Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 26 Masakan Yang Sama


__ADS_3

"Tidur!" Seru Satria yang sudah memejamkan matanya.


Yumi terlihat tersenyum, lalu membalas pelukan Satria dan tidur dengan nyenyak disana.


*****


Keesokan harinya.


Yumi bangun lebih awal dari biasanya. Terlihat Yumi sedang memasak dan menyiapkan hidangan di atas meja.


"Masak apa?"


Yumi menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum ramah, "Masak Sup ayam Ma. Ini juga ada perkedel jagung dan sayur cah kangkung" Jawab Yumi.


"Cih, masakan kampungan" Ujar Meida dengan mendelik tidak suka ke arah Yumi. Lalu melengos pergi meninggalkan Yumi yang nampak masih mematung.


Yumi menatap kepergian Meida dengan wajah sedih. Masakan yang ia buat adalah makanan kesukaan Satria. Dia pikir, dengan memasak makanan itu, semua orang juga akan menyukainya.


Bik Inem, pembantu di rumah itu terlihat menghampiri Yumi dan menghentikan kegiatannya mencuci piring.


"Sabar ya Non. Nyonya Meida emang gitu orangnya. Dia gak pernah bersyukur, dulu dia hanya seorang Sekertaris tuan Herman. Menjadi nyonya disini, membuatnya besar kepala" Ucap Bik Inem.


Yumi mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.


"Iya Bik. Terimakasih ya" Jawab Yumi sekenanya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sedikit tertunda.


Tidak berapa lama, terlihat Satria menuruni anak tangga dengan seragam putih abu-abu.


Yumi sedikit menoleh kepada suaminya. Kerah baju yang terbuka tanpa dasi, serta baju bagian bawah yang di buat tergerai di luar celana, membuat Yumi menggelengkan kepalanya.


"Pagi!" Seru Satria, lalu duduk di salah satu kursi meja makan dengan tersenyum manis ke arah Yumi.

__ADS_1


Yumi sejenak masih terdiam, lalu berjalan mendekati Satria.


Ditariknya bahu Satria, mensejajarkan dirinya dengan saling berhadapan. Tanpa berbicara, Yumi mengancingkan baju Satria agar terlihat rapi. Lalu memasang dasi itu dengan rapi yang hanya menjadi penghias di leher Satria beberapa waktu lalu.


"Berdiri!" Titah Yumi setelah memasangkan dasi Satria. Satria hanya menurut dengan menatap sang istri dengan tersenyum manis.


"Rapikan bajumu. Jika kau ingin lulus, bersikaplah dengan baik disana. Belajar dengan giat jangan bolos"


Lagi-lagi Satria hanya tersenyum melihat perhatian Yumi kepadanya.


"Kau tidak mendengarkan aku?" Pekik Yumi.


Satria yang masih menatap kagum sang istri, seketika tersentak.


"Ahh iya-iya. Aku dengar" Ucap Satria cepat, lalu memasukan bajunya ke dalam celana bagian atasnya.


"Aku boleh makan sekarang? Bau masakan istriku membuat perutku pada demo"


Yumi hanya mengangguk pelan, lalu mengambil piring dan memberinya dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang sudah dia masak sejak tadi.


"Udah pada sarapan?" Pak Herman yang baru datang segera duduk di kursi meja makan.


"Ayo pa sarapan dulu. Ini masakan spesial dari istriku. Rasanya enak banget" Puji Satria dengan masih terus mengunyah makanan di mulutnya.


Pak Herman tersenyum melihat Satria yang nampak sangat lahap. Pandangan Pak Herman seketika beralih kepada Yumi, rasa bahagianya tidak terbantahkan oleh apapun, apalagi melihat putranya yang kini sudah tidak sedingin dulu lagi.


Dilihatnya masakan yang terhidang di atas meja. Kembali Pak Herman menatap Yumi dengan wajah yang Heran, "Kamu yang membuat menu masakan ini?" Tanya Pak Herman.


"Iya pa. Kenapa?" Tanya Yumi balik.


Pak Herman tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, masakan mu pasti enak, makanya Satria suka" Ujar Pak Herman memuji.

__ADS_1


"Hidangan yang sama, dengan menu yang biasa mendiang istriku buat untuk Satria dan aku. Pantas saja Satria sangat menyukai makanan ini, karena ini adalah makanan yang biasa ibunya buat untuknya dulu. Aku jadi merindukan istriku dulu" Batin Pak Herman.


"Pa! Gak makan?" Tanya Yumi.


Pak Herman seketika tersentak, "Ah ya. Ini baru mau makan" Jawabnya cepat. Lalu mengambil lauk pauk yang hendak ia makan.


Setelah mencicipi makanan yang terhidang, Pak Herman terlihat tersenyum senang.


"Eemmm, Ini sangat enak. Papa suka" Ujar Pak Herman, membuat Yumi juga merasa Senang karena mertuanya juga menyukai masakannya.


"Oh ya Yumi. Papa berencana akan mengajakmu bekerja di kantor papa. Setelah Satria lulus, papa ingin kalian berdua yang memegang perusahaan itu. Papa hanya akan menikmati masa Tua papa di rumah saja. Yumi bisa belajar dulu untuk sistem kerjanya, nanti setelah kamu mahir bekerja, papa ingin kamu juga akan mengajari Satria. Bagaimana?" Tanya Pak Herman dengan menatap kedua orang itu secara bergantian.


Satria terlihat menatap istrinya yang nampak masih terdiam, "Pa, aku rasa beri Yumi Waktu untuk berpikir" Saran Satria.


"Baiklah, tidak masalah. Tapi papa ingin jawabannya segera ya! Karena dua bulan lagi kamu akan ujian akhir"


"Apa? Tua bangka itu mau memberikan perusahaan kepada Satria? Lalu untuk apa aku hamil kalau anakku tidak mendapatkan apa-apa?" Lirih Meida geram di balik dinding di dekat dapur. Wajahnya terlihat merah padam setelah mendengar percakapan ketiga orang itu.


Dengan hati yang kesal, Meida melangkah pergi meninggalkan tempatnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.


__ADS_2