Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Ekstra chapter 1


__ADS_3

Hari pun berlalu begitu saja. Setelah sesaat badai menerpa, kini Satria dan Yumi mendapatkan kedamaian nya kembali.


Setelah kejadian tragis yang menimpa rumah tangga mereka, membuat Satria menyadari. Bahwa membina rumah tangga bukanlah sesuatu yang harus di remehkan.


Membina rumah tangga, juga butuh perjuangan dan tanggung jawab yang besar. Sebagai seorang laki-laki, sudah seharusnya menjadikan bahunya sebagai pundak ternyaman bagi seorang istri.


menginginkan Rasa aman serta rasa memiliki sepenuhnya adalah ciri khas seorang perempuan.


Di kamar.


Yumi terlihat masih menyandarkan kepalanya di bahu Satria yang masih sibuk dengan laptopnya. Pekerjaan kantor ternyata telah menyita waktunya. Apalagi baru-baru ini ia mendapatkan Tander yang sangat besar. Hal inilah yang menyebabkan Satria selalu lembur bekerja.


Yumi yang merasa tidak di pedulikan pun kembali bersuara, "Mas! Kamu tau gak patung itu seperti apa?"


Satria yang sedari tadi fokus bekerja pun seketika menoleh kepada istrinya dengan bingung. Bagaimana bisa istrinya tidak mengenali patung? Begitulah tanggapan Satria.


"Maksud kamu apa?" Tanya Satria tidak mengerti.


"Ya patung, masak mas gak tau sih?" Yumi menjawab dengan kesal.


"Ya tau. Cuman, kamu kok aneh tiba-tiba nanya patung? Kuliah juga iya, terus jadi guru juga pernah. lah ini nanyain patung kayak anak TK" Jawab Satria.


"Kalau kamu tau patung. Ya ini, aku udah kayak patung nungguin kamu sudah 3 jam. Aku bosan tau" Jawab Yumi ketus.


Satria tersenyum kecut. Ia baru sadar, ternyata sudah selama itu ia mengabaikan istrinya sejak tadi. Pantas saja istrinya itu menjadi marah seperti ini.


Satria pun menarik tubuh Yumi dan memeluknya dengan sangat lembut. Sesekali ia mencium kening istrinya sembari berkata, "Maaf ya! Maaf karena aku sudah membuatmu bosan. Bagaimana kalau kita makan dan jalan-jalan keluar. Aku ada waktu 4 jam untuk mu hari ini" Ucap Satria. Membuat wanita langsung tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Yuk! Aku mau! Aku siap-siap dulu ya!" Jawab Yumi antusias.


Satria pun hanya mengangguk mengiyakan, setidaknya ia dapat membuat istrinya merasa bahagia walaupun dalam waktu yang sangat terbatas.


Setelah bersiap-siap Yumi dan Satria pun pergi.


Di dalam mobil.


"Kamu mau jalan-jalan dulu atau mau makan?" Tanya Satria yang masih fokus menyetir.


"Bagaimana kalau kita ke pasar tradisional saja?"


Satria langsung melongo, dan tiba-tiba mengerem mendadak.


"Ngapain kesana?" Tanya Satria bingung.


"Ya aku mau jalan-jalan aja kesana. Terus mau belanja buah-buahan" Lanjut Yumi.


"Kamu gak mau! Ya udah kita pulang aja. Aku gak mau kemana-mana kalau gak pergi ke pasar tradisional" Jawab Yumi yang sudah merajuk.


Satria sedikit kesal. Namun tetap menuruti keinginan istrinya yang sedikit aneh ini.


Hari ini Yumi pun pergi ke sebuah pasar tradisional sesuai keinginannya. Dimana seluruh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah selalu meramaikan tempat perbelanjaan sederhana tersebut.


Satria terlihat mengikuti langkah Yumi dari belakang. Yumi terlihat begitu bahagia. Di dalam hati Satria, ia masih bertanya-tanya tentang istrinya, Yumi. Tidak biasanya Yumi bersikap seperti anak kecil seperti ini. Namun dengan sangat hati-hati, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal tersebut, karena jika Yumi tidak suka, wanita itu tidak segan-segan untuk menangis. Entah apa yang membuat istrinya berubah seperti ini.


"Mas! aku mau ketoprak yang ada seberang sana"

__ADS_1


Satria seketika buyar dari lamunannya. Lalu melihat arah gerobak penjual ketoprak di sebrang jalan yang di tunjuk oleh Yumi.


"Ya udah Yuk!" Jawab Satria pasrah. Ia sudah merasa lelah, belum lagi belanjaan yang ia bawa sudah sangat memenuhi tangannya. Walaupun tidak tau untuk apa istrinya itu membeli bahan makanan dan cemilan sebanyak ini di pasar.


Melihat antrian yang sangat panjang, membuat mereka menunggu sangat lama. Satria juga sangat lelah menunggu pesanan istrinya itu.


"Mas! Pulang Yuk! Kayaknya aku udah gak mood lagi makan ketoprak"


Satria pun melongo. Jika saja sejak tadi Yumi mengatakan itu, pasti tidak akan membuang waktu menunggu disana.


"Yaudah. Yuk kita pulang" Satria pun akhirnya hanya menurut. Walaupun dalam hati sangat dongkol.


"Mas! pesanannya sudah jadi!" Teriak penjual ketoprak tersebut, membuat langkah Yumi dan Satria pun terhenti.


"Sayang kamu masih mau gak ketoprak nya?" tanya Satria.


"Mau!" Yumi pun kembali duduk di meja yang tadi sempat mereka duduki.


Satria pun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. dan kembali duduk bersama istrinya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2