Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 41


__ADS_3

"Hahhhhhhhh" Satria berteriak frustasi. Ia benar-benar merasa sudah menjadi suami yang tidak berguna untuk istrinya sendiri. Ingin rasanya ia menangis disana, namun hal itu ia urungkan karena ia masih memiliki waktu 1 jam. Setidaknya masih ada waktu untuk mencari Yumi kembali.


Tutttt Tuttt


Kembali Handphone Satria berdering. Segera ia mengangkat telepon itu karena Ihsan lah yang telah menelponnya saat ini.


"Hallo Ihsan? Apa kamu sudah menemukan lokasinya?" Tanya Satria cepat. Suaranya bahkan sudah terdengar serak, nampaknya Satria benar-benar ingin menangis kali ini.


"Sudah tuan! Lokasinya di gedung tua pinggir kota!" Jawab Ihsan.


Satria seketika terdiam, berpikir bukankah gedung pinggir kota adalah tempat yang mereka datangi tadi? Namun tidak ingin pusing memikirkan hal itu, Satria kembali bertanya.


"Apa kamu yakin? Kami bahkan sudah menggeledahnya tadi"


"Yakin tuan. IT kita sudah melacak keberadaannya saat ini. Sepertinya, pemuda itu sengaja mempermainkan mu tuan agar kita tidak menemukan jejaknya di manapun" Jelas Ihsan.


Satria masih diam. Sepertinya ia mengerti sekarang. Haikal sengaja memanipulasi keberadaan nya agar ia tidak bisa menemukan keberadaannya.


"Baik Haikal. Bawa semua orang kita kesana. Kita kepung Haikal dan berikan dia pelajaran karena telah mempermainkan aku dan mencoba melukai istriku" Tegas Satria.


Satria pun langsung mematikan teleponnya setelah mengatakan itu. Segera ia pergi dan membawa semua pengawalnya ke tempat semula mereka mencari Yumi tadi, yaitu gedung tua pinggir Kota.

__ADS_1


Mobil yang Satria bawa pun melaju pesat dengan kecepatan tinggi. Dia tidak memikirkan hal apapun lagi selain keselamatan Yumi saat ini.


Dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 6.56 malam. Waktunya kini tersisa hanya 34 menit lagi.


Sesampainya disana. Terlihat beberapa pengawalnya merasa pusing. Mobil yang di kendarai tuannya itu benar-benar membuat mereka terasa kehilangan nyawa. Bukan tanpa sebab, mobil itu melaju dengan begitu tinggi hingga mereka terombang-ambing oleh mobil yang di kendarai Satria. Sepertinya tuanya itu sudah kehilangan akal, sehingga tidak memikirkan keselamatan sendiri.


Untungnya, Tuannya cukup lihai dalam mengendarai mobil. Sehingga mereka sampai dengan selamat me gedung itu.


Satria segera masuk ke dalam gedung. Terlihat sebuah mobil memang terparkir di dalam sana. Satria pun sedikit mempercepat langkahnya dengan setengah berlari, berharap ia tidak akan terlambat menyelamatkan istrinya.


Terlihat semua pengawalnya tetap mengikuti belakang Satria, menunggu perintah dari tuannya.


Sesampainya disana. Dan benar saja, Haikal memang sudah berada di atas. Dengan Yumi yang sudah terikat kedua kaki dan juga tangannya di tepi gedung.


Haikal terlihat menyeringai setelah menyadari kedatangan Satria.


"Haikal!" Pekik Satria.


Yumi seketika menoleh kepada Satria dengan air mata yang sudah tumpah. Mulutnya tertutup lakban membuatnya kesulitan untuk sekedar berbicara. Hanya air matanya lah yang mengatakan semuanya kepada Satria bahwa dirinya saat ini benar-benar Ketakutan.


Bagaimana tidak. Ia di letakan di pinggir pembatas gedung. Sedikit saja senggolan kepadanya, sudah dapat di pastikan bahwa dirinya akan terjatuh ke bawah.

__ADS_1


Kedua mata Yumi dan Satria terlihat saling bertemu. Satria benar-benar tidak habis pikir, Haikal akan senekat ini.


"Masih ada Waktu 7 menit. Hebat sekali kau bisa menemukan ku Satri" Ucap Haikal dengan tersenyum licik.


"Haikal. Jangan nekat. Yumi tidak bersalah. Lepaskan dia!" Pinta Satria.


"Tidak semudah itu Satria. Kau tau bagaimana aku berjuang melawan rasa di saat kehilangan seorang adik yang kita sayangi? Dan di hari yang sama, ibumu juga meninggalkan mu untuk selama-lamanya?" Haikal mulai berbicara. Matanya sedikit mengeluarkan kristal beningnya. Mengingat masa itu sungguh membuatnya merasa tersakiti.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2