Mendadak Di Nikahi Berondong

Mendadak Di Nikahi Berondong
Maling teriak maling


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan Keanu kemarin, Kezra merasa canggung. Ia bahkan seringkali menghindar dari muridnya itu. Seperti saat ini saat ia hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum, ia terpaksa menunda keinginannya karena ada Keanu yang sedang duduk di meja makan meminum kopi hitam kesukaannya.


"Eh, kenapa nggak jadi ke dapur?" Keanu mengernyitkan dahi. Melihat Kezra yang berjalan terburu-buru menghindar.


"Sebenarnya kenapa lagi sih, dia? Dasar cewek aneh. Kadang galak, kadang cengeng, kadang cuek. Huh ... untung cantik." katanya seraya menyeruput kopi hitam yang masih setengah gelas. Ia berusaha mengabaikan perilaku aneh sang guru.


Sementara Kezra memutuskan untuk pergi ke kamarnya, merebahkan tubuh dan menatap langit-langit kamar bewarna putih.


"Kenapa sih, dia harus ada di dapur? Bukannya pergi ke sekolah. Kan aku lagi males ketemu sama dia." gerutu Kezra dengan muka masam.


"Dasar cowok modus. Selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan. Aku yakin banget kemaren itu dia cuma modus. Gegara aku lagi galau karena Mas Lukas." ia bermonolog.


"Aku masih penasaran, apa bener itu mas Lukas? Atau aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan? Bisa saja kan orang itu cuma mirip sama mas Lukas?"


Tak lama terdengar suara ketukan pintu di luar kamar yang membuat lamunan Kezra buyar seketika.


Tok ... tok ... tok....


"Bu, ayo berangkat. Nanti kita telat," suara Keanu terdengar dari luar kamar. Kezra menghembuskan napas berat, ia memejamkan mata sebentar lalu berteriak tanpa membuka matanya.


"Duluan aja. Saya lagi males ke sekolah, lagi nggak enak badan." teriaknya.


"Lah, Ibu sakit? Ya udah kita ke rumah sakit, ya? Ibu buka dulu pintunya biar saya masuk untuk melihat keadaan Ibu."


Kezra dengan cepat membuka matanya.


"Heh ... Nggak perlu! Saya nggak sakit parah kok. Nanti juga enakan setelah istirahat." teriaknya panik. Ia hanya beralasan, karena dirinya sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Moodnya sangat tidak baik hari ini.


"Beneran? Ibu nggak bohong kan?"


"Beneran, Ke. Sana berangkat! Saya baik-baik saja."


Tidak ada sahutan dari luar. Mungkin pria itu sudah pergi, begitu pikir Kezra. Ia pun memejamkan mata untuk menghilangkan kantuk yang masih menderanya.


Kemarin malam dirinya dan Keanu pulang hampir dini hari. Mereka menghabiskan malam hanya berdua di tempat favorit Keanu. Memesan banyak makanan untuk menghilangkan kegalauan sang guru. Bahkan dengan tak tahu malunya Kezra malah tertidur di sana sehingga membuat Keanu cukup lama memandang wajahnya.


Masih teringat jelas di ingatan Kezra saat dirinya terbangun di gazebo sederhana itu.


Ia sangat terkejut ketika dirinya membuka mata. Wajah Keanu sangat dekat, sama seperti waktu malam di saat dirinya tertidur menunggu pria itu pulang.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?"


"Saya hanya melihat Ibu. Lucu juga ya, kalau di lihat-lihat."


"Apanya yang lucu?" Kezra langsung duduk dan memperbaiki rambutnya yang berantakan.


"Ya lucu aja. Mulutnya lebar banget, ilernya kemana-mana. Ih ... cantik-cantik kok jorok." Keanu bergidik menggoda Kezra. Wanita itu langsung kelabakan, mengelap bibirnya yang sebenarnya tidak ada apapun.


"Yang bener ngelapnya, takut di lihat orang kan malu."


Dengan malu Kezra terus mengelap wajahnya dengan jaket yang ia bawa.


Mengingat hal itu membuat Kezra tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Ah ... memalukan!" teriaknya. Tak berselang lama ia pun menutup mata, menyambut mimpi.


☘️☘️☘️


Kezra terbangun saat merasakan ada pergerakan di ranjangnya. Ia mengerjapkan mata perlahan, lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Lukas yang ada di sampingnya sedang menatapnya. Tangan kanan pria itu bertumpu di kepala, tubuhnya berbaring miring di dekat Kezra.


Kezra mengucek matanya, memastikan penglihatannya sekali lagi.


"Hai sayang ... Aku sangat merindukanmu. Maaf jika aku masuk ke kamarmu dan sengaja menunggu kamu bangun." Lukas menatap Kezra penuh napsu. Pandangannya sayu, membelai wajah Kezra dengan sendu.


