
Kezra sibuk mondar-mandir di ruang tamu sambil melihat ponsel. Sesekali ia letakkan benda pipih itu di telinganya, sesekali pula matanya melihat layar ponsel.
"Duh ... Kemana sih? Setelah dari sini nomornya kok malah nggak bisa di hubungi." gerutunya kesal. Hal itu sudah di lakukan oleh Kezra sejak tadi, dan tingkah lakunya itu pun tak luput dari perhatian Keanu, suaminya.
Bosan memperhatikan sang istri dari jauh, Keanu berjalan mendekat.
"Kenapa lagi, Bu?"
Kezra menoleh, meninggalkan layar ponsel yang sejak beberapa jam lalu di tatapnya.
"Ah ... Keanu. Ini loh, nomor Mas Lukas nggak bisa di hubungi. Apa dia beneran marah ya, sama saya?"
"Astaga ...." Keanu mendesah dengan kesal. Ia sempat memejamkan mata sebentar, menghalau kekesalan yang langsung menyerangnya.
"Apa Ibu tidak bisa untuk tidak memperdulikan pria itu? Memangnya dia peduli sama Ibu? Sebegitu cintanya Ibu sama dia?" tanya Keanu kesal.
"Kok ngomongnya gitu, sih? Dia itu peduli sama saya. Kalau cinta, ya jelas lah saya cinta. Dia itu cinta pertama saya, tahu. Dan sebentar lagi kami akan menikah."
Keanu kembali mendesah putus asa. Ia tekan dalam-dalam rasa marah dan kesal yang menjadi satu.
"Bu, cinta boleh. Bodoh jangan! Dia itu jelas-jelas udah selingkuh dari Ibu. Cinta pertama nggak akan menjamin bahwa dia setia."
Kezra terdiam beberapa saat.
"Memangnya Ibu udah di kenalin sama keluarganya?"
Kezra menggeleng pelan sambil menatap pria yang ada di hadapannya.
"Nah, gimana mau menikah jika Ibu aja nggak di kenalin ke keluarganya? Ibu itu orang yang cerdas! Tapi kenapa kalau masalah cinta, Ibu langsung terlihat seperti orang bodoh? Jelas-jelas beberapa waktu lalu kita melihat dia bersama wanita lain di hotel. Apa semua itu belum cukup jelas? Ayo dong, logikanya di pakai. Jangan bodoh cuma gegara cinta. Ibu itu perempuan yang baik, cerdas, nggak pantes buat pria sebrengsek dia." ucapan Keanu memang agak sedikit kasar, tapi hal itu membuat Kezra sedikit tersadar.
"Kamu benar. Tapi kenapa aku tidak bisa untuk melepaskan dia? Aku terlanjur sangat mencintainya." Lirih Kezra seraya menatap Keanu dengan sendu.
"Bukan tidak bisa, tapi belum. Ibu belum mendapatkan bukti yang akurat mengenai pria brengsek itu. Apa Ibu mau ikut saya?"
__ADS_1
"kemana?" tanya Kezra ragu.
"Saya akan membuktikan semuanya. Agar mata Ibu terbuka jelas dan bisa melepaskan pria brengsek itu."
"Bagaimana caranya?"
"Tidak perlu cara karena dia sendiri yang akan menunjukkan pada Ibu, siapa dia sebenarnya. Jujur saya tidak rela jika Ibu di sakiti oleh dia." Kezra menatap dalam manik pria itu. Mencoba mencari kebenaran dari sorot matanya yang sayu. Seperkian detik kemudian, ia merasakan tangannya di genggam oleh Keanu. Dengan cepat ia menoleh, melihat tangannya yang di genggam lembut oleh pria yang ada di hadapannya.
"Ke ... Apa yang kamu lakukan?" tanya Kezra
"Ah, maaf. Saya terbawa suasana," ujar Keanu seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!" Ajak Keanu dan di jawab dengan anggukan oleh Kezra.
Wanita itu tetap mengikuti Keanu meski ragu terus bergelayut di relung hatinya. Isi kepalanya di penuhi dengan asumsi buruk dan bayangan buruk. Di sela itu semua ia menyiapkan hati untuk segala kemungkinan terburuk yang akan ia hadapi nanti.
🌹🌹🌹
"Ke, kenapa kita kesini lagi?" Kepala Kezra menoleh ke kanan kiri. Memastikan bahwa mereka tidak salah tempat. Keanu menoleh, menatap Kezra dengan tatapan tak biasa. Ada ketakutan di netra pria itu. Takut jika wanita yang saat ini bersamanya itu akan terluka begitu parah. Tak terbayangkan jika Kezra mengetahui semua kenyataan menyakitkan yang akan menghancurkan semua mimpi serta kebahagiaan dirinya. Tapi semua ini harus ia lakukan demi kebaikan guru cantik itu. Ia menghela napas sebentar, mengenyahkan bisikan yang terdengar agar membatalkan niatnya untuk memergoki Lukas di dalam kamar hotel.
