Mendadak Di Nikahi Berondong

Mendadak Di Nikahi Berondong
Gagal galau


__ADS_3

"Udah, kalo mau nangis ya nangis aja. Jangan di tahan." teriak Keanu di sela suara motor sport miliknya yang melaju pelan di jalanan Ibukota yang tak terlalu ramai karena hari sudah agak larut.


Tak ada sahutan dari wanita yang duduk di belakangnya, hanya isakan kecil yang terdengar.


"Malam ini Ibu boleh nangis sepuasnya, tapi besok jangan lagi nangis kayak gini. Apalagi kalo sampe nangisin cowok brengsek kayak si Lukas itu. Mubazir air matanya!" kata Keanu dengan suara keras. Kezra hanya diam, terisak pilu dengan rasa sakit yang terus menghujamnya. Ia tanpa sadar memeluk erat pinggang Keanu, hingga pria itu melirik sekilas kedua tangan yang melingkar erat di pinggangnya.


"Kenapa kamu tega banget sih, mas. Bukankah kita berjanji bakal menikah dan membangun rumah tangga yang bahagia? Bukankah kamu bilang mencintaiku? Kenapa kamu tega, Mas!" isakannya makin keras. Kini giliran Keanu yang diam tanpa suara. Ia membiarkan Kezra mengeluarkan isi hatinya.


"Kamu bilang karena mau menjagaku, tidak mau merusak ku. Tapi nggak gini caranya mas. Nggak seharusnya kamu kayak gini. Apa kamu nggak bisa nahan nafsu kamu menjelang pernikahan? Kamu benar-benar membuat aku kecewa dan sakit mas. Ku kira semuanya baik-baik saja, tapi kenapa semuanya begini mas." Kezra tergugu. Punggung Keanu pun terasa basah akan air mata yang mengalir deras dari mata wanita itu.


"Kamu itu benar-benar brengsek mas! Tidak tahu diri dan aku sangat membenci kamu!" teriaknya kencang tanpa mempedulikan lalu lalang kendaraan yang melewati mereka. mengabaikan tatapan heran serta aneh dari pengendara motor lainnya. Keanu yang merasa tidak enak dengan tatapan itu, hanya tersenyum tidak enak meminta pengertian dari mereka.


"Aduh ... Ntar di kira gue yang bikin Bu Kezra nangis. Liat aja tuh, tatapan mereka kayak mau marah aja ke gue." Pria itu menggaruk dagunya yang tiba-tiba terasa gatal.


Kezra yang mendengarnya secara samar pun merasa tersinggung. Ia melepaskan pelukannya dan beringsut mundur ke belakang.


"Ya udah kalo gitu saya mau turun di sini aja. Biar saya jalan kaki! Kalo nggak ikhlas boncengin saya, bilang aja!" teriaknya dengan keras sehingga membuat Keanu jadi serba salah.


"Ya ampun, Bu. Bukan gitu maksud saya. Saya cuma nggak enak ma mereka. Di kira saya ngapa-ngapain Ibu. Liat aja tuh tatapan mereka kayak mau makan orang aja."


"Halah! Bilang aja saya beban, kan? Kamu malu kan bawa saya kayak gini?"


"Bukan begitu, Bu. Ya ampun si Ibu salah paham." Keanu mendesah putus asa.


"Berhenti sekarang juga! saya mau turun! Saya mau jalan kaki aja!"


"Jangan Bu. Ini rumah kita masih jauh banget. Bisa gempor kaki Ibu kalo jalan kaki sampe rumah."


"Saya nggak peduli! Saya mau jalan kaki! Turunin sekarang juga! Kalo nggak mau berhenti, saya loncat nih!" ancam wanita itu sehingga Mau tak mau Keanu menghentikan laju motornya.

__ADS_1


"Iya-iya. Astaga! Kok malah jadi gini sih?!" ia menepikan motornya di trotoar, dengan cepat Kezra turun dan berjalan tanpa melepaskan helm yang ia kenakan. Tingkah keduanya tak luput dari tatapan heran orang-orang yang berlalu lalang. Membuat Keanu semakin malu. Mereka berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Ayolah, Bu. Naik sini! Rumah kita masih jauh banget." keluh Keanu seraya mendorong motornya. Kezra tak menggubris ucapan Keanu, ia malah melangkah dengan cepat. Ia terus berjalan dengan tangis yang berderai.


"Woi, bujukin tuh pacarnya! Kasihan anak orang jalan kaki. Ntar lecet kakinya!" teriak seorang pria yang mengendarai sepeda motor.


"Astaga! Kan Bu, kita di katain. Ayo naik, Bu."


"Nggak mau! Kalo kamu malu, pergi sana! Tinggalin saya di sini sendirian. Saya bisa kok pulang sendiri tanpa kamu!"


