Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 10 Pembekuan ATM


__ADS_3

"Dasar gak tau di untung" Hina Pak Razi lirih di saat Satria melewatinya. Namun masih dapat Satria dengar. Sejenak Satria menoleh dengan tatapan tajam, lalu pergi dengan membawa kekesalan.


****


Di bangku taman sekolah.


Terlihat Satria duduk dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya meremas rambutnya yang sedikit panjang ke arah belakang.


Yumi sekilas menatap Satria dengan heran dari balik jendela di lantai atas. Lebih tepatnya, dari jendela ruangan kantor yang secara tidak sengaja memang berhadapan dengan taman sekolah.


"Ada apa dengannya? Bukannya ini jam masuk sekolah?" Gumam Yumi lirih. Tatapan matanya bahkan tidak berpaling dari Satria yang nampak tidak semangat.


Di ambilnya sebuah handphone yang ada di saku bajunya, lalu Yumi mengetikkan beberapa kata disana.


Tringgggh.


Satria seketika tersentak kaget, disaat suara nada pesan di handphone nya berbunyi. Lalu ia membuka tas miliknya dan mengambil handphone nya.


"Ada apa denganmu? Apa kamu membuat masalah lagi?" Pesan Yumi.


Satria menautkan kedua alisnya heran, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat mencari sosok Yumi disana.


Lalu matanya menangkap sosok itu, yang tidak lain berada di lantai atas di balik kaca jendela. Lama mata keduanya saling bertemu, lalu Satria mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan Yumi.


"Kenapa kau tidak turun? Suami mu sedang ada masalah" Balas Satria.


Yumi pun nampak membaca pesan itu, sekilas ia kembali menatap Satria dengan kepala yang tergeleng.


"Jika aku kesana, nanti apa kata orang. Sebaiknya kamu masuk ke dalam kelas, jangan membuat keributan apa lagi membuat masalah apapun, karena aku tidak akan membantumu" Balas pesan Yumi lagi.


Setelah membaca isi pesan Yumi, nampak Satria menggerutu kesal, "Dasar istri tidak berbakti"


Satria pun beranjak dari sana dan meninggalkan taman sekolah.

__ADS_1


******


Di sebuah gedung yang tingginya menjulang.


Seorang pria bertubuh kekar, dengan setelan jaz yang bewarna hitam pekat membuka pintu mobil seraya menunduk hormat.


Satria keluar dari dalam mobil dengan wajah yang tertekuk. Terlihat ia begitu tidak senang.


"Silahkan tuan muda. Tuan Herman sudah menunggu di dalam" Ucap pengawal itu sopan.


Satria masuk begitu saja, tanpa menjawab perkataan pengawalnya.


Di ruang kerja seorang Presdir Herman Satriawan, ayah dari Satria terlihat sedang sibuk dengan berkas-berkasnya. Satria membanting pintu dan masuk dengan wajah yang gusar.


"Kenapa papa membekukan ATM ku?" Tanya Satria dengan wajah yang merah padam.


Pak Herman sejenak menoleh kepada anaknya, lalu meletakan sebuah pulpen yang ia pegang itu di atas meja. Wajahnya nampak begitu tenang, bahkan senyumannya mengembang di bibirnya.


Pak Herman membawa Satria untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di ruangannya.


"Jika papa bekukan ATM ku. Aku makan pakai apa? Aku jajan pakai apa? Terus aku sekolah gimana?" Keluh Satria lagi yang nampak masih tidak terima akan apa yang ayahnya lakukan.


Pak Herman nampak tersenyum tipis, "Kamu tidak pernah berubah Satria. Cerewet, dan juga banyak bicara"


"Cerewet sama banyak bicara itu sama aja Pa. Terus kenapa tiba-tiba Papa membekukan ATM ku? Aku tu malu di supermarket tadi, mau bayar tapi uangnya gak ada" Kembali Satria mengeluh kepada Ayahnya.


"Gimana kabar istrimu? Apa dia baik padamu?" Tanya Pak Herman mengalihkan pembicaraan.


"Kabarnya baik. Lagi pula kenapa sih papa tanya dia, bukannya ngejawab pertanyaan aku"


"Semenjak kamu menikah bersama gadis itu, kamu jarang sekali pulang. Apa kamu tidak merindukan papa? Setelah ATM di bekukan baru kamu jenguk papa" Ujar Pak Herman kemudian.


"Ya rindu sih. Tapi,,,,,,"

__ADS_1


"Tapi apa? Apa kamu begitu berat meninggalkan istrimu walau hanya sejenak menjenguk papa di rumah?" Ucap Pak Herman menerka.


"Ya gak gitu juga. Satria lagi fokus menata masa depan pa. Papa ngerti kan, yang Satria bicarakan ini. Satria lagi fokus menaklukan wanita pujaan Satria saat ini dan akan Satria perjuangkan. Tapi jika papa gak ngasih aku jajan, gimana aku hidup disana" Satria merengek dengan wajah yang memelas.


Mendengar berbagai keluhan yang Satria bicarakan, Pak Herman nampak menghela nafas panjang, lalu berdiri dengan tatapan lurus kedepan dengan sebelah tangan masuk kedalam saku celananya.


"Ini saatnya kamu untuk berubah Satria. Kamu adalah anak laki-laki, dan harus punya rasa tanggung jawab. Jika kamu selalu selalu mengharapkan papa menolong mu, maka kamu tidak akan mandiri sampai kapan pun" Ujar Pak Herman.


Pak Herman berjalan beberapa langkah kedepan, mengambil sebuah buku, lalu melemparkannya kedepan Satria.


"Cara Menjadi Suami Yang Baik dan Bertanggung Jawab"


Satria membaca cover buku itu dengan mata yang terbelalak.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya 😊 Masih ada waktu 16 hari lagi untuk mendapatkan hadiah ya! Ayo dukung terus karya ini.


Hai teman-teman! Maaf ya author gak up selama beberapa hari terakhir. Author mau cerita sedikit, kemarin author sempat Down gara-gara ada salah satu reader yang komennya itu julit banget. Dia bilang kalau karya author itu novel paling jelek yang pernah ada, terus dia bilang kalau alur crta yang Author buat itu sama sekali gak berfaedah dan jelek. Oleh karena itu, Author memilih untuk Berhenti menulis dalam beberapa hari ini. Tapi Author sekarang sadar, walaupun ada yang komennya kayak gitu, author akan selalu hadir buat kalian yang selalu mendukung Author. Terimakasih buat kalian yang selalu mendukungku. Dan author sarankan, siapapun itu, hargai jerih parah orang lain. Berkomentar lah dengan baik dan sopan. Yang terpenting, komentar itu bersifat membangun, bukan menjatuhkan mental orang lain.

__ADS_1


__ADS_2