
Kezra melangkah menuju hotel tempat Lukas membawa seorang wanita. Langkahnya terasa berat, kakinya bagai menginjak beribu duri yang menyakitkan. Wanita muda itu menahan diri agar tidak menangis. Dadanya terasa sesak bak di himpit batu besar. Ia mencoba menguatkan diri serta hati demi apapun yang akan di lihatnya nanti. Bahkan dirinya tak menghiraukan suara Keanu yang memanggilnya di belakang sedari tadi. Sampai di meja resepsionis, wanita itu langsung bertanya pada petugas yang segera berdiri ketika ia melihat Kezra mendekati mejanya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"I-iya. Sa- saya ingin mengetahui kamar yang pacar saya sewa."
"Maksudnya, bagaimana mbak?" petugas hotel itu kebingungan seraya melirik security yang bertugas di sana.
"Maksud saya, apakah mbak bisa memberikan informasi pada saya tentang tamu yang bernama Lukas Pratama? Di kamar nomor berapa ia menginap?"
"Maaf mbak, kami tidak bisa memberikan informasi tamu Kami pada orang asing. Karena itu sudah menjadi kebijakan hotel kami." kata petugas itu dengan sopan.
"Mbak, saya mohon. Tolong beritahu saya nomor kamar Lukas Pratama! Ini menyangkut masa depan saya, mbak." Kezra memohon. Air mata yang sejak tadi di bendung, kini sudah luruh membasahi wajah.
"Maaf mbak, kami tidak bisa."
"Tolong lah mbak, saya mohon." Kezra mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Memohon dengan sangat pada petugas wanita yang menatap wajah Kezra dengan sangat menyesal. Ia kasihan pada Kezra, tapi ia juga harus profesional.
"Security!" panggil petugas hotel itu pada satpam yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana dan sejak tadi pula ia ikut mengamati Kezra. Security itu pun mendekati meja resepsionis dan meminta Kezra untuk pergi dari sana.
"Maaf Mbak silahkan keluar." kata security itu dengan sopan.
"Tapi, pak. Di dalam sana pacar saya sedang bersama wanita lain. Saya hanya ingin memastikan semuanya. Ini menyangkut masa depan saya." hancur sudah hati wanita itu. Hatinya hancur lebur tak bersisa. Rasa sakit itu semakin mencekik dan membuatnya sesak.
"Maaf mbak, silahkan keluar Sekarang juga!" security itu menarik Kezra. Kezra hendak berontak, tapi tenaganya kalah jauh dari security yang berbadan besar hingga ia hanya bisa menangis.
__ADS_1
Pada saat itu, Keanu menarik lengan security dan menghempasnya.
"Jangan berani-berani anda bersikap kasar pada Bu Kezra!" bentak Keanu dengan
amarah yang menggulung. Ia menatap marah pada security yang tadi menarik Kezra dengan paksa.
"Maaf, dek. Mbak ini ingin menerobos masuk ke dalam hotel dan mengganggu tamu kami."
"Bukankah dia sudah meminta baik-baik? Kenapa kalian tidak memberikan informasi pria brengsek itu padanya? Apa kalian semua tidak punya hati? Bagaimana jika hal ini terjadi pada kalian, atau keluarga kalian? Apakah kalian juga akan menghalanginya?" Dada Keanu naik turun, matanya memerah dan melotot marah.
"Kami hanya menjalankan tugas."
"Tugas apa, hah? Hotel ini bisa saya beli malam ini juga! Dan kalian berdua akan saya pecat secara tidak hormat!" teriak Keanu dengan lantang. Ia menunjuk resepsionis dan security itu secara bergantian. Kezra mendekati Keanu dan mengelus lengan pria itu.
"Bocah ingusan seperti kamu itu memangnya punya banyak uang? Jangan belagu. Sok-sokan mau beli hotel ini. Kamu kira beli hotel ini kayak beli kerupuk? Sudah sana! Pergi dan bawa wanita ini." ujar satpam itu meremehkan. Ia bahkan mendorong tubuh Kezra dan Keanu dengan kasar.
"Brengsek!" Keanu tak terima. Ia berbalik dan memukul wajah security itu sehingga membuat Kezra serta resepsionis yang hanya diam sedari tadi menjerit seketika.
"Keanu! Sudah!" teriak Kezra, ia mencoba membuat Keanu menghentikan pukulan Keanu.
"Sudah saya bilang jangan kasar pada wanita ini!"
Bugh ....
Satu pukulan kembali mendarat di wajah security itu dengan keras, hingga membuat tubuh security itu mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
"Sudah Ke. Ayo kita pergi dari sini." Kezra menarik tangan Keanu. Membawanya pergi dari sana karena ia tidak ingin ada keributan lagi.
"Sebentar, Bu. Urusan saya belum selesai dengan mereka. Saya tidak terima jika Ibu di perlakukan tidak baik oleh orang lain. Dan akan saya pastikan, semua orang itu akan menderita!" kata Keanu dengan marah. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"SAYA MINTA KAMU BELI HOTEL LOTUS DI DAERAH JAKARTA UTARA SEKARANG JUGA! DAN JANGAN LUPA LANGSUNG PECAT SECURITY DAN RESEPSIONIS YANG BERTUGAS MALAM INI!" Ucapan Keanu membuat semua orang yang ada di sana melongo termasuk Kezra.
"Keanu! Apa yang kamu lakukan?!"
Keanu tersenyum miring, ia menatap lembut pada Kezra. Mengusap wajah penuh air mata itu dengan lembut dan penuh kasih.
"Saya hanya membantu Ibu. Saya tidak terima jika ada orang lain yang bersikap kasar pada Ibu. Ayo kita pergi," Keanu menarik Kezra keluar.
" Halah, modal ponsel doang saya juga bilang beli hotel atau perusahaan malam ini juga." cibir security itu seraya mengelap ujung bibirnya yang sedikit robek. Sementara Kezra dan Keanu menuju parkiran motor.
"Bocah itu mimpinya ketinggian. Udah kayak anak orang kaya aja." Resepsionis itu menimpali. Tak lama terdengar suara telepon yang berbunyi. Dengan sigap, resepsionis itu menjawab panggilan.
"APA?!" Ia berteriak setelah mendengar apa yang di katakan oleh orang di seberang telepon. Wajahnya berubah pucat pasi, dan tubuhnya lemas serasa yak bertulang. Ia meletakkan gagang telepon dengan tangan yang gemetar dan mata yang beberapa kali mengerjap tak percaya.
"Ada apa?" tanya security itu pada sang resepsionis. Wanita itu menatap security yang sekarang berdiri di hadapannya dengan wajah yang hampir menangis.
"Ki-kita ... Kita berdua di pecat." lirihnya seraya menahan tangis.
"APA?!" teriak sang security dengan mata yang melotot tak percaya. Tubuh besarnya seketika langsung lemas dan tiada daya.
"Kita terlalu meremehkan bocah ingusan itu ...." lirihnya penuh penyesalan.
__ADS_1