Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Niat jahat tak direstui


__ADS_3

“Bik, Mas Bara mana?”


Setelah ia selesai mandi, ia malah tak menemukan sang suami di dalam kamar. Padahal pria itu bukanya baru saja membujuknya.


“Oh itu...” Bik Neti terlihat sungkan mengatakanya, “tuan Bara pergi, Non.”


“Hah! Kemana dia?”


“Gak tahu. Tapi sepertinya tadi dia mendapat telepon dari den Arya.”


Deg


Sella bisa menebak sepertinya kemana perginya Sang suami. Ia tersenyum miris, ia pikir Bara bisa berubah ternyata tidak. Sesal rasanya dia memberikan kepercayaan pada pria itu.


Sella berlari masuk ke dalam kamarnya lagi, lekas ia sambar tas dan ponselnya. Kali ini ia sendiri ingin melihat bagaimana suaminya itu menjaga calon madunya itu.


Tapi sebelum itu Sella memilih menghubungi ibu mertuanya. Kali ini dia tidak akan bersikap toleransi lagi, dia ingin memperlihatkan pada wanita tua itu bagaimana kelakuan bejat putranya.


“Halo, Mi.” Sella tersenyum licik mendengar sang mertua menjawab teleponnya.


“....”


“Aku Cuma mau bilang. Mas Bara pergi lagi menemui Mbak Lisa tanpa sepengetahuan ku, Mi. Dia meninggalkanku lagi,” Sella sengaja membuat suaranya terdengar seperti orang menangis.


Ia juga ingin ibu mertuanya itu percaya, di sini dia lah yang paling terluka. Dia yang dikhianati. Bahkan pernikahan ini sudah berjalan lima bulan, tapi suaminya tak sekalipun menujukan cintanya dan berlaku adil padanya.


Suara geram di seberang membuat Sella tersenyum senang. Setelah mendengar balasan dari Mami Rena sesuai dengan yang dia inginkan, Baru Sella memesan taksi untuk membatunya sampai ke rumah sakit.


“Kamu akan merasakan apa yang aku rasa kan, Mas. Kali ini aku ingin melihat bagaimana caramu mengelak dari ibumu tersayang itu!”


***


“Arya?”


Bara berlari menghampiri sang putra yang terlihat menunduk sedih di bangku tunggu depan ruang rawat Lisa. Bara sungguh khawatir jadi dia langsung memeluk Arya.

__ADS_1


“Bunda kenapa lagi?” tanya Bara lagi.


“Bunda berdarah lagi, Yah. Tubuhnya juga sangat lemah, dia pingsan saat Arya menemainya di taman tadi.”


Bara menarik nafas gusar. Ia berdiri melihat Lisa yang sedang di tangani dokter melalui kaca. Dia merasa matanya berkaca-kaca melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah di atas ranjang itu.


“Kenapa bundamu bisa keluar sepagi ini, Arya? Kamu kan tahu embun pagi gak baik untuk kesehatannya.”


Arya tertunduk sedih, “Maaf, Yah. Aku gak bisa jaga Bunda.” Bara mengusap rambut putranya itu. Bukan maksud dia menyalahkan Arya.


Mereka berdua lama terdiam sembari menunggu sampai dokter keluar. Sembari menunggu, Arya bertanya dengan hawatir pada sang ayah.


“Yah.. Jika Bunda sakit seperti ini siapa yang akan menjaganya? Aku pasti sibuk sekolah, bunda sakit pasti tidak ada yang akan menemaninya nanti.” Arya menatap ayahnya.


Sedangkan Bara, dia tersentak mendengar pertanyaan arya yang cukup menggelitiknya. Benar... Siapa yang akan menjaga Lisa dan mengurus arya nanti jika kesehatan Lisa seperti sekarang ini.


“Kamu jangan kawatir. Bunda pasti sembuh,”


“Tapi Dokter bilang tubuh bunda pasti akan selalu lemah setelah ini. Aku takut... Takut bunda...,” Arya sengaja tak melanjutkan ucapnya. Pemuda yang masih remaja itu terlihat mengucapkan kata-kata yang penuh makna, ia berharap Ayahnya mengerti apa yang ia inginkan sekarang.


