juga beberapa warga yang datang membantu.


“Mas, kalau bawa mobil hati-hati, dong. Mana ngebut-ngebut lagi, kalau bapak itu kenapa-napa bagaimana?” Seorang warga berseru pada Bara dengan marah.


“Maaf, pak. Tadi saya sedang buru-buru.” Ujarnya. Ia sera menghampiri sang bapak yang menjadi korban.


“Maaf, pak. Bapak gak apa-apa?” tanya Bara khawatir, “apa perlu di bawa ke rumah sakit, pak?”


Melihat bapak-bapak itu mendapati luka di siku dan juga di lutut. Bara mencoba Membujuk untuk di bawa saja ke rumah sakit.


“Aduh... Gak usah, nak. Sepertinya hanya lecet di luar,”


“Tapi lukanya... Bagaimana kalau saya bawa saja ke klinik terdekat, saya tidak mungkin membiarkan Bapak seperti ini tanpa tanggung jawab.”


Ia tidak punya waktu untuk bermain-main. Bara sudah sangat khawatir dengan seseorang, dan dengan adanya masalah ini membuat pejalannya terhenti.


Ahh... Dia merasa kesal sekali.


“Tidak usah, tidak usah! Sepertinya kamu juga buru-buru, Nak. Saya tidak apa-apa.” Ujar bapak-bapak itu.


“kalau begitu... Ini sedikit uang untuk berobat. Sekali lagi saya mohon maaf,”


Setelah bernegosiasi, akhirnya Ia hanya perlu membayar beberapa ratus ribu untuk si bapak itu pergi berobat. Setelahnya Bara langsung bergegas pergi lagi ke tujuannya.


....


“Ayah... Kenapa baru sampai? Bunda sudah kesakitan dari tadi,” Arya langsung memburu Sang ayah yang baru datang.


“Ada sedikit masalah tadi. Bagaimana dengan Bunda mu? Apa dia sudah baikkan?” Bara bertanya dengan khawatir.


“Iya. Mama sedang di kamar sekarang, tapi sepertinya perut bunda belum baikkan. Dia bahkan sampai nangis tadi.”


Bara semakin khawatir. Ya, tadi Arya yang meneleponnya saat di rumah mami, mengatakan jika Lisa sedang kesakitan. Karena itu dia buru-buru sampai ke sini.


“Memangnya kenapa dia bisa sampai sakit seperti itu?”


Arya mengangkat bahu, “aku tidak tahu. Tapi kata Bunda dia sempat jatuh di kamar madi tadi,”


“Kalau begitu ayo kita bawa Bunda mu ke rumah sakit,” Arya mengangguk setuju.


Bara lekas berlari masuk ke dalam rumah mantan istrinya itu yang di ikuti oleh Arya dari belakang. Saat sampai di kamar, ia bisa melihat Lisa yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Ia sungguh tak tega melihat wanita itu menahan kesakitan seperti itu. Lekas ia mengendong tanpa bertanya lagi.


“Mas Bara... Kamu mau bawa aku kemana?” Lisa bertanya dengan suara lirih.


“Kita ke rumah sakit. Sekarang kamu diam dulu, ya. Nanti perutnya tambah sakit.”


Lisa yang di perlakukan selembut itu tersenyum senang. Ia meringkuk dalam dekapan Bara tanpa bertanya lagi, toh dia memang sakit perut jadi menuruti ucapan pria itu dengan patuh.


Sampai di rumah sakit ia langsung mendapat perawan dari dokter. Setelah di periksa dokter, Tidak ada yang penting di cemaskan lagi, karena benturan dan juga saat itu Lisa juga sedang datang tamu bulan, karena itu nyeri di perutnya semakin parah.


Bara bernafas lega. Beberapa kali ia mengucapkan kata syukur, yang lagi-lagi membuat Lisa memperhatikannya dengan intens.


“Terima kasih ya, Mas.” Ujarnya. “Perhatian kamu membaut aku sangat senang. Aku gak percaya ternyata kamu masih takut ya lihat aku terluka dan merasa sakit.”


Ucapan Lisa membuat Bara tertegun sesaat. Dia merasa baru di sadarkan dengan perbuatan yang baru dia lakukan.