"Sayang. Kamu itu terlalu ceroboh, pintu depan tidak terkunci begitu juga dengan pintu kamar. Tadi Mas ke sekolah, mencoba mencari kamu. Tapi kata guru di sana kamu tidak masuk hari ini karena sakit. Mas sangat khawatir dan langsung ke sini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja."


"A-aku baik baik aja, mas. A-aku nggak apa-apa."


"Benarkah? Mas takut jika kamu sakit. Mas sangat khawatir."


"Aku baik mas. Mas sebaliknya kamu keluar sekarang. Aku nggak mau kalau nanti ada yang melihat kita berdua di dalam kamar."


"Memangnya kenapa sayang? Bukankah kita sebentar lagi akan menikah?"


"Aku akan memikirkan lagi tentang pernikahan kita."


Lukas mengernyitkan dahi, menatap heran pada kekasihnya yang kini beringsut menjauh. Kezra kini sudah duduk dan mengikat rambutnya, ia segera berdiri dan hendak keluar tapi di cegah oleh Lukas.


"Sayang kamu mau kemana? Coba jelaskan, kenapa kamu bilang seperti itu? Memikirkan apalagi? Bukankah kita akan menikah sesuai rencana?"

__ADS_1


Kezra melirik tangannya yang di tarik oleh Lukas.


"Lepaskan, mas." Lukas terpaksa melepaskan cengkraman tangannya.


"Banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu, mas. Masalah pernikahan, kayaknya aku harus memikirkan semuanya sekali lagi."


"Ada apa, sayang? Katakan kenapa kamu sekarang seolah ragu?"


"Kemarin malam kamu kemana, mas?" tanya Kezra tanpa basa-basi. Tampak wajah Lukas yang terkejut, ia pun mencari alasan.


"Sayang ... Mas lembur di kantor. Bukankah sebelumnya mas sudah bilang?"


"Ohya? Bukan lembur di hotel kan, sama cewek lain?" Kezra menodong Lukas, sebelah alisnya terangkat.


"Sayang ... Kamu ini ada-ada aja deh. Mas lembur sayang, di Kantor. Ngapain ke hotel? Lagian, kamu ini dapet pemikiran dari mana sih? Atau jangan-jangan kamu ya yang ke hotel? Terus liat orang yang mirip sama aku?" Lukas balik menuding Kezra.


"Apa sih mas? Kok kamu malah balik nuduh aku, sih?"


"Lah lagian kamu. Aku itu kerja buat cari uang tambahan buat kita nikah, eh kamu malah nuduh yang nggak-nggak. Seharusnya kamu mikir dong! Aku tuh kerja siang malam buat masa depan kita. Kamunya malah nuduh yang enggak-enggak. Keterlaluan banget sih kamu."


"Loh. Kok aku sih yang keterlaluan? Lagian kalau itu bukan kamu, kenapa kamu malah jadi marah?"


"Ya jelaslah aku marah. Kamu itu nuduh tanpa bukti! Aku itu lembur di kantor, mata ngantuk badan capek. Dan sekarang malah di tuduh-tuduh begini."


"Aku cuma nanya, mas. Nggak lebih. Kalau itu bukan kamu ya allhamdulillah. Semoga benar itu bukan kamu."


"Aku tersinggung, yah. Kamu ngomong gitu. Kamu bicara seolah-olah itu benar aku."


"Astaga. Kenapa jadi gini, sih?" Kezra meremas rambutnya. Kepalanya terasa pusing melihat Lukas yang marah.


"Kamu itu nggak bersyukur punya calon suami yang mau kerja keras. Yang bela-belain lembur di hari libur. Calon suami kamu ini nyari uang tambahan buat masa depan kita. Harusnya kamu bersyukur!"


"Apa sih mas? Aku cuma nanya doang. Aku cuma mau memastikan kalau penglihatan aku itu salah. Aku cuma mau memastikan bahwa cowok yang mesra-mesraan sama cewek di depan hotel itu bukan kamu!"


Lukas terdiam. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan terkejut. Hingga akhirnya ia berusaha dengan cepat menguasai perubahan wajahnya.


"Lagian kamu ngapain di hotel? Jangan-jangan kamu yang ke hotel sama cowok lain? Ngapain aja kamu di sana?"


"Lah kamu ini gimana, sih? Kok aku?"

__ADS_1


"Maling teriak maling!" sinis Lukas. Ia pun segera meninggalkan Kezra dan keluar dari kamar wanita itu. Kezra menatap punggung pria itu dengan tatapan bingung.


"Lah jadi kenapa aku yang tertuduh? Apa maksudnya dengan maling teriak maling?"


__ADS_2