
"Apa mereka di atas?" gumam Satria. Tanpa menunggu lama, Satria pun segera menuju lantai paling atas gedung. Ia menaiki tangga yang mengarahkan langsung kepada lantai gedung paling atas.
Dengan setengah berlari, Satria terus berpikir dengan keras untuk bisa menyelamatkan istrinya itu. Jika saja dugaannya benar, ia tidak akan memaafkan orang itu.
Sesampainya disana. Satria terhenti, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Namun disana sosok Yumi sama sekali tidak terlihat. Tidak ada siapapun di atas gedung itu.
"Jika bukan disini, lalu dimana?" Gumam Satria yang sudah mulai merasa pusing. Kepalanya serasa sudah mau pecah memikirkan Yumi yang tidak bisa ia temukan disana.
"Mungkinkah ada orang lain lagi selain Haikal yang membenciku?"
"Atau mungkin bukan aku yang di incar dan di benci? Melainkan Yumi sendiri?"
"Ah tidak-tidak. Sejauh ini Yumi tidak pernah memiliki musuh. Dia adalah orang yang baik dan penurut. Mana mungkin yang menculiknya adalah musuh nya sendiri. Ini pasti berkaitan dengan aku" Satria terlihat berbicara sendiri, memikirkan persepsi yang mungkin akan membuat kepalanya semakin sakit.
Tidak lama, seorang pengawal menghampiri nya dengan setengah berlari.
"Tuan! Seseorang menelpon" Ujar pengawal itu dengan memberikan sebuah benda pipih ke tangan Satria yang ketinggalan di mobil.
Satria mengambil handphone itu dari tangan pengawal itu, lalu menelpon balik nomor yang tidak memiliki nama itu.
Tuttttt Tuttttt
__ADS_1
Suara handphone menyambung.
"Hallo Satria!"
Satria menautkan kedua alisnya heran, suara itu begitu familiar di telinganya.
"Siapa ini?" Satria bertanya dengan cepat.
"Kau melupakan aku?" tanyanya dari seberang sana.
"Tolong! Tolong aku Satria"
Satria tiba-tiba tersentak, suara lain yang meminta tolong dari handphone itu adalah suara istrinya Yumi.
"Tenang dulu Satria! Aku hanya ingin bermain-main bersama istrimu. Setidaknya aku akan mencicipinya sebentar sebelum ia aku bunuh. Aku akan mengembalikannya sebentar lagi" Suara nakal orang itu membuat Satria merasa geram. Jika saja orang itu ada di hadapannya saat ini, sudah dapat di pastikan bahwa Satria akan membunuhnya saat ini juga.
"Kurang ajar. Akan aku bunuh kau jika kau menyentuh istriku" Teriak Satria dari balik handphone nya. Namun hanya suara gelak tawa yang terdengar dari handphone nya.
"Jika kau ingin istrimu selamat. Maka gantikan dia dan matilah di hadapanku" Jawabnya seketika dengan aura yang begitu dingin.
"Haikal!" Satria menyadari, bahwa seseorang yang menelpon nya saat ini benar-benar adalah Haikal.
__ADS_1
"Hahahah, ternyata kau memang mengenal diriku Satria. Kau dengan mudah mengenaliku hanya dengan suaraku" Jawabnya dengan tertawa puas disana.
"Haikal! Yumi tidak bersalah, jangan sakiti dia. Kau bunuh saja aku jika kau mau!" Ujar Satria.
"Semudah itukah membunuh mu? Hanya karena seorang wanita, Seorang Satria menjadi selemah ini hahahhhh! Lalu apa kabar dengan adikku yang kau khianati cintanya sehingga dia bunuh diri?" Aura dingin kembali memenuhi telinga Satria. Ucapan Haikal terasa menusuk jiwanya.
"Haikal! sudah aku katakan, kematian Ayunda bukanlah karena diriku" Elak Satria.
"Berhenti berbohong Satria. Ayunda meninggalkan surat kepadaku, dia mengatakan bahwa kematiannya adalah karena dirimu yang sudah menghianati cintanya" Teriak Haikal dengan lantang.
Entah harus bagaimana lagi menjelaskannya kepada Haikal, bahwa kematian Ayunda tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Carilah aku sekuat yang kau bisa Satria. Lima jam kedepan aku akan membunuh istrimu di jam yang sama kematian Ayunda. Aku ingin lihat seberapa kuat kau menahan perasaan kehilangan seseorang yang kau sayangi" Haikal kembali berbicara dengan nada dinginnya. Ucapannya seakan sebuah ancaman yang akan membuat Satria benar-benar kehilangan istrinya sebentar lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.