Keanu memejamkan mata, akhirnya ia memilih mengalah dan bungkam. Ia terus mendorong motornya mengikuti Kezra yang berjalan di depannya.


"Cewek emang aneh! Tadi sok tegas, sok tegar di depan pria brengsek itu. Sekarang, malah galau setengah mati. Rela jalan kaki buat pulang kerumah. Kalo nggak sayang, udah aku tinggalin nih cewek." kata Keanu pelan.


"Eh, sayang. Ngomong-ngomong sayang nggak sih sama Bu Kezra? Eh, nggak tahu ah." mengabaikan perasannya yang tak menentu. Biasanya, Keanu akan bersikap tak peduli pada perempuan. Ia akan dengan sangat tega meninggalkan wanita yang membuatnya kesal ataupun banyak drama. Bahkan ia tak mempedulikan wanita yang sering mencuri perhatiannya dengan segala cara.


Setelah jauh berjalan, Kezra tampak lelah. Ia duduk di salah satu bangku trotoar dan memijat kakinya. Keanu pun hanya tersenyum melihat wanita itu. Ia juga menghentikan langkahnya, memarkirkan motornya dan ikut duduk di sebelah wanita itu.


"Uhh ... capek juga ya ternyata." ujarnya seraya membuka helm yang di kenakan sedari tadi.


"Siapa suruh ikutan jalan?" sahut Kezra sinis. Tak ada lagi tangisan tadi. Wanita itu pun juga ikut membuka helmnya.


"Ya itung-itung olahraga lah. Lumayan kan, buat bakar lemak."


Kezra hanya memutar bola matanya secara terang terangan.


Keduanya hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Menatap jalanan yang mulai sepi, Keanu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


"Apakah **** begitu penting bagi seorang laki-laki?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir wanita cantik yang merasa galau itu. Keanu melirik dengan ekor matanya, lalu kembali menatap jalanan. Menghela napas berat sebentar. Ia pun bingung harus menjawab karena seumur hidupnya ia belum melakukan hal semacam itu. Meski teman-temannya sering bercerita tentang **** yang mereka lakukan bersama pacarnya dan menganggap hal itu lumrah, tapi tidak dengannya. Senakal-nakalnya dirinya, ia tidak ingin merusak masa depan seorang wanita apalagi wanita itu orang yang ia cintai.

__ADS_1


"Mungkin bagi sebagian pria, hal itu sangat penting. Tapi tidak semua pria sih, dan saya sebenarnya nggak tahu, Bu. Saya nggak pernah ngelakuin hal semacam itu. Hehe ...." ia menyeringai. Kezra menatap Keanu, ada rasa tak percaya yang menghinggapi pikiran wanita itu. Keanu pun menoleh, mendapati wajah Kezra yang menatapnya seolah tak percaya membuat pria muda itu tertawa.


"Hahaha ... Kenapa, Bu? Nggak percaya? Saya itu masih perjaka Ting - Ting. Senakal-nakalnya saya, saya akan menjaga hal itu untuk istri saya nanti."


"Sayangnya hal itu sulit saya percaya."


"Ya ampun, Ibu mau unboxing? Ayo kita buktiin. Biar Ibu percaya dan nggak ngeraguin keperjakaan saya."


"Dih. Emang saya wanita apaan? Pake unboxing segala." cibir Kezra bersungut-sungut.


"Lagian nih ya, kita kan udah halal. Jadi nggak apa-apa kalo kita mau unboxing," Keanu menggoda Kezra dengan menaik turunkan alisnya. Dengan cepat wanita itu menoyor kepala Keanu sehingga membuat pria muda itu tergelak.


"Dasar tidak waras!"


"Setidaknya saya bisa membuat Ibu gagal galau."


Kezra menatap Keanu sebentar, benar yang di katakan pria itu. Kegalauan yang tadinya enggan pergi dari hati, kini berangsur hilang dan dirinya sedikit merasa tenang.


"Terima kasih, yah." ucapnya tulus.


"Terima kasih buat apa nih?"


"Ya terima kasih udah ada buat saya. Terima kasih, udah gagalin kegalauan saya."


"Hahaha ... Santai. Saya akan selalu ada untuk Ibu. Dalam keadaan apapun. Dalam susah atau pun senang, dalam duka ataupun suka. Saya bisa di andelin kok, tenang aja."


"Gombal kamu!" Kezra tersenyum samar.


"Saya serius, Bu. Saya nggak main-main dengan ucapan saya." ucap Keanu serius. Keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing. Kezra tak menyangka, murid tengil yang selalu membuat masalah itu bisa berpikir dewasa dan ternyata sangat baik. Bahkan bocah tengil itu bisa membuat hatinya tenang dan gagal galau.

__ADS_1


__ADS_2