
"Kenapa kamu bertindak seenaknya?" suara bariton terdengar di ruangan pemilik sekolah. Pria itu berdiri tegak dengan napas naik turun menahan amarah. Menatap kemenakannya yang tak mau memandangnya sedikitpun. Pria muda itu duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangannya, bersikap acuh pada Sang paman yang selama ini mengasuhnya.
"Kamu ini punya telinga apa tidak?" Pria muda yang merupakan Keanu itu menoleh dengan malas. Balik menatap pamannya dengan dingin.
"Nggak lihat saya punya telinga apa nggak?"
"Kamu itu benar-benar ya ....!"
"Apa? Kenapa tiba-tiba memanggil saya dan marah-marah?"
"Saya begini karena kamu! Kenapa kamu itu bertindak semau kamu?!"
"Saya tidak mengerti dengan apa yang paman katakan."
"Jangan pura-pura bodoh kamu! Apa perlu saya beberkan tindakan ceroboh yang telah kamu lakukan?"
"Silahkan." ujar Keanu santai. Ia menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada sementara kaki kanannya ia letakkan di atas kaki kiri.
"Dasar keponakan tidak berguna! Bisanya hanya menyusahkan!" umpat pria itu dengan kasar.
"Ohya? Benarkah saya tidak berguna?"
"Kamu itu bisa tidak, jangan membuat saya kesal? Apa maksud kamu dengan membeli hotel itu? Bukankah beberapa waktu lalu kamu juga membeli tempat yang tidak penting hanya karena kamu suka? Apa alasan kamu membeli hotel itu, hah? Apa karena kamu juga menyukai hotel itu sehingga kamu juga membelinya?!"
Keanu mulai paham dengan segala permasalahan yang terjadi. Ia mulai paham arah pembicaraan pamannya.
__ADS_1
"Nggak ada. Saya suka aja. Kenapa? Nggak boleh?"
"Ya jelas lah tidak boleh. Kamu itu hanya menghamburkan uang! Apa yang kamu dapatkan dengan membelinya?"
"Pastinya itu lebih baik karena hal itu merupakan investasi. Dari pada bermain dengan perempuan? Itu baru di namakan menghamburkan uang. Lagi pula ini juga pakai uang saya. Terserah saya dong, uangnya buat beli apa aja."
"Kamu ... Kenapa semakin hari kamu semakin membangkang, hah?"
Keanu hanya menatap malas pada pamannya yang sedang di liputi amarah.
"Kamu itu sama saja dengan Almarhum papa kamu! Sama-sama keras kepala dan suka membangkang!" Mendengar orang tuanya di sebut membuat emosi pria muda itu naik. Ia berdiri, menatap marah pada pamannya.
"Jangan pernah membawa almarhum papa!"
"Kenapa? Kamu tidak terima? Bukankah semuanya benar?"
"Terserah kamu! Saya minta kamu jangan membeli hal yang konyol lagi. Menghamburkan uang hanya untuk hal yang tidak penting!"
"Anda tidak berhak melarang saya, karena saya membeli itu semua memakai uang saya. Uang peninggalan Papa saya. Jadi, jangan mengatur hidup saya lagi!"
"Keanu! Kenapa kamu semakin liar begini? Tidak ada sopan santun sama sekali."
"Saya permisi!" Keanu berbalik, tak ada niatan untuk melanjutkan pertikaian yang tidak ada ujungnya.
" Mau kemana kamu? Saya belum selesai bicara!" Teriak pria itu dengan kesal. Sementara sang keponakan tak mengindahkan sama sekali.
__ADS_1
Keanu tak menggubris ucapan pamannya. Ia terus melangkah tanpa memperdulikan apapun. Pria itu terus berjalan menuju kelas, mengambil tas beserta kunci motor. Menyampirkan jaket jeans miliknya ke bahu.
"Ke, Lo mau kemana?" tanya Dion dengan wajah bingung.
"Pulang." jawabnya singkat.
"Keanu, mau kemana kamu? Jam pelajaran belum selesai!" ujar seorang guru perempuan yang kini sedang berdiri di depan kelas.
"Saya mau pulang, Bu."
"Tapi jam pelajaran belum selesai! Kamu tidak boleh pulang seenaknya begitu." Keanu tak peduli, ia mengabaikan teriakan gurunya yang menyuruhnya kembali.
"Dasar anak itu. Seenaknya aja mau pulang. Di kira sekolahan ini punya Bapaknya apa?!" gerutu guru yang berusia sekitar 40 tahun itu. Ia memperbaiki letak kacamatanya seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. Ia mendaratkan bokong pada kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Maaf Bu, bukannya sekolahan ini memang punya keluarga Keanu ya?" ujar salah satu siswa berkacamata seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendengar hal itu membuat guru itu menoleh, menatap siswa yang baru saja bersuara. Baru saja ia membuka mulut, tapi bibir itu kembali terkatup. Ingin membantah, tapi benar adanya. Hingga akhirnya ia mendesah putus asa.
"Ah kau benar. Pantas saja dia bisa pulang seenaknya."
🍄🍄🍄
Hai all ....
Maaf ya, author baru sempet up date. Di karenakan kesehatan yang menurun, membuat cerita ini di tunda beberapa waktu kemarin. Sekarang author udah sembuh, jadi in sya Allah author usahain buat up date. Makasih buat kalian semua yang nggak pernah bosen nungguin cerita ini update. I love you all 😘
Jangan lupa like, komentar, gift and votenya yah. Biar author makin semangat 🤭
__ADS_1
Hihihihihi