Apa iya dia masih sekhawatir itu pada keadaan Mantan istrinya?


Arya yang melihat Bunda dan ayahnya ikut tersenyum senang. “Aku senang lihat Buda sama ayah bersama-sama lagi, aku harap seperti ini terus ya,”


Bara memaksakan sebuah senyum agar wajahnya tidak terlihat kaku. Ia menganggap ucapan putranya hanya candaan saja, karena bagaimanapun anaknya itu masih anak kecil yang mulai merajak dewasa.


Suara bunyi ponsel membuat Bara tersadar dari lamunannya. Segera ia rogoh saku untuk mengambi ponselnya.


“Sella?”

__ADS_1


Ia baru ingat jika meninggalkan istrinya itu begitu saja. Tadi ia terlalu khawatir, karena itu dirinya tak memikirkan apapun. Untung saja ia membuat alasan yang cukup baik tadi.


“Aku... Angkat telepon dulu,”


Lisa mengangguk mengerti. Bara segera keluar dari ruang rawat itu dengan menekan tombol hijau di layar ponselnya.


“Halo... Kenapa kamu menghubungi lagi? Bukankah saya sudah katakan tadi, saya sedikit sibuk dengan pekerjaan.” tanya Bara sarkas. Meskipun berbohong, tapi Bara bisa mengendalikan suarnya dan terdengar benar-benar serius.


“Mas... Mami marah, katanya dia meminta mas pulang. Apa pekerjaannya tidak bisa di undur saja?”


“Kamu bicara apa, Sel. Beri alasan Sama Mami, saya benar-benar tidak bisa pulang sekarang.”


“Tapi..,”


“Sudahlah. Kamu urus saja, Mami. Beri alasan agar dia mengerti jika saya sedang sibuk,” ujar Bara lagi. "Dan lagi nanti kamu pulang sendiri, ya. Seprtinya saya akan pulang agak lama."


"Tapi, Mas. Mami...,"


Bara memutuskan panggilan itu setelahnya tanpa menungu ucaoan Sella selsai di sebrang sana. Ia mengusap wajannya frustasi. Ada Rasa kesal pada rinya sendiri yang telah pintar berbohong


“Ah, sial!”


Kalau saja Ia tidak terjebak pada perasaan ini mungkin dia tidak perlu berbohong sepeti ini. Bara merasa berdosa karena sudah melawan pada ucapan Maminya, tapi masalah hati ia juga sulit melarangnya.


Ia kembali masuk ke dalam ruangan itu. Bara pura-pura tidak terjadi apa-apa, ia memaksakan senyumnya saat Arya menatap sang Ayah.


“Sepertinya Bunda mau minum yang hangat-hangat. Arya, apa kamu bisa bantu bunda belikan teh hangat di kantin rumah sakit?” Lisa meminta sang putra untuk pergi membeli teh hangat.


“Tapi..,”


“Ayolah, Nak. Plisse...,” Lisa merengek membuat sang anak merasa tak tega, padahal ia merasa malah untuk pergi.


“Baiklah,”


Arya segera keluar tanpa rasa curiga.


Saat melihat sang anak sudah pergi, Lisa buru-buru bangkit dan langsung memeluk tubuh jangkung Bara.


“Kamu kenapa?” Bara berusaha memisahkan pelukan itu, tapi dekapan Wanita itu yang terlampau erat membaut dia tak berhasil.


“Lisa... Jangan gini, ya. Kamu kenapa?”


“ Mas Bara. Aku minta maaf, maaf aku sudah meninggalkan kamu dan membuat kamu kecewa. aku Mencintaimu... Aku mohon, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, Mas.”


Bara benar-benar di buat terkejut dengan perkataan mantan istrinya itu.


“Kamu... Kamu ngomong apa?”


“Mas, aku masih cinta kamu. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi ya, mas. Aku akan memperbaiki semuanya.” Lisa melepaskan pelukannya, lalu ia mengambil kedua tangan Bara untuk ia genggam.


“Aku tahu aku salah karena memilih pergi tanpa memikirkan perasaan kamu. Tapi aku tersiksa mas... Aku sangka saat aku lepas dengan mu dan menjalani kehidupan yang bebas aku akan bahagia. Tidak... Aku tidak bahagia. Aku tersiksa... Aku gak bisa melupakan kamu meskipun sudah berusaha.”


