
Ia bukanlah orang yang berbesar hati menerima semua yang terjadi. Meskipun Bara terlihat sangat memuji mantan istrinya itu, tapi Sella tak menutupi sesikitpun rasa tidak senangnya.
“Mas aku gak suka tas itu,” lagi-lagi Sella mengeluh dengan pilihan suaminya. Tapi apa, si Lisa malah menyahut membuat ia geram saja.
“Itu bagus. Selain warna Biru, Mas bara juga suka warna coklat. Jadi kamu terima saja, Sel. Kamu pasti cantik memakainya.”
Dan lagi-lagi dengan bodohnya Bara mengangguk setuju.
“Memangnya yang mau pakai tasnya Mas Bara apa aku sih? Kenapa aku tidak dibolehkan memilih?” Sella menatap malas dua orang didepanya. “Atau tasnya untuk Mbak Lisa? Kok minta pendapat dia,”
Bara yang sedang sibuk memilih tas terbaik dengan Lisa mendadak terdiam saat tersadar dengan apa yang dikatakan istrinya. Ia buru-buru melepas tas yang sedang ia pegang bersama mantan istrinya itu.
“Eh, Sel bukan begitu maksud Mas...,”
Sella cukup terkejut mendengar suaminya memanggil dirinya sendiri dengan sebutan mas. Tapi berhubung dia masih marah, jadi hanya memilih acuh.
__ADS_1
Tapi... Kalau di beli tas sebagus itu sepetinya dia terima aja lah... Kan bisa ia jual lagi nanti. Dadi pada ia beri Cuma-cuma pada mantan istri suaminya ini.
“Ya sudah, kalau kalian suka itu beli aja. Tapi mau aku pakai atau tidak jangan marah,” ujarnya acuh.
Bara tersenyum senang. Ia mengusap rambut istrinya itu dengan lembut, senang rasanya Sella menuruti setiap ucapannya. Ia yakin istrinya tidak mungkin akan mengganguri tas dan sepatu secantik itu yang telah ia beli.
“Setelah tak itu saya beli, sepenuhnya sudah penjadi milik kamu. Jadi terserah apa yang mau kamu lakukan,”
Perlakuan manis itu memang membuat sella mampu melayang. Tapi apa kabar dengan hati wanita lain yang ada di antara mereka?
“Kalau begitu ayo kita pul...,”
Suara Lisa yang berteriak menghentikan ucapan Sella yang ingin mengajak suaminya pulang saja.
“Aduh... Kepalaku sakit sekali,”
__ADS_1
“Lisa!” Bara langsung berlari menghampiri Lisa yang sudah jatuh terduduk dengan memegang dahinya yang terasa nyeri. “Ya ampun, hidung kamu berdarah. Kamu kenapa?”
Mendengar ucapan suaminya Sella ikut mendekat. Ia kira tadi wanita itu hanya berpura-pura. Tapi saat melihat hidung Lisa yang mengeluarkan banyak darah membuat dia ikutan panik.
“Mas, bawa ke rumah sakit sekarang.” Pinta Sella.
“Tapi kamu bagaimana?” Melihat mereka yang sudah memilih banyak barang, tidak mungkin jika di tinggalkan begitu saja akan.
Dengan berat hati Sella terpaksa berkata, “biar aku yang urus. Mas bawa dia saja,”
Sella menatap Lisa yang sudah jatuh pingsan. Wajah wanita itu terlihat memucat, rasanya tak tega jika tetap egois menahan suaminya tetap bersama ia disini.
Bara tidak lagi bertanya dua kali. Dia langsung mengendong Lisa dan berlari terburu-buru keluar dari mal. Meninggalkan Sella dengan tatapan yang sulit di artikan.
Padahal dia yang membiarkan suaminya pergi, tapi sekarang dia juga yang merasa menyesal. Perasaan wanita memang sesulit itu. Tapi jika diingat dengan wajah khawatir Bara sudah cukup baginya menjelas semua hal, ya dia masih kalah dengan masa lalu suaminya.
__ADS_1