
Keanu menyodorkan sebuah helm pada Kezra, tapi wanita itu tidak langsung menanggapi. Kezra hanya menatap ke arah hotel yang menjulang tinggi di hadapannya dengan pilu dan mata yang nanar. Bayangan Lukas bersama wanita lain selalu melintas di pikirannya. Siapa yang tidak akan berpikiran jauh? Seorang pria dewasa bersama seorang wanita di dalam ruangan yang sama. Hanya berdua. Keanu menatap wajah murung sang istri, ia pun menghela napas berat. Tanpa aba-aba ia segera memasangkan helm di kepala Kezra dengan hati-hati.
"Ayo, Bu. Kita harus pulang," ujar Keanu setelah selesai. Kezra hanya mengangguk pelan dengan tarikan napas yang sangat berat. Keanu menuntun wanita itu untuk menaiki motor sport miliknya. Ia pun menarik tangan Kezra ke pinggangnya tanpa ragu. Pria itu menggenggamnya sebentar, lalu menyalakan mesinnya dan melaju meninggalkan hotel tempat Lukas bersama selingkuhannya.
Di jalan Kezra dan Keanu hanya diam. Tak ada obrolan seperti biasanya, bahkan wanita itu kini tanpa sadar memeluk pria yang menjadi suaminya selama satu bulan ini. Tatapannya kosong, sesekali hanya terdengar helaan napas berat penuh sesak dari wanita itu.
"Bu, pegangan lebih kuat ya. Saya mau ngebut." teriak Keanu pada Kezra. Kezra hanya mengangguk pasrah dan mengencangkan pelukannya. Tak ada lagi Omelan dari wanita itu. Biasanya ia akan marah-marah dan memukuli punggung Keanu agar pria itu tidak mengebut.
🌻🌻🌻
"Bu, ayo turun. Kita udah sampai." kata Keanu seraya menoleh ke belakang. Kezra menegakkan tubuhnya, melihat sekeliling. Detik selanjutnya wanita itu mengernyitkan dahi, menyadari bahwa mereka bukan sampai di rumah tapi di tempat lain. Tempat itu berada di dataran tinggi, dengan lampu warna warni yang berjejer dengan indah di tepi sebuah dataran Seperti jurang. Tak jauh dari sana ada sebuah gazebo sederhana dengan anyaman bambu yang di cat bewarna kuning dan putih. Hawanya sejuk serta menenangkan. Jauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta yang padat.
"Ayo turun!" ajak Keanu seraya tersenyum. Ia membuka helm yang ia kenakan, Kezra pun turun dan memberikan helm yang ia kenakan pada Keanu.
"Kita dimana?" tanya Kezra seraya menyapu tempat yang mereka datangi. Semilir angin lembut membelai wajahnya, menerbangkan helaian rambut yang ada di sekitar wajah wanita itu.
"Di tempat yang bisa menenangkan hati. Ini tempat favorit saya." kata Keanu seraya melangkah ke depan. Mendekati tepian jurang yang membentang di hadapan keduanya. Ia menatap jauh ke depan, netranya menyapu lampu-lampu bewarna warni yang terlihat sangat kecil dari tempat mereka berdiri. Di bawah sana terdapat pemukiman penduduk desa, tak terlalu padat tapi lumayan ramai. Kezra menyusul Keanu dan berdiri sejajar dengan suaminya. Ikut menatap jauh ke bawah, semilir angin yang lembut membuatnya rileks. Keanu menatap Kezra dengan dalam. Tatapan pria itu sangat dalam, bahkan sangat sulit di jelaskan.
"Jika ingin teriak, maka teriaklah dengan kencang. Dan jika ingin menangis, maka menangislah sepuasnya. Tapi cukup malam ini, karena esok saya nggak mau ada air mata lagi yang keluar. Kecuali air mata kebahagiaan."
Kezra menoleh, ia pun menatap pria yang berdiri di sampingnya. Meski pria itu sering membuatnya kesal dan sangat tengil, tapi ia memiliki sisi kedewasaan yang tidak semua pria memilikinya.
"Apa boleh, jika saya teriak?" tanya Kezra ragu sehingga membuat Keanu tersenyum.
"Nggak akan ada yang ngelarang ataupun marah, karena saya juga sering teriak di sini sesuka hati saya." ujarnya seraya tersenyum samar.
"Benarkah?"
Keanu hanya mengangguk meyakinkan, lalu selanjutnya ia berteriak sehingga membuat Kezra yang sangat dekat dengan dirinya terkejut.
"Aaaaa ...." teriaknya dengan keras seraya menempelkan kedua tangannya di dekat bibir membentuk kerucut. Setelah berteriak sekencang-kencangnya, Keanu kembali menatap Kezra dengan perasaan lega. Ia tersenyum dan meyakinkan wanita yang ada di sampingnya.
"Ayo, lakukan. Mungkin dengan berteriak akan membuat perasaan Ibu menjadi lega." Kezra mengangguk ragu, lalu ia pun mengikuti apa yang di lakukan oleh Keanu sebelumnya.