Lisa benar-benar memohon pada mantan suaminya. Melupakan tentang harga dirinya, ia memohon pada pria yang pernah ia buang begitu saja dulu.


Lisa telah tak sanggup lagi melawan perasaannya. Dan dia merasa lelah dan sedih melihat Bara lepas dan pergi bersama Cewek lain. Lisa cemburu, ia ingin kembali dan mendapatkan cinta pria ini lagi seperti dulu.


****


“Kok mas Bara pulang jadi malam? Tadi sebelum pergi bilang Cuma sebentar. Mami kamu bahkan sampai marahi aku loh,” Sella bertanya dengan suara menahan kesal.


Dia yang sudah pulang lebih dulu karena di tinggal Bara, dan sekarang suaminya baru kembali setelah azan magrib berkumandang.


“Kamu kenapa sih? Saya pergi kerja, kamu jangan marah lah.”


Sella memejamkan matanya. Nafasnya memburu, tak kuasa menahan rasa jengkel dalam hatinya. Ia bisa di tinggalkan, tapi tidak juga di rumah mertuanya itu yang selalu saja mencari kelalahnya.


Bukan apa-apa, semenjak ia tak lagi menyukai Mami Rena, dia merasa ibu mertuanya itu seperti memperlakukannya kayak barang yang telah dia beli.


“Tapi tadi Mami marahi aku karena kamu. Bagaimana bisa hari minggu juga kerja?”


“Sudahlah, Sel. Kenapa kamu memperbesar masalah sih. Aku kerja juga baut siapa, gak usah kekanakan. Dulu saat Lisa menjadi istri saya dia tidak pernah bersikap seperti kamu ini. Dia selalu mengerti kesibukan suaminya. Kamu ini bukanya meringankan beban suami, malah menambah masalah.” Bentak Bara.


Diam.

__ADS_1


Sella tercengang mendengar bentakan suaminya. “kamu banding aku sama mantan istri kamu, Mas?” tanya Sella tak percaya. Ia menekan dadanya yang berdenyut sakit karena perkataan sang suami.


Sella menggeleng lemah, ia menatap suaminya tak percaya. Sakit rasanya ia dibandingkan dengan wanita lain.


“Kamu...,” Bara menatap malas, “Sulahlah. Malam ini saya tidur di kamar atas saja.”


“Eh, kenapa kamu yang jadi marah. Mas!” Sella berteriak memanggil suaminya, tapi Bara berlalu begitu saja tanpa peduli dengan Sella lagi.


“Ya Allah... Kenapa dia kembali seperti dulu lagi sih.”


Sella menunduk sedih. Teringat dengan sikap Bara membuat dia merasa putus asa lagi, ternyata tidak semudah itu membuat suaminya bisa melupakan mantan istrinya.


“Mas... Kamu benar-benar pergi kerja atau pergi menemui anak dan mantan istrimu tadi siang? Aku mulai meragukan mu,”


Kenapa mencintai sesakit ini?


....


Sedangkan Bara di dalam kamar tak bisa menahan kegelisahannya. Ia Sedikit menyesal karena mengabaikan istrinya. Dia tak ada niat membandingkan mereka, hanya saja pikirannya terlalu kalut.


“Seharusnya aku meminta maaf padanya karena sudah berbohong. Tapi..,”


Tidak, dia tidak mungkin merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf. Tapi ia tidak tahu, perasaan kasihan dan peduli pada gadis itu membuat dia frustrasi.


Pada keheningan itu, ia kembali terbayang wajah Lisa yang tadi siang meminta kesempatan kembali bersamanya. Bayang-bayang kebersamaan selama lima tahun dulu tidak bisa ia hilangkan.


Meskipun lisa pernah menghilang dan meninggalkannya sendirian, tapi tetap saja ia tak bisa membenci wanita itu.


“Bisakah aku memiliki kalian berdua tanpa harus menyakiti salah satunya?”


Tak tenang dengan perasanya, Bara memilih turun ke bawah menantangi kamar sang istri. Ia tersenyum kecil melihat wajah ayu itu tampak telah terlelap terlebih dahulu.