Saat pikiran mereka kalut dengan kesehatan Lisa, dokter keluar membuat Bara langsung menghampirinya.


“Bagaimana, Dok?”


Sang dokter tak langsung bicara, melihat ada anak yang masih kecil di sana ia meminta Bara untuk ke ruangannya saja menjelaskan.


“Mari, saya akan menjelaskan kondisi istri Anda di ruangan saya.” Ujar sang dokter.


“Baik, baik.” Bara mengusap lembut puncak kepala Arya, “ayah pergi dulu, kamu jaga bunda ya.” Yang di angguki dengan semangat oleh Arya.


Bara dan dokter berlalu meninggalkan arya yang tersenyum kecil. Ia senang saat ayahnya tak menolak saat dokter mengatakan dia suami dari pasien.


Berselang beberapa menit, Bara keluar dengan wajah yang terlihat semakin kusut. Entah apa yang di bicarakan oleh dokter, yang pasti sesuatu yang membuat hati pria beristri itu merasa kawatir.


“Mami?”

__ADS_1


Bara mematung melihat seseorang yang sudah berdiri penuh kemarahan di depan ruang rawat Lisa.


****


Sebelum Bara datang, sebelumnya Rena sudah lebih dulu menemui Lisa dan juga cucunya, Arya.


Hanya sebentar, setelahnya Rena keluar setelah memberi beberapa kata menyakitkan untuk wanita itu dengar. Ya, kemarahannya membuat dia tak peduli meskipun di depan arya dia tetap memarahi Lisa.


“Jadi begini kerjaan kamu? Berbohong pada istrimu demi menemui ****** itu?!” Rena langsung berteriak saat Bara sudah mendekat padanya.


“Mami. Dengar dulu, aku melakukan ini...,”


“Tidak usah banyak alasan, Bara! Istri kamu bahkan menelepon mami sambil menangis saat kamu menghilang lagi tanpa pamit. Benar-benar bajingan kamu!”


Bara tercenung menunduk tak berani membalas tatapan Maminya. Meskipun sebenarnya ia sedikit kesal, ia merasa marah tahu jika Sella yang telah mengadu pada Maminya.


“Sella menghubungi mami?”


Sedangkan di balik dinding yang cukup jauh, tapi masih bisa mendengar pembicaraan mereka, Sella bersembunyi dengan wajah sinisnya.


Melihat suaminya mulai disudutkan olah kemarahan mertuanya, Sella tak bisa menahan seringainya.


“Kamu juga harus merasakannya, Mas. Enak kan?”


Sebenarnya selama ini ia menahan rasa sakit hatinya. Tidak cukupkah pria itu mengabaikannya di rumah, dan sekarang juga di jadikan tumbal untuk hubungannya dengan wanita lain.


Menjadi bayangan wanita lain itu tak enak. Apalagi jika sudah keluar mulut pedas suaminya yang suka membanding-bandingkan dia dengan Lisa. Rasanya Sella ingin mencekik suaminya itu saat itu juga.


Saat Sella sedang intens memperhatikan suami dan mertuanya, tak sengaja seorang suster melintas di depan Sella dengan bau obat bercampur parfum yang sangat tidak enak. Sella terbelalak, mendadak perutnya terasa di aduk, segera ia berlari mencari toilet untuk memuntahkan sesuatu yang terasa menyundak di tenggorokannya.


“Sial! Aku kenapa?” Sella memaki dalam hati. Niat ingin kembali lagi dan menguping, tapi baru juga dua langkah kembali ia merasa mual.


“Ya tuhan... Sepertinya takdir tidak merestui aku jadi orang jahat.” keluhnya merasa kesal.


Sella merasa lemas setelah tiga kali bolak balik muntah. Karena tak punya tenaga lagi, ia memilih langkah mundur pulang ke rumah. Tak peduli lagi apa yang terjadi dengan suami dan mertuanya.

__ADS_1


sepanjang jalan ia berusaha mentup hidungnya. Bau obat dan parfum orang lain benar-benar membuat ia pusing. Untung ia bawa mobil sendiri, jadi saat di dalam mobil dia bisa berafas lega.


__ADS_2