Kezra mengangguk pelan. Netranya berputar, menelusuri tempat yang kini ada di hadapannya. Tempat ini adalah hotel yang beberapa waktu lalu membuat hatinya teramat sakit. Akankah kali ini ia kembali merasakan sakit? Ataukah kali ini sakitnya akan lebih parah dari kemarin? Ia memejamkan mata sebentar. Benar-benar menyiapkan hati sebelum turun dan masuk ke dalam.
"Ibu sudah siap?" tanya Keanu.
Kezra menghela napas panjang, membuka mata dan menemukan murid yang kini menjadi suaminya itu sedang menatapnya.
"Oke, saya siap." ucap Kezra pada akhirnya. Keanu tersenyum, lalu mengelus helm yang di kenakan oleh Kezra.
"Siapin juga hatinya, yah. Dan nanti jika butuh sandaran, bahu ini siap kok." ujar Keanu seraya menepuk bahu kirinya sendiri.
"Saya nggak yakin. Apa benar Mas Lukas seperti itu?" kata Kezra ragu. Ia menggigit bibir bawahnya karena cemas. Bahkan tubuhnya kini terasa dingin, kepalanya sedikit merasa pusing di sertai perut yang mendadak mual. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Ia takut, khawatir, cemas dan semuanya bercampur aduk jadi satu.
"Kita buktikan semuanya di dalam." Keanu meyakinkan. Akhirnya Kezra pun mengangguk meski lemah. Ia turun dan melepaskan helm yang ia kenakan dan memberikannya pada Keanu. Keduanya berjalan beriringan memasuki hotel, Kezra menggigit ujung kukunya untuk menghilangkan cemas yang berlebihan. Melihat hal itu, Keanu menarik jemari lentik wanita itu dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Jangan cemas. Ingat, ini bukan akhir dari segalanya. Tapi semua ini merupakan awal dari kebahagiaan dan kebaikan Ibu sendiri."
Diam-diam Kezra memuji sikap dewasa pria yang ada di hadapannya ini. Ia akui meski usia Keanu lebih muda, tapi pola pikirnya sangat dewasa. Ia bahkan bisa menenangkan ketika dalam situasi genting seperti ini.
Keduanya naik lift, menuju lantai enam. Sebenarnya Keanu sudah mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya. Sehingga ia bisa langsung tahu di mana target berada. Tak berapa lama lift berdenting, pintunya terbuka. Kedua anak manusia berbeda gender serta usia itu keluar dan langsung menuju kamar 210. Berbekal kunci yang di beri oleh orang kepercayaannya, Keanu membuka pintu itu tanpa permisi sehingga membuat dua insan yang sedang di Landa napsu itu terkejut bukan main. Rasa marah menyerbu pria yang tak berbusana di atas ranjang. Sementara sang wanita yang juga tak berbusana itu pun segera meraih selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya.
"Brengsek! Siapa yang berani merusak kesenangan ku?!" teriak Lukas seraya turun dari ranjang. Tak mempedulikan tubuhnya yang polos. Keanu menatap jijik pada pria yang kini maju untuk menerjangnya.
"Heh, bocah ingusan! Apa maksud Lo tiba-tiba masuk ke sini, hah?!" wajah Lukas memerah, menatap Keanu dengan berang. Tampak sekali semua urat di wajahnya menonjol.
"Heh brengsek! Lebih baik Lo tutup dulu tubuh yang tidak bagus itu. Tubuh Lo merusak mata gue!" ujar Keanu seraya melemparkan jaket miliknya. Ia sangat risih melihat tubuh telanjang milik Lukas. Seakan tersadar, ia langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Heh bocah! Ngapain Lo kesini? Lo nggak ada kerjaan?!"
"Gue cuma mau ngasih surprise."
"Surprise apaan? Gue nggak lagi ulang tahun!"
"Kejutan kan nggak mesti ulang tahun." ujar Keanu santai.
"Brengsek Lo! Minggat Lo dari sini! Ngerusak kesenangan gue aja tahu nggak! Lagian ini kenapa orang asing bisa masuk ke sini seenaknya sih. Gue bakal tuntut ini hotel!" teriak Lukas dengan amarah yang meledak-ledak. Keanu hanya tertawa ringan melihat Lukas. Pria itu tidak tahu kenyataannya bahwa hotel tempatnya bersenang-senang adalah miliknya.
"Mas Lukas ...." terdengar suara lirih menyayat hati dari arah pintu kamar hotel. Lukas menoleh, matanya melebar sempurna ketika melihat Kezra yang berdiri lemah di sana. Wajah wanita itu sudah bersimbah air mata, bibirnya bergetar menahan tangis yang tak bersuara. Ia sudah mendengar semuanya, dan matanya terpaku pada seorang wanita yang ada di atas ranjang hanya tertutup selimut tebal bewarna putih.
"Ke ... Kezra,"
Glekk ....
Lukas menelan ludah dengan kasar. Kezra saat ini ada di hadapannya, menyaksikan semua hal kotor yang ia lakukan. Ia benar-benar sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi. Tamatlah riwayatnya dan tidak tahu harus berkata apa.
Hai all ...
__ADS_1
Ramein novel baru author yuuk. Masih sepi bgt iniðŸ¤
Tapi siapin tisu banyak2 yah, karena novel ini mengandung banyak bawang. HihihiðŸ¤ðŸ¤