
Satria pun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali duduk bersama istrinya disana.
"Sayang! Kamu kok kayak doyan banget makan ketoprak? Padahal sebelumnya gak kayak gini?" tanya Satria.
"Ya gak tau. Tiba-tiba aja kepengen. Kan biasa orang mah tiba-tiba pengen makan sesuatu mas" Jawab Yumi yang masih fokus makan.
"Kamu gak mau mas?" Yumi kembali bertanya.
Satria menggeleng, "Pelan-pelan dong makan nya! Kayak di kejar setan aja. Mas masih kenyang, habis ini kita pulang ya! lagi banyak kerjaan di rumah" Ujar Satria serius. yang hanya di balas anggukan oleh Yumi.
Satria pun hanya bisa memperhatikan istrinya itu dengan wajah keheranan. Namun Satria lebih memilih untuk tidak mempedulikan hal tersebut dan hanya fokus kepada kemauan istrinya itu.
Setelah selesai makan. Satria dan Yumi pun pergi. Satria melajukan mobilnya meninggalkan pasar yang penuh dengan orang-orang itu dengan penuh kelegaan. Bukan tanpa alasan, Satria tidak terlalu menyukai berada di tempat keramaian seperti tadi. Namun karena menuruti keinginan istrinya, mau tidak mau ia menyetujui begitu saja. Ya, memang. Seorang pria akan lebih banyak mengalah dan mengikuti maunya istri. Walaupun itu terkadang bertentangan dengan keinginan dirinya sendiri.
Sesaat, mobil yang Satria bawa pun sudah sampai. Mobil mereka terparkir tepat di halaman depan rumah. Seorang pelayan menyambut mereka dengan sopan. Bersiap menerima perintah dari sang tuan.
"Tolong bawakan semua barang di dalam bekasi ke dapur ya!" perintah Satria. Lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Setelah Yumi keluar. Dia langsung mengentikan pelayan itu.
"Hei mau apa kamu!" Kata Yumi cepat.
"Mau mengambil barang-barang non" Jawabnya dengan wajah bingung.
"Sayang! Kenapa sih? Dia cuma mau ngambil barang-barang aja" Ujar Satria.
__ADS_1
"Aku gak mau di ambilkan sama dia. Aku mau kamu yang bawakan ke dalam" Jawab Yumi.
"Apa? Aku?" Satria menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang tidak terima. Karena dirinya sangat lelah saat ini.
"Aku gak mau sama dia. Aku maunya di bawakan sama kamu Mas!" Pinta Yumi dengan merengek dengan manja.
Lagi-lagi Satria hanya bisa pasrah, lalu menenangkan Yumi, "Iya sayang! akan aku bawakan. Kamu jangan nangis" Kata Satria menenangkan.
Yumi seketika tersenyum senang. Trik ampuhnya selalu mengalahkan Satria.
Satria pun membuka bagasi mobilnya, dan dengan hati terpaksa membawa semua barang-barang itu sendirian.
Keesokan harinya. Seperti biasan, Satria bersiap-siap akan pergi ke kantor. Pagi ini mendadak ia menerima telepon bahwa ada meeting dadakan di kantor. Ia pun tidak sempat untuk berpamitan kepada Yumi, karena Yumi saat ini masih tidur.
Dalam hati, Satria selalu bertanya-tanya, karena beberapa minggu ini Yumi selalu bangun siang. Tidak seperti biasanya, karena Yumi biasanya yang selalu bangun subuh.
Sementara itu, Yumi terlihat menggeliat dengan sedikit menyerjapkan matanya. Merasakan pantulan sinar matahari yang sudah memasuki ruangan makarnya dari balik kaca jendela.
"Astaga! Aku kesiangan lagi" Ucap Yumi cepat ketika menyadari bahwa hari sudah menjelang siang.
Yumi beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Ia pun segera keluar untuk makan setelah selesai mandi. Karena perutnya kini terasa sangat lapar.
"Masak apa Bik?" Tanya Yumi setelah berada di ruang makan.
__ADS_1
"Masak opor ayam dan sup iga kambing" Jawab bibik.
Ketika nama Kambing di sebutkan. Tiba-tiba Yumi merasa pusing. Wajah kambing seketika berseliweran di dalam pikirannya. Serta bau kambing seakan menyengat di dalam rongga hidungnya.
"uwekkkkk Uwekkkk"
Yumi berlari menuju toilet dapur. Ia memuntahkan isi perutnya begitu saja. Semakin ia mengingat wajah kambing, semakin ia merasa mual dan muntah. Pelayan yang ada di sana sangat panik, ada yang memberikan minyak dan ada yang memijitnya dari belakang untuk mengurangi mual yang Yumi rasakan.
"Uwekkkk Uwekkk" Yumi tidak mau berhenti muntah. Seisi perutnya bahkan sudah kosong. Namun mualnya tidak ingin berhenti sama sekali. Tubuhnya sekarang menjadi sangat lemah, wajah Yumi juga Seketika menjadi pucat.
"Ada apa ini?" Suara Pak Herman yang tiba-tiba mengagetkan semua pelayan. Pasalnya mereka masih fokus mengurus Yumi yang sejak tadi muntah.
Bruakkkkkk.
Yumi Seketika jatuh pingsan. Tubuhnya benar-benar kelelahan, baru kali ini ia merasakan mual yang seakan mencabut nyawanya. Karena rasanya sangat menyakitkan, bahkan perutnya juga ikut sakit.
Semua orang panik. Terutama Pak Herman yang juga terlihat panik melihat menantunya yang Tiba-tiba pingsan. Beberapa pelayan laki-laki mengangkat tubuh Yumi ke kamar.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.