
"Cukup!" Pekik Satria lantang. Seketika Membuat Meida langsung terdiam.
"Jangan menyalahkan orang lain karena kesalahan kamu sendiri yang tidak bisa menjaga kandungan mu dengan baik" Lanjut Satria yang masih meninggikan suaranya.
"Satria udah. Jangan ribut-ribut, kita masih berada di rumah sakit" Cegah Yumi.
"Biarkan saja. Wanita seperti dia tidak pantas untuk di hormati"
"Wanita sampah dan hanya menjual dirinya di jalanan tidak pantas menjadi ibuku"
"Cukup Satria! Apa yang kau bicarakan ini? Mama mu lagi berduka, jangan membuat beban pikirannya semakin bertambah. Jangan keterlaluan dan membuat kegaduhan di sini" Pekik Pak Herman tidak kalah lantangnya.
Satria terkekeh, membuat semua orang menatap Satria dengan bingung.
"Mama? Dia bukan Mama aku. Awalnya aku tidak ingin membuka kebusukkan dia. Tapi setelah apa yang dia lakukan kepada istriku Yumi, aku tidak akan membuat wanita licik ini semakin menjadi" Ucap Satria. Kata-kata itu lebih kepada seperti ancaman bagi Meida.
Yumi yang berada di sampingnya menautkan kedua alisnya heran, jujur dia samasekali tidak mengerti apa pun yang Satria katakan.
"Satria! Kau bicara apa?" Tanya Yumi tidak mengerti.
"Aku akan membongkar kebusukkan Wanita itu. Aku sudah tau kalau Anak yang dia kandung, bukanlah anak papa!"
Mata Yumi seketika membulat sempurna, terlebih lagi pak Herman yang juga dibuat terkejut oleh pernyataan Satria tentang ibu sambungnya, Meida.
"Mas, jangan dengarkan Satria. Dia sudah lama membenciku, dan tidak menyukaiku. Kamu tau itu kan mas! Dia hanya membuat cerita palsu tentang anak kita agar kita berpisah" Ucap Meida cepat yang sudah menangis disana dengan memegang tangan Pak Herman dengan kuat.
Pak Herman hanya diam, dirinya benar-benar bingung harus mempercayai siapa.
"Cih, air mata buaya!" Sindir Satria.
__ADS_1
"Satria! Bicaralah yang sungguh-sungguh, papa tidak suka caramu seperti ini" Ujar Pak Herman kemudian.
"Dia itu pembohong mas. Satria mencoba untuk memisahkan kita, kamu jangan percaya kepada Satria" Ucap Meida lagi yang mencoba meyakinkan Herman untuk tidak mempercayai Satria.
"Aku akan memanggil orang yang aku tugaskan untuk memata-matai kamu selama ini. Kamu pikir, aku pergi dari rumah itu karena menerima perintah dari mu? Kamu salah besar! Aku pergi karena ingin membuktikan kepada Papa bahwa kamu adalah wanita licik yang hanya menginginkan harta papaku"
"Cukup Satria. Kamu sudah keterlaluan, jangan kamu pikir aku menikahi papamu hanya karena menginginkan hartanya, aku menikahi papamu karena aku mencintainya" Ujar Meida tidak terima dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Haha, kamu mau bukti?" tanya Satria menantang.
"Memangnya kamu punya bukti" Tanya Meida balik dengan suara tergagap.
"Tentu saja"
"Heru!" Panggil Satria kepada seseorang. Tiba-tiba seorang pria muncul begitu saja dari belakang, hal ini terlihat seperti sudah direncakan oleh Satria.
"Kamu sudah bawa buktinya?" Tanya Satria. Pria yang ia panggil Heru itu pun mengangguk mengiyakan.
Satria menganggukkan kepalanya, "Langsung tunjukan saja buktinya! Biar Papa ku melihat langsung kebusukkan wanita itu"
Sementara, Pak Herman dan Yumi terlihat sedang menunggu, dan ingin menyaksikan bukti apa yang akan Satria perlihatkan kepada mereka.
Sementara Meida terlihat ketakutan, dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajahnya.
Satria tersenyum licik, lalu di hidupkan nya rekaman yang sempat ia ambil di sebuah hotel, yang memperlihatkan dua orang yang sedang bercinta di atas kasur dengan begitu ganas.
Pak Herman menganga tidak menyangka, istri yang ia percayai yang akan menggantikan sosok mendiang istrinya dahulu ternyata sudah bermain Api dibelakangnya.
Tidak hanya itu, Satria juga memperlihatkan beberapa rekaman cctv yang sengaja ia pasang di beberapa titip di rumahnya. Termasuk di dalam kamar ayahnya juga menjadi tempat dimana ia memasang cctv itu. Dan rekaman bagaimana Meida memperlakukan Yumi pun terlihat disana, serta rekaman penyebab Meida terjatuh dan kehilangan bayinya pun terlihat disana. Dan lebih parahnya lagi, Pria yang sama datang ke rumah Pak Herman, lalu mereka berdua kembali bercinta di dalam kamar utama Pak Herman, seakan rumah dan kamar itu adalah milik mereka.
__ADS_1
Tidak berapa lama, seorang Dokter kandungan pun masuk. Menyerahkan selembar kertas DNA kepada Satria. Disana tertera dengan jelas bahwa anak yang Meida kandung bukan anaknya Pak Herman.
Satria pun memberikan kertas itu kepada Papanya, lalu Pak Herman membaca isi dari kertas itu. Kenyataan ini sungguh membuatnya kehilangan akal telah mempercayai wanita selicik Meida.
Pak Herman terlihat murka, wajahnya memerah karena menahan amarahnya.
Tanpa berpikir panjang, dengan keadaan yang sudah mendesaknya, Meida segera melepas paksa jarum infus yang ada di tangannya.
Tangannya tergerak mengambil sebuah pisau buah yang ada di atas nakas samping kasurnya, lalu mengunci leher Pak Herman dengan sebelah tangannya, dan pisau yang ia pegang pun di arahkan ke leher Pak Herman.
"Meida! Apa yang kau lakukan?" Pekik Satria lantang.
"Kau yang memaksa aku melakukan ini Satria. Aku tidak akan pernah puas bercinta dengan lelaki tua yang lemah seperti dia. Karena itu aku mencari lelaki lain agar aku bisa hamil dan menguasai harta kalian" Ungkap Meida. Sorot matanya seketika berubah tajam, dengan seringai liciknya yang memperlihatkan kelakuan aslinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.
__ADS_1