
Satria melenguh dan bermain liar dengan bibir yang berdansa seakan tidak mau berhenti.
Keduanya pun sudah seperti cacing kepanasan, bermain dengan begitu liar dengan nafas yang semakin menderu meminta sebuah kepuasan yang tersalurkan.
Satria beralih, kini Yumi lah yang duduk di atas kursi dengan tangan yang menjalar dan siap membuka sebuah pengaman di bawah sana yang sejak tadi sudah menegang keras.
Krekkkkk.
Tok
Tok
Tok
Seketika atensi keduanya beralih kepada pintu dengan wajah yang cemas.
"Tuan! Apa tuan di dalam?" Tanya seseorang dari balik pintu.
"Sial! menggangu saja" Umpat Satria kesal. Kembali ia mengancing celananya yang sudah terbuka. Ia sedikit menarik nafas dalam-dalam, sekedar menetralkan kembali nafasnya yang sempat memburu karena gejolak hasrat yang kian memuncak.
Yumi segera beranjak dan merapikan rambut dan juga pakaiannya yang sempat berantakan karena ulah Satria tadi.
__ADS_1
Satria seketika mengecup lembut bibir istrinya, "Kita lanjutkan nanti di kamar ya! Aku akan membuat mu menjerit" bisik Satria dengan tersenyum nakal. Seketika wajah Yumi bersemu malu karenanya, membuat Satria semakin gemas melihatnya.
"Masuk!" teriak Satria setelahnya. Seorang pria tampan masuk, dengan sebuah berkas yang terlihat ia pegang di tangannya.
Ihsan terlihat kaget seketika melihat Yumi juga ada di sana. Atensinya menangkap benda merah kepemilikan terukir di leher Yumi, membuat Ihsan mengerti ternyata dirinya datang di waktu yang tidak tepat.
"Maaf tuan saya mengganggu anda dan nona Yumi" Ucap Ihsan menunduk hormat.
"Duduklah. Aku yakin kamu kesini pasti ada hal penting yang ingin kamu sampaikan" Ujar Satria
Keduanya pun duduk di sebuah kursi panjang dengan saling berhadapan.
Ihsan mulai membuka berkas yang sempat ia bawa, lalu menunjukannya kepada Satria.
"Ini adalah berkas-berkas kematian Ayunda serta foto-foto yang di dapatkan setelah kejadian itu berlangsung tuan. Disini saya juga sudah menelusuri dan mengintrogasi semua pihak yang terakhir kali berinteraksi dengan nya sebelum kejadian tersebut. Semuanya terlihat normal, kecuali satu orang. Saya mencurigai seorang siswi yang di duga memiliki hal lain mengenai Ayunda" jelas Ihsan dengan sedikit menggantung ucapannya.
Satria terlihat menatap Ihsan dengan penasaran, "Siapa itu?" tanya Satria.
"Seorang siswi bernama Winda"
Deg!
__ADS_1
Satria seketika tersentak mendengar nama Winda di sebutkan. Selama ini Winda memang menyukai dirinya. Namun Satria hanya tidak menyangka jika Winda tega melakukan itu.
"Apa kamu yakin?" tanya Satria lagi.
"Belum tuan. Hanya kecurigaan saja. Karena setiap kali aku ingin menanyakan masalah Ayunda, wanita itu selalu menghindar. Terlebih lagi, disaat aku mengatakan bahwa tuan sangat mencintai Nona Yumi, ia terlihat sangat marah. wajahnya seketika berubah menatapku dengan tajam" Jelas Ihsan.
Satria nampak masih diam dengan pikirannya yang berlarian ke masalalunya.
"Aku ingat. Waktu itu Ayunda sempat mengatakan kepadaku bahwa Winda tidak lagi memusuhinya, aku percaya saja waktu itu karena aku pikir Winda memang sudah berubah. Dan mereka juga sering belajar bersama layaknya seorang sahabat. Jika dugaan ku tidak salah. Apakah semua ini hanya sebuah manipulasi dari Winda dan yang menyebabkan kematian Ayunda adalah Winda. dan Surat itu sebenarnya bukan dari Ayunda, melainkan Winda yang menulisnya" Ucap Satria menerka-nerka. Entah dugaannya saat ini benar atau salah, menurut perkiraan nya bisa saja Winda lah dalang dari semua ke kekacauan ini.
Ihsan terlihat manggut-manggut, "Masuk akal. Kalau begitu, saya akan terus mencari bukti tentang Winda tuan" Ujar Ihsan cepat sebelum Satria kembali memberi perintah.
"Baiklah Ihsan. Aku harap semua ini cepat berakhir. Jika saja pelakunya benar-benar Winda, maka aku tidak akan memaafkannya" Ujar Satria menyetujui.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.