
Titik demi titik rasa itu mulai tumbuh, membentuk kubangan rasa yang mengalir ke dalam palung hati yang terdalam.
Ingin rasanya ku cegah, tapi semakin ku cegah rasa itu semakin meronta.
Ingin ku abaikan, tapi rasa itu semakin kuat. Haruskah ku biarkan semua mengalir apa adanya?
Ataukah harus ku babat habis rasa itu agar tak lagi tumbuh subur karena ku takut jika nanti pada akhirnya aku tak kuasa untuk menghentikannya.
๐น๐น๐น
"Aduh ... Pelan-pelan, Bu." keluh Keanu seraya meringis.
"Diam kamu! Mau saya obatin atau nggak?" Kezra mendelik. Tangannya sibuk mengoleskan kapas dengan cairan alkohol. Ya, dirinya sedang mengobati sudut bibir Keanu yang sobek akibat pukulan keras dari Lukas.
"Ya mau, Bu. Tapi setidaknya kan lemah lembut gitu Bu. Ini kayak mau ngebunuh aja, nggak ada lembut-lembutnya." gerutu Keanu.
"Kamu mau saya obatin atau nggak sih? Ngomel Mulu kayak nenek -nenek kehabisan cemilan."
"Emang ada nenek-nenek model begitu?"
"Ya ada, makanya saya ngomong begitu."
"Dimana?"
"Di kampung!"
"Wah ... Neneknya siapa?"
"Nenek saya."
Mata Keanu melebar, ia menatap Kezra tak percaya.
"Ibu masih punya nenek?" Kezra hanya mengangguk menanggapi.
"Wah, nanti kapan-kapan pas kita pulang saya mau ketemu nenek ah."
"Mau ngapain?"
__ADS_1
"Ya ketemu keluarga Ibu, Lah. Masak suaminya sendiri nggak tahu kampung halaman istrinya? Kan aneh."
"Eh moncong lele, jangan berlagak jadi suami beneran deh. Yang tahu pernikahan kita itu cuma Bapak dan Ibu. Jadi jangan macem-macem kamu. Apa kata para tetangga kalo mereka tahu saya sudah menikah diam-diam selama di Jakarta? mana sama berondong pula. Lagi pula ngapain sih mau ketemu nenek? Mau sungkem?"
"Ya bisa jadi. Ntar kan saya ajakin makan cemilan, nah pasti lama tuh ngunyah cemilannya. Ntar biar aku abisin, mau liat gimana ekspresi neneknya. Ih pasti lucu banget deh."
"Lucu apanya? Yang ada ribut ntar kalo cemilannya habis."
Keanu hanya tertawa membayangkan itu semua.
"Kapan Ibu mau pulang kampung?" tanya Keanu penasaran. Kezra mengeringkan matanya, menatap Keanu sebentar tanpa minat.
"Kenapa?" Kezra berbalik tanya pada suami berondongnya. Jemarinya dengan lincah mengobati luka tak seberapa di wajah tampan pria yang ada di hadapannya.
"Saya mau ikut. Boleh, ya ...."
Gerakan tangannya terhenti, menatap Keanu penuh rasa curiga.
"Kamu mau apa ikut saya? Yang ada kamu malah bikin masalah di sana." omelnya.
"Orang kaya seperti kamu nanti alergi kalau ke desa. Di sana kotor, jalanan becek."
"Nggak papa, saya pengen kesana. Lagi pula kapan lagi saya melihat kampung halaman istri sendiri? hitung-hitung liburan kan?" Keanu menaik turunkan alisnya.
"Saya bilang enggak, ya nggak. Saya nggak mau jadi bahan gosip di kampung." tolak Kezra. Guru muda itu selesai mengobati luka Keanu dan membereskan kotak obat.
"Astaga, Bu. Pelit banget sih? Kalo pelit, nanti kuburannya sempit loh."
Kezra hanya bersikap acuh tak acuh. Setelah ia selesai membereskan kotak obat miliknya, ia pun segera berdiri. Tapi baru saja ia akan berdiri, Keanu menarik tangannya hingga Kezra terjatuh di pangkuan pria muda itu. Wanita cantik itu tak segan mendelik, siap menyemburkan amarah.
"Keanu! Apa yang kamu lakukan?!" ia mendelik. Jantungnya berdegup lebih kencang karena tidak ada jarak di antara mereka. Bagaimana dirinya bisa tenang, jika posisi mereka sekarang sangatlah intim.
"Izinkan saya ikut. Saya pengen ke kampung halaman Ibu. Saya kesepian di sini jika nanti Ibu pulang kampung." ujarnya dengan wajah memelas. Melihat raut wajah Keanu yang memelas penuh kesedihan membuat hati kecil wanita itu tersentuh.
"Jangan macam-macam kamu. Turunkan saya!"
"Tidak akan. Janji dulu, izinkan saya ikut. Jika Ibu berjanji mengizinkan saya ikut, maka saya akan menurunkan Ibu."
__ADS_1
"Kamu ini apaan sih? turunkan saya!"
"Tidak akan."
"Keanu turunkan saya! Jika ada yang datang, mereka pasti akan salah paham."
"Lah, memangnya kenapa? Bukankah kita suami istri? Sudah menjadi hal biasa jika suami istri itu bermesraan."
"Dasar tidak waras!"
Keanu hanya terkekeh. Melihat wajah galak Kezra membuatnya tersulut untuk menjahilinya. Ia mendekatkan wajahnya pada istri sekaligus gurunya itu. Dengan cepat Kezra menjauhkan wajahnya yang berjarak hanya beberapa senti. Bahkan kini deru napas Keanu sangat terasa menerpa wajahnya. Aroma mint menguar menelusuri indera penciumannya. Kezra memegangi dadanya sebelah kiri.
"Oh my God, kenapa dengan jantungku? Apa aku terkena serangan jantung? Mengapa ritme jantungku menjadi tidak beraturan bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya? Astaga! Kenapa ini?" gumamnya dalam hati.
"Ayolah, Bu. Jika Ibu tidak mau mengizinkan saya, saya cium nih."Keanu mengangkat sebelah alisnya dengan senyum miring.
Mata Kezra membulat sempurna.
"Ka-kamu ....!"
"Mau saya cium?"
๐น๐น๐น
Kezra
Keanu
Bonus๐
__ADS_1