
POV SELLA KUSUMA
.....
Mataku terbuka berlahan saat merasa panasnya mata hari yang menyinari wajahku. Aku terkejut saat tersadar dan mendapati jika jendela sudah terbuka dan Mas Bara sudah tak lagi ada di sampingku.
“Kemana dia?”
Aku mencoba berdiri. Tapi baru juga bergerak sedikit rasa tak nyaman membuatku berhenti seketika.
Aku ingat semalam sudah memalui suatu hal yang menyakitkan dan juga menyenangkan. Senyumku tiba-tiba terbit saat bagaimana Mas Bara membujuk dan memperlakukan ku dengan lembut untuk melakukan itu... Ah sudahlah, tidak perlu Aku jelaskan kalian juga akan mengerti.
Aku juga ingat saat pertama kali bagaimana dia memaksanya, tapi karena teriakan dan penolakan akhirnya Bara tak jadi melakukan kekerasan padanya.
Karena merasa lengket dan tidak nyaman, Aku segera bangkit dan berusaha berjalan dengan langkah aneh, sesekali meringis, rasanya benar-benar tidak nyaman.
“Enaknya pria... Udah dapat enaknya di tinggal gitu aja, malang benar dapat suami.” Sepanjang mandi aku hanya bisa menggerutu.
Setelah selesai berganti baju aku segera ke luar mencari keberadaan Mas Bara yang belum aku lihat sejak bangun. Tapi saat aku lihat di seluruh rumah malah tak menemukannya.
“Bibi, Mas Bara di kamar atas ya?” aku bertanya pada Bik Neti yang terlihat sibuk membersihkan rumah.
“Oh, tuan Bara Non. Sudah pergi kerja sejak tadi pagi,” jawabannya membuat aku benar-benar hilang mood.
Ah... Pria itu bisa-bisa meninggalkannya begitu saja setelah kejadian tadi malam. Benar-benar tidak berperasaan. Dia pikir aku ini istrinya atau wanita panggilan?!
__ADS_1
“Apa dia ada berpesan sesuatu, Bik?”
“Ngak, Non. Dia cuman bilang biarkan saja Non Sella tidur, dia melarang bibik buat bangun Non Sella.”
Aku hanya bisa tersenyum kecut. Tidak sepeduli itu suamiku padaku selama ini, tapi apa mau dikata, hati sudah terlanjur memilih.
“Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar lagi ya, Bik.”
Ku tinggalkan Bibi dengan hati yang tak menentu. Mencoba berpikir yang baik-baik, aku yakin Mas Bara pasti terdesak pekerjaan makanya pergi tanpa peduli dengan keadaan aku.
....
Pukul delapan Malam mas Bara baru pulang. Entah apa yang membuat dia pulang lama sekali, tapi melihat wajahnya yang masih terlihat lempeng dan dingin seperti biasa membuat aku menciut.
“Kamu kenapa menatap Saya seperti itu?” Aku tersantak saat mas Bara bertanya. “Kamu melamun?”
Aku segera menggeleng. Segera aku pilih baju ganti Mas bara, seperti biasa jika keperluan dia aku yang siap melayaninya.
Jika biasanya aku hanya melayani kebutuhan fisik seperti menyiapkan baju dan menyiapkan makan saja. Dan saat ini sepertinya juga bertambah pekerjaan lain, melayani dia di atas ranjang. Memikirkan itu membuat pipiku memanas.
Sella teringat kejadian tadi pagi, mendadak ia kembali merasa sedih. “Kamu kenapa pergi tadi Pagi tidak bilang-bilang sama aku, mas?”
“Bukankah Bibi sudah mengatakan alasannya tadi?”
Mas Bara berbalik menatapku dengan intens. Tiba+-tiba aku tidak mengerti mengapa pria itu terlihat sedih dan menduduk kepalnya di depanku.
__ADS_1
“Sella... Saya minta maaf kejadian tadi Malam.”
Deg
Aku tidak mengerti kenap dia harus meminta maaf. Mereka kan suami istri, bukankah wajar itu di lakukan.
“Aku tahu aku salah... Sesuai janji saya di awal pernikahan, seharusnya saya tidak mengaulimu. Tapi saya melakukan itu karena kamu... Kamu yang memancing saya dengan pergi dengan pria kain.”
Aku merasa tertampar dengan ucapan Mas Bara. Ternyata dia menganggap kejadian tadi malam kesalahan?
“Jadi kamu merasa menyesal, Mas?”
“Bukan, bukan begitu maksud saya.” Aku menatap dia yang terlihat menarik nafas panjang, apa dia sebegitu tertekannya?
“Saya hanya ingin mengatakan. Saya akan berusaha menerima dan akan belajar mencintaimu. Bagaimanapun kita sudah melakukan itu... Kamu tidak bisa pergi lagi kan.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Aku tersenyum dan langsung menghambur ke dalam pelukannya.
“Gak apa-apa, aku tahu kamu pasti bisa mencintaiku dengan cepat.” Aku menatapnya dengan senyum lebar, “Meskipun aku tahu kamu sulit melupakan masa lalaumu, tapi aku yakin kamu lelaki yang bertanggung jawab dan bisa menjadi suami terbaik untukku, Mas.”
Dalam hati aku mengamin ucapanku sendiri. Semoga saja itu jadi kenyataan. Karena
bagaimanapun mencintai sepihak itu tidak enak.
Senyumku semakin terbit saat merasa tang lrbar Mas bara mengusap pungungku, aku merasa angukanya di balik bahuku. Aku tahu dia pasti sedang bimbang, ah... Menikah dengan duda tak aku sangka akan sesulit ini menakluk hantinya.
__ADS_1