"Aaaa ...." Kezra berteriak dengan ragu, sehingga membuat Keanu tertawa kecil.
"Bukan seperti itu caranya. Lakukan dengan benar! Keluarkan semuanya."
__ADS_1
"Hah? Emangnya gimana?" tanya Kezra ragu.
"Ya kayak yang saya lakukan tadi. Ayo kita bareng-bareng," ajak Keanu.
"Ntar di marahin orang, gimana?"
"Nggak akan ada yang bakal marahin kita. Percaya deh," kata Keanu meyakinkan Kezra sekali lagi.
"Tapi ...."
"Udah, jangan di pikirin. Ayo kita lakukan bersama."
Kezra mengangguk ragu seraya melihat sekelilingnya yang tidak ada siapa-siapa. Lalu, ia kembali menatap Keanu.
"Hitungan ketiga kita teriak kencang-kencang bareng-bareng." Kezra hanya mengangguk.
"Satu ... Dua ... Tiga ...."
"Aaaaaa ...." Keduanya berteriak sekencang-kencangnya. Dan kali ini Kezra berteriak dengan benar. Ia mengeluarkan semuanya, dan dadanya terasa plong. Keduanya saling tatap, lalu detik berikutnya tertawa bersama. Merasa lucu dan bodoh dengan apa yang mereka lakukan barusan.
"Nah kan, itu bisa. Gimana? Udah plong belum?" tanya Keanu setelah tawanya reda.
"Nah kan, saya suka kesini kalo lagi galau."
"Bisa galau juga?" ledek Kezra. Wajahnya sudah tak semuram tadi.
"Bisa lah, namanya juga manusia." pria itu terkekeh. Lalu mengajak Kezra untuk pergi ke gazebo yang tak jauh dari sana. Keduanya berjalan beriringan, di bawah ramainya bintang yang bertaburan di langit kelam malam itu. Keduanya meninggalkan alas kaki di bawah, lalu melewati dua anak tangga untuk naik ke gazebo sederhana itu. Kezra dan Keanu duduk di tikar yang terbuat dari Rumbia, duduk lesehan seraya menjulurkan kaki.
"Kamu sering kesini?" tanya Kezra penasaran.
"Iyups, sering banget."
"Galauin apaan sih? Sampe sering kesini dan teriak-teriak kayak orang gila?"
"Astaga. Berarti Ibu juga gila dong, kan barusan ikut teriak."
"Haha ... Sedikit." candanya di selingi tawa renyah. Ia seolah melupakan kekisruhan hati yang sempat melanda.
__ADS_1
"Banyak juga nggak apa-apa, Bu. Nanti kan saya tinggal anterin Ibu ke Rumah Sakit Jiwa." Keanu berkelakar.
"Jahat benget sih?"
"Haha ... Bercanda sayang."
"Hah ....?"
"Maksudnya, bercanda Bu." Keanu terkikik geli.
"Galauin apa? Masalah cewek?" tanya Kezra penasaran dan sangat ingin tahu.
"Ih ngapain galauin cewek? Nggak penting banget."
"Terus? Apa dong?"
"Ya ... Ada lah. Emang kalau galau cuma urusan cewek doang? Nggak dong."
Kezra manggut-manggut.
"Iya sih. Lagian kamu mah mana bisa galau karena cewek. Lah kamunya tinggal tunjuk aja mau cewek yang mana. Secara ... Kamu kan idola di sekolah. Mana sempet galauin cewek."
"Ah Ibu bisa aja. Cewek-cewek di sekolah itu nggak ada yang bikin saya tertarik. Mereka semua nggak ada yang sesuai kriteria. Kebanyakan anaknya pada manja, terlalu membanggakan harta orang tua. Terlalu kecentilan, nggak ada dewasa-dewasanya. Bikin pusing dan ribet banget. Pokoknya nggak banget deh." kata Keanu.
"Terus ... Kriteria cewek idaman kamu kayak gimana?" tanya Kezra iseng.
"Ummm ... Gimana ya. Yang pastinya nggak ribet, dewasa, nggak manja. Mandiri dan bisa di banggakan." Kezra hanya manggut-manggut menanggapi.
"Ibu mau tahu nggak, cewek idaman saya yang gimana?"
"Gimana?"
"Ya ... Semua itu ada pada diri Ibu."
Deg ....
Jantung Kezra seolah berhenti berdetak. Aliran darahnya terasa tersumbat. Tubuhnya seolah kaku dan tak bisa bergerak. Kepalanya menoleh pada pria yang duduk di sampingnya. Menatap Keanu yang ternyata sedang menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Semua kriteria cewek idaman saya itu ada pada Ibu." ulangnya dengan serius. Tenggorokan Kezra tercekat, matanya mengerjap beberapa kali.
"Oh my God. Apa maksud bocah ini? Apa dia menyatakan perasaannya?"