Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 9 Curiga


__ADS_3

"Aku akan membuat kamu menyesal karena sudah menolak ajakan ku Yumi" Lirih Pak Razi geram.


Di koridor sekolah.


Yumi menarik tangannya dengan kasar, "Lepaskan Satria! Kalau ada yang melihat kamu seperti ini mereka bisa curiga" Ucap Yumi dengan kesal.


"Terus aku harus membiarkan kamu di dekati lelaki lain begitu?" Balas Satria yang tidak kalah kesalnya.


"Tapi bukan begini caranya" Ujar Yumi.


"Lalu...?" Satria bertanya dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya.


"Sudahlah. Jangan berbicara kepadaku lagi. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri" Ucap Yumi. Lalu ia pun pergi dari sana begitu saja. Sementara, Satria masih mematung, menatap kepergian Yumi yang semakin menjauh.


"Satria kok kayaknya serius banget bicara sama Buk Yumi? Apa mereka ada hubungan yang spesial ya? Dari pembicaraan mereka, aku jadi curiga" Ucap Haikal curiga. Ia segera keluar dari balik dinding yang ada di Toilet setelah Satria juga pergi meninggalkan tempat itu. Karena jarak mereka yang begitu dekat, jadi Haikal bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Yumi dan Satria.


Haikal adalah musuh bebuyutan Satria sejak pertama kali masuk sekolah. Haikal juga merupakan seseorang yang selalu mencari gara-gara bersama Satria. Bahkan dia selalu ingin menang dari apapun yang Satria lakukan. Termasuk masalah akademik sekolah. Melihat Satria dan Yumi bersama, tentu membuat pertanyaan besar baginya.


"Aku harus mencari tahu kebenarannya, lihat saja nanti. Rahasia apa yang telah mereka sembunyikan" Ujar Haikal lagi dengan menyeringai licik.


*******


Haikal nampak berjalan memasuki kelas. Nampak Satria dan sahabatnya Bram sedang tertawa bersama menikmati candaan yang di buat oleh Bram.


Mata Haikal nampak tidak berpaling dari Satria dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Seketika, Satria juga menoleh kepada Haikal yang baru sampai sehingga mata keduanya saling bertemu cukup lama.


"Lihat saja, bagaimana aku akan menghancurkan mu Satria. Sama seperti kamu menghancurkan harapan adikku" Batin Haikal.


Satria pun tidak kalah tajamnya menatap Haikal. Suasana seketika mencekam, Bram yang menyadari kedua orang itu yang saling menatap tajam segera menyudahi kelakarnya.


"Hai bro! Gak sakit matanya melihat kesini terus?" Tegur Bram kepada Haikal. Mencoba untuk melerai dengan sedikit sapaan yang di buat sedikit akrab.

__ADS_1


Semua mata seketika menoleh kepada Haikal. Perkataan Bram seakan memancing perhatian semua orang untuk melihat Haikal.


Haikal seketika tersentak, terlihat ia mengedarkan pandangannya. Nampak semua orang menatapnya dengan heran.


"Aku tidak melihatmu Bram, aku melihat cicak yang menempel di pundak mu" Ujar Haikal. Masih dengan aura yang begitu dingin.


Bram yang mendengar penuturan Haikal, segera ia menoleh ke pusat pembicaraan. Dan benar saja, seekor cicak memang hinggap di pundaknya tanpa ia sadari.


"Akhhhj Akhhhh geli geli" Bram terlonjak kaget, tangannya nampak mengibas-ngibas kesana kemari. Mencoba untuk membuang cicak itu.


Semua orang seketika tertawa terbahak-bahak melihat Bram yang nampak seperti seorang perempuan yang menjerit ketakutan. Badannya yang kekar ternyata tidak memperlihatkan jadi dirinya sebagai seorang laki-laki yang maco.


Teng teng teng.


Suara lonceng masuk pun menggema di seluruh ruangan. Bram nampak masih menjerit-jerit, segera Satria menolong sahabatnya itu dengan membantunya membuang cicak itu dari pundak Bram sebelum guru masuk kedalam kelas.


Bram nampak menghela nafas lega setelah binatang menjijikan itu menghilang dari pandangannya.


"Terimakasih Satria" Ujar Bram lirih dengan masih mengatur nafasnya yang tersengal. Nampak semua orang masih tertawa geli, seraya menatap Bram yang sudah mulai merapikan bajunya yang sedikit berantakan.


Sorot mata tajam kembali Satria layangkan kepada guru itu. Dan benar saja, Pak Razi seorang guru olah raga masuk kedalam kelas XII (12) B. Padahal hari ini bukanlah pelajaran olah raga, lalu kenapa Pak Razi masuk ke dalam kelas itu?


Semua murid menatap Pak Razi dengan bingung, lalu seorang murid perempuan pun membuka suara untuk bertanya.


"Maaf pak, bukankah hari ini pelajaran Seni Budaya?" Tanya seorang murid perempuan.


"Mungkin Pak Razi sudah agak pikun dan salah masuk kelas" Sambung Satria. Lalu di iringi gelak tawa semua murid


Wajah Pak nampak merah padam, sesekali ia terlihat menghela nafas panjang seraya menetralkan amarahnya.


Plakkk Plakkkk


Pak Razi memukul meja dengan sebuah penggaris kayu dengan keras, "Diam semuanya!" Teriak Pak Razi. Seketika semua murid terdiam kaku.

__ADS_1


"Saya disini menggantikan Buk Sonia yang sedang berhalangan masuk. Jadi hari ini kita hanya akan membahas materi tentang Penjaskes. Haikal! Silahkan ambil bukunya di perpustakaan" Jelas Pak Razi seraya memerintahkan Haikal untuk mengambil buku.


Tanpa membantah, Haikal pun mengangguk dan kemudian pergi menuju perpustakaan untuk mengambil buku.


Tidak lama setelah itu, Haikal kembali dengan membawa buku yang Pak Razi minta, lalu membagikan nya kepada seluruh murid. Satu murid mendapatkan satu buku, terkecuali Satria yang tidak mendapatkan buku apapun dari Haikal.


"Pak! Saya kok gak di kasih buku?" Protes Satria.


Pak Razi sejenak menatap Satria, "Karena kamu sudah membuat kelas saye menjadi gaduh, jadi kamu gak usah belajar" Ucap Pak Razi.


"Gak bisa gitu dong pak, sayakan cuma bercanda" Jawab Satria tidak terima.


"Jika kamu banyak protes lagi, silahkan keluar" Usir Pak Razi.


Satria yang kesal pun segera berdiri, lalu membawa tasnya dan pergi keluar begitu saja.


"Dasar gak tau di untung" Hina Pak Razi lirih di saat Satria melewatinya. Namun masih dapat Satria dengar. Sejenak Satria menoleh dengan tatapan tajam, lalu pergi dengan membawa kekesalan.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya 😊


__ADS_2