
Rinai hujan turun membasahi bumi, bau tanah yang khas masuk ke indera penciuman seorang wanita yang rambutnya di ikat kuncir kuda. Ia memejamkan mata, menikmati hujan yang turun perlahan. Senyum tersungging di bibirnya, menghirup lamat-lamat bau khas hujan.
"Indah, ya." Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakangnya. Mata yang semula tertutup itu segera terbuka, kepalanya menoleh dan hampir kedua hidung bertemu.
"Keanu! Kamu ngagetin aja, sih." Kezra memukul bahu Keanu dengan kesal.
"Aduh ... Sakit, Bu." ia meringis seraya mengusap bahunya.
"Makanya jangan ngagetin orang! Ntar kalo jantung saya copot gimana?" Kezra mendelik memasang wajah garang.
"Ya tinggal pasang lagi. Gitu aja kok repot." ujarnya santai.
"Astaga! Kamu kira apaan bisa pasang gitu aja?"
"Ya jantung, kan? Emang apa?"
"Oh my God, kenapa ini anak bikin saya emosi Mulu sih." Kezra mengerang putus asa.
"Oh my God, kenapa Bu Kezra gemesin banget sih." balas Keanu menggoda istrinya.
"Tauk ah. Gelap." Rajuk Kezra sembari berbalik, ia kembali melihat hujan yang turun.
"Ciee ... Kakak sama kak Keanu ngapain?" celetuk Kiki adik Kezra seraya tersenyum jahil.
"Eh, apaan anak kecil?" Kezra mendelik.
"Kita lagi pacaran. Jangan di ganggu!" bisik Keanu pada bocah kecil yang sedang memperhatikan keduanya.
__ADS_1
"Nah ntar Kiki bilangin sama Bapak, Loh. Nggak boleh pacaran, dosa!" ujarnya dengan polos. Keanu dan Kezra saling pandang.
"Lagian siapa yang pacaran sih? Orang nggak ngapa-ngapain juga." ujar Kezra.
"Lah tadi itu ngapain kalo nggak pacaran? Deket gitu."
"Dia aja yang aneh. Kenapa Deket-deket kakak."
"Astaga. Deket juga nggak apa-apa juga kali. Kita udah saja, udah halal." kata Keanu.
"Ish apaan sih kamu!"
"Emang bener, kan?" Keanu menaik turunkan alisnya.
"Terserah!" ujar Kezra.
"Ya udah ayok." Kezra menggandeng tangan adiknya dan memasuki rumah.
"Kok saya di tinggal?" Rajuk Keanu seraya mengikuti dari belakang. Kedua kakak beradik itu mengabaikan Keanu seraya tertawa jahat.
Melihat kedatangan mereka bertiga, Sang Ibu segera melambaikan tangan menyuruh mereka duduk di meja makan sederhana yang terbuat dari kayu.
"Ayo sini, kita makan bareng." ajak Ibu Kezra seraya memasukkan nasi ke setiap piring yang tersedia. Ketiganya duduk di kursi kayu masingmasing, ayah Kezra menatap Keanu.
"Susah nggak nyari alamat rumahnya?" tanya Bapak pada menantunya.
"Agak susah sih, Pak. Tadi sempet kesasar juga. Tapi untungnya warga sini baik-baik, jadi tadi di anterin sampe depan rumah." kata Keanu menjelaskan.
__ADS_1
"Istri kamu ini emang bandel. Harusnya dia pulang bareng kamu. Ini malah pulang sendirian dan nggak bilang-bilang."
"Ya kan Kezra lupa, Pak." Kezra beralasan.
"Lupa apanya? Harusnya kamu itu sadar kalau sudah punya suami. Kamu itu sudah nggak gadis lagi. Kalo kemana-mana harus minta izin sama suami. Sekalipun ke rumah orang tua sendiri."
"Nggeh, Pak. Kezra mengerti sekarang."
"Nggah nggeh terus. Besok di lakuin lagi."
"Nggak pak. Beneran." janji Kezra seraya mengangkat dua jari telunjuk dan tengah ke atas.
"Sudah, sudah. Lah wong mau makan kok malah ribut terus. Makan dulu, nak Keanu kelihatannya udah laper itu." celetuk Ibu Kezra yang sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Ah Ibu tahu aja sih, kalo menantunya lagi laper." kata Keanu seraya tersenyum.
"Ya udah nak, ayo di makan."
Keanu mengedarkan pandangannya ke atas meja. Ia merasa asing dengan lauk pauk yang tersedia. Ada kerupuk, semur jengkol dan sayur bayam. Ia bingung harus mengambil yang mana.
"Kenapa, Nak? Tidak enak, ya." Ibu Kezra menatap tidak enak pada menantunya yang terpaku melihat menu yang terhidang di atas meja .
"Hehe, bukan begitu Bu." Elak Keanu .
"Ya udah kalo gitu, makan dong."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Kelima orang itu makan dengan lahap, menikmati makan sederhana buatan sang Ibu Kezra.