“Saya tidak tahu... Tapi aku rasa kamu berhasil mulai mengusik hidupku, Sel. Saya tidak tahu sudah mencintaimu atau tidak. Tapi saya rasa, saya sudah mulai menyayangimu,”


Mungkin sudah terbiasa bila tidur berpelukan dengan sang istri, jadi saat ia pisah kamar lagi rasanya ada yang kurang. Dan saat dia bisa kembali menghirup aroma tubuh istrinya, Bara terlelap dengan mudah sembari memeluk Sella dari belakang.


*****


Melihat adiknya menunduk kepalanya, Alvian merasa tak tega. Ia tidak tahu mengapa melihat Sella serapuh ini sekarang membuat dia bertanya-tanya apa yang sedang gadis itu pikirkan.


“Kamu semakin kurus, Dek.”


“Benarkah?” Sella bertanya dengan suara berlahan. Dan itu membuat Alvian semakin tercekat. Dulu adiknya tidak pernah seperti ini.


“Iya. Selain kurus kamu juga pendiam sekarang ya. Apa kamu masih marah Sama abang tentang di hari pesta itu?” tanya Alvian.


Meskipun sudah lama berlalu, tapi Alvian masih ingat bagaimana marahnya si bungsu saat mendapati dirinya bersama perempuan lain.


“Aku tidak marah, hanya merasa kecewa. Aku hanya mencoba memosisikan diriku seperti kakak ipar, rasanya pasti akan sangat menyakitkan bila tahu suaminya pergi berkencan dengan wanita lain.”


“Eh... Siapa yang berkencan! Kan sudah aku bilang, kami hanya pergi ke pesta. Itu pun Hera yang memaksa.” Alvian menarik nafas panjang, sangat sulit untuk meyakinkan sang adik. “lagi pula kenapa sekarang kamu gak pernah lagi datang ke rumah buat jenguk Mama? Dia rindu kamu katanya,”


Sella menatap malas sang kakak. Bukankah lelaki semuanya sama, jika sudah ketahuan dia akan memberi seribu alasan untuk membela diri. Berbeda dengan wanita yang membuat kesalahan serupa, pasti langsung di cap istri durhaka dan wanita murahan.


“Sebenarnya hubungan Bang Al sama dia sedekat apa sih? kenapa kalian bisa sampai bersama sekrap itu!”


“Kami sudah berteman sejak lama. Sejak kuliah...,”


Ia menatap kakaknya tak percaya, selama itu mereka berteman kenapa dia sampai tidak tahu. Lalu apa Hera tahu jika dia adiknya Alvian? Seharinya tahu kan. Lalu kenapa dia dimusuhi selama ini?


“Kalau begitu aku minta Bang Al jauhi cewek itu. Aku gak suka dia!”


“Eh, kamu bicara apa? Kenapa kamu memintaku menjauhi Hera. Dan tentang pertengkaran hari itu... Maksud dia yang membuat kamu di pecat apa?”


Sella mengambil nafas panjang. Bingung ia bagaimana menjelaskannya pada Alvian. Apa yang di alaminya selama satu tahun bekerja di perusahaan dulu, sungguh membaut dia teramat kesal dengan Hera.


“Banyak sekali kejahatan yang dilakukan sama aku. Bukankah abang sudah mendengar sendiri pengakunya hari itu?” Sella berucap dengan cemberut. “lagi pula kalian juga tidak pantas lagi berteman. Kamu sudah punya istri tidak ada baiknya berteman dengan cewek licik seperti Hera. Bagaimana kalau kakak ipar cemburu dan memilih pergi?”


Alvian gelagapan mendengar ucapan sang adik, “duh, jangan sampai dong, Dek. Itu kan Cuma salah paham, kamu jangan macam-macam ya!”


Sang adik hanya tersenyum sinis. Ia hanya ingin mengancam sang kakak saja, tapi melihat respons Alvian yang takut dia bisa sedikit bernafas lega.


Setidaknya peria ini tidak mewarisi kebejatan sang Papa. Karena dia cukup takut dengan karma, sekarang saja di sudah merasakan pembalasnya. Hidupnya seperti di permainkan di antara dua cinta yang belum usai, sama seperti papanya yang membagi cinta dengan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2