
Saat pulang dari bertemu kakaknya, siapa sangka ia malah terjebak hujan di tengah jalan. Mana dia sudah menyuruh Alvian pulang terlebih dahulu, sekarang Sella hanya bisa berdiri diam di depa Kafetaria dengan tubuh yang mulai mengigil.
Mana Cafe itu sudah tutup lebih cepat dari biasa. Sekarang ia hanya bisa menunggu di luar.
“Kenapa gak ada taksi yang bisa aku pesan ya? Ah... Kalau begini alamat akan di marahi Mas Bara lagi nih.”
Beberapa kali ia mencoba pesan taksi Online. Tapi satu pun tak dapat, mau cari ojek pengkolan pun dia rasa juga tak mungkin karena hari hujan.
“Maaf, Mbak. Belum pulang?” tanya seorang pelayan Cafe, sepertinya dia sudah mau pulang. Pemuda itu terlihat sedang sibuk memasang gembok di pintu Cafe.
Sella meringis malu, “belum. Belum ada yang jemput.”
“Tapi ini sudah cukup malam. Apalagi di tempat sini rawan terjadi kejahatan, sebaiknya Mbak minta jemput sama saudara saja.”
Sella menjadi merinding mendengar penjelasan pemuda itu. Tak bisa ia bayangkan kalau benar-benar segerombolan pereman datang dan mengganggunya. Dia kan orangnya penakut.
“Tapi Mas... Bisa beritahu dimana saya bisa cari tukang ojek ngak?”
“Kalau di sini mah gak ada tukang ojek pengkolan, mbak.”
Ia hanya bisa menarik nafas panjang. Sekarang ia harus bagaimana. Minta bantuan Bara untuk menjemputnya itu terasa tak mungkin, soalnya mereka kan baru saja bertengkar tadi malam. Pagi tadi saja suaminya itu pergi tanpa pamit, bahkan tak menunggu dirinya bangun dari tidur.
“Mas bisa tolong antarkan saya, gak mas? Nanti saya bayar dua kali lipat,” pinta Sella. Ia sudah terlanjur takut mendengar kata penjahat.
Pria itu mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang wanita. Mungkin dia merasa heran ada perempuan asing malah meminta dirinya antarkan.
“Aduh... Mohon maaf nih Mbak, tapi saya gak bisa. Soalnya saya gak punya kendaraan... Saya pulang jalan kaki, Mbak.” Pria itu meringis salah tingkah. Mungkin dia malu pada wanita cantik di depanya ini, andai dia punya kendaraan mungkin dengan senang hati membantu.
Saat mereka sibuk berbicara, Sella tak menyadari jika sebuah mobil sudah berhenti di depan sana yang terlalu jauh.
Seorang pria turun dengan menggunakan payung beru menghalangi tetes hujan yang berjatuhan. Sella yang melihatnya seakan lupa berkedip saat menyadari siapa pria tampan yang datang menghampirinya.
“Sella... Kamu ngapain hujan-hujan di sini? Dan dia...,”
Seakan kesadarannya belum terkumpul, dia hanya cengo tanpa menjawab pertanyaan yang pria itu lontarkan.
“Hey... Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan, Sel?” pria itu bertanya dengan khawatir. Ia ingin memeriksa tubuh gadis itu, tapi saat ingat mereka bukan mahram jadi ia urungkan.
“Kamu... Kenapa ada disini?” Bukanya menjawab, Sella malah balik tanya, “Kaif... Kamu lagi jemput aku atau gimana?”
__ADS_1
“Oh, itu aku hanya lewat saja dan kebetulan lihat kamu, bakanya berhenti tadi.”
Sella hanya mengangguk mengerti. Meskipun dia masih banyak tanda tanya di pikirannya.
“Jadi?”
“Aa... Aku hanya terjebak hujan di sini. Kebetulan Mas ini juga mau pulang, jadi aku minta di temankan sebentar.” Ujar Sella menjelaskan.
Seketika keadaan menjadi canggung. Sella merasa gugup tak menentu berada di depan sang mantan kekasih, apalagi Kaif menatapnya begitu intens. Tiba-tiba ia merasa gugup.
“Kalau begitu biar aku saja yang mengantar kamu.”
“Hah, eh iya... Kamu yakin. Tapi...,” eh Sella malah menjadi gugup sendiri menjawabnya.
“Sudah, jangan terlalu banyak pikir. Kamu juga gak mungkin berada di sini lebih lama lagi,”
Pada akhirnya Sella hanya bisa punya pilihan menurut saja. Yang di katakan Kaif benar, dia tidak mungkin berada di sana lagi tanpa tahu siapa yang datang membantunya. Sudah bersyukur ada sang mantan yang datang sebagai penyelamat.
....
Di sepanjang perjalanan suasana benar-benar terasa canggung. Kaif yang diam saja membuat Sella hanya bisa menatap lampu-lampu jalan tanpa berani menoleh pada pria tampan di sebelahnya.
“Memangnya aku harus ngomong apa?” Sella balik bertanya tanpa menatap pria itu.
“Apa saja. Kamu gak mau tanya-tanya bagaimana kehidupan aku sekarang?”
“Biat apa? Kau sudah tahu kok, kalau sekarang kamu memilih jadi ustaz di pesantren.”
Diam-diam Kaif tersenyum senang saat tahu jika Sella masih suka mencari tahu tentang dirinya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama saat dia mendengar ucapan gadis itu selanjutnya.
“Kamu jangan salah paham... Aku tahu itu karena Embun yang memberi tahu tanpa aku minta.” Ujar Sella yang tanpa sadar mematahkan hati seseorang yang belum juga bertunas.
Kaif tersenyum masa. Ia kembali diam tanpa bertanya apapun lagi, suasana canggung kembali terasa di antara kita.
Sampai mobil berhenti di depan rumah uang Sella sebut, Kaif langsung tancap gas saat Sella sudah turun dan mengucapkan terima kasih dan dia menganggukinya sekilas.
Sella yang melihat itu hanya berdecak kesal. Tidak dia sangka mantan kekasihnya itu akan berubah sebanyak itu. Selain bertambah gagah ternyata sifatnya juga berubah lebih dingin dan mengesalkan.
Namun baru saja Ia memasuki rumah, ia sudah di buat terkejut dengan keberadaan Bara yang terlihat dalam suasa hati yang tidak senang.
__ADS_1
“Dari mana kamu? Siapa pria yang mengantar kamu pulang tadi?!”
Sella dibuat terkejut dengan suara Bara yang naik bertanya padanya.
“Mas Bara... Itu... Dia cuma tolong aku tadi,” Ia merasa ngeri melihat mata suaminya yang memerah menatap dirinya.
“Siapa dia?” sekali lagi Bara bertanya, membuat Istrinya itu tak lagi berani mengelak.
“Dia... Kaif,”
Diam.
Suasana terasa sunyi sesaat. Sella yang berpikir suaminya hanya akan acuh jika dirinya pulang dengan siapapun, siapa sangka akan ada saat seperti ini.
“Kaif yang menjadi mantan kamu?”
Eh!
Sella menjadi cengo. Tahu dari mana suaminya itu tentang mantanya.
Bukanya menjadi reda. Pria itu malah semakin tersulut emosi mendengar pengakuan sang istri. Ia menarik tangan gadis itu dan langsung memeluknya dengan kasar.
“Mas kamu mau...,”
Ucapan itu terpotong saat Bara langsung membekamnya dengan ciuman kasar.
Sella yang tidak menduga serangan suaminya hanya bisa diam tanpa membalas ciuman itu. Oa masih terlalu terkejut, apalagi dengan sikap suaminya yang terlihat seperti sedang cemburu.
“Mas...,”
“Diam! Kamu harus menjadi istri saya seutuhnya, Sella. Agar kamu gak bisa dekat-dekat dengan pria lain lagi!” tekan Bara.
Ia langsung membopong tubuh kecil itu masuk ke dalam kamar dengan di Iringi protes dari Sella yang tidak terima.
“Mas!!! Aku gak mau!”
****
Bagaiaman menurutmu krakter Bara?
__ADS_1
Yuk berikan komen kalian. Janagan lupa tinggalkan kritik dan saranya😘