Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 24 Pergi Kerumah Mertua


__ADS_3

Pak Hasan terlihat senang, lalu membalas jabatan tangan Pak Herman. Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah saling berkenalan, pak Hasan dan Pak Herman terlihat langsung akrab. Sungguh suatu kebahagiaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Diruang tamu. Terlihat mereka semua mengobrol dengan begitu akrab. Tidak heran jika tawa juga mengiringi perbincangan mereka.


"Bagaimana pak Hasan? Apa Yumi boleh menginap di rumah saya barang seminggu" Kata Pak Herman meminta ijin.


Pak Hasan pun tersenyum, "Tidak masalah besanku. Yumi juga perlu mengenal keluarga suaminya" Jawab Pak Hasan dengan ramah.


Pak Herman tersenyum senang mendengar jawaban ayahnya Yumi. Yumi dan Satria pun saling melempar pandangan dengan sedikit tersenyum tipis. Baru saja bertemu, kedua ayah mereka sudah seakrab ini. Sikap Pak Herman yang baik dan juga ramah membuat ayahnya Yumi nyaman dan langsung akrab bersama besannya.


Setelah beberapa saat mengobrol, Pak Herman berpamitan untuk pulang karena masih ada pekerjaan di kantor.


Karena Yumi dan Satria masih harus bersiap-siap, Pak Herman terpaksa untuk pergi lebih dulu dari sana.


*****


Hari sudah semakin sore.


Yumi mencium punggung tangan ayahnya dengan lembut, "Yumi pergi dulu ya Pa! Hati-hati di rumah. Dan Seto akan menemani papa disini" Ujar Yumi.


"Iya nak. Kamu juga harus hati-hati bersikap baik disana ya! Hormati mertuamu seperti kamu menghormati papa!"


Yumi mengangguk dengan tersenyum manis. Lalu Satria mengambil posisi Yumi dengan saling berhadapan dengan Mertuanya, pak Hasan.


"Satria juga pamit Pa. Papa hati-hati ya. Satria pinjam Yumi dulu"


Pak Hasan tersenyum, "Hahah, kalau sudah status istri itu tidak pinjam lagi Satria. Yumi seutuhnya milikmu Satria. Sayangilah dia sepenuh jiwa mu! Papa selalu percaya kepadamu" Jawab Pak Hasan.


Setelah berpamitan. Mereka semua pun pergi menuju rumah kediaman utama milik keluarga Satriawan dengan mobil mewahnya yang sudah melaju membelah jalan yang semakin ramai.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Yumi menggenggam tangannya sendiri dengan kuat. Entah kenapa, ia merasa sangat dingin. Apa karena ingin pergi ke rumah mertua untuk pertama kalinya? sehingga dirinya merasa tidak nyaman dan merasa gugup.


Satria meraih tangan Yumi dengan lembut. Tatapan mata keduanya saling bertemu. Wajah yang pucat dengan tangan yang sedingin es, membuat Satria mengerti bahwa istrinya saat ini sedang merasa gugup.


"Tenanglah, kamu akan baik-baik saja berada disana" Ucap Satria menenangkan Yumi.

__ADS_1


Yumi tersenyum tipis, lalu di susul dengan anggukan pelan.


Tidak berapa lama. Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah nan besar.


Yumi keluar dari dalam mobil. Tatapan matanya masih menatap rumah berdesain modern itu, sungguh memikat hatinya. Bukan karena menginginkan rumahnya, namun karena interior rumahnya yang menurut Yumi begitu mengagumkan.


Satria menggandeng tangan Yumi, sehingga mengalihkan perhatian Yumi.


"Yuk masuk!" Ajak Satria. Yumi hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Satria yang membawanya masuk kedalam rumah.


Terlihat pak Herman dan istrinya Meida berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Satria dan Yumi.


Yumi menyapa kedua orang itu dengan ramah, "Sore Pa,,,, Dan" Yumi sedikit menggantung ucapannya, menatap bingung kepada Meida yang harus ia panggil apa. Karena sejatinya Yumi memang belum mengenal wanita itu.


"Mama.... Dia mama sambungnya Satria" Ucap Pak Herman menjawab keraguan yang terlihat jelas di wajah Yumi.


Yumi tersenyum, "Sore Ma. Maaf karena telah membuat kalian menunggu" Ucap Yumi dengan ramah. Tidak lupa ia mencium punggung kedua tangan yang sudah menjadi mertuanya itu.


Satria nampak masih mematung, hingga sebuah senggolan bahu Yumi mengenai tubuhnya.


Satria tersentak, "Salami orang tuamu" Titah Yumi dengan sedikit mengecilkan volume suaranya.


Hal itu membuat Meida menatap tajam ke arah Satria.


"Berani-beraninya dia tidak menghormati ku di depan istrinya" Batin Meida kesal.


Yumi meringis melihat ketidaksukaan ibu mertuanya itu. Bagi Yumi, walau bagaimanapun, dia tetap berstatus sebagai ibu bagi Satria. Walaupun dia hanya ibu sambung.


"Satria! Kenapa ibumu tidak di salami?"


"Dia bukan ibuku" Jawab Satria lantang dengan wajah yang jengah.


"Satria! Istrimu baru datang, jangan membuat keributan" Tegur ayahnya.


"Baik pa" Jawab Satria sekenanya.

__ADS_1


Mereka semua pun masuk, dan duduk di ruangan keluarga seraya mempererat hubungan mereka.


"Papa senang kita bisa berkumpul bersama disini. Apalagi kalau nanti papa kehadiran seorang cucu"


Yumi yang tengah minum air di gelas seketika tersentak, sehingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Uhukkk Uhukkk Uhukkkkk"


"Yumi!" Seru Satria khawatir. Lalu kembali memberikan air minum kepada Yumi untuk meredakan batuknya.


Meida terlihat mendelik tidak suka melihat perhatian Satria kepada Yumi.


"Sudah! Aku gak apa-apa" Ujar Yumi setelah merasa nyaman.


"Kamu harus hati-hati! Minum yang benar" Jawab Satria yang masih terlihat khawatir.


"Pa! Masuk ke kamar yuk. Mama agak pusing nih"


Mata Yumi dan Satria beralih ke arah Meida yang sudah menggelayut manja kepada suaminya pak Herman.


"Iya sayang. Ya sudah, kalian berdua istirahat dulu ya! Papa antar mama kalian dulu ke kamar" Ucapnya.


Yumi hanya mengangguk seraya tersenyum manis. Namun Satria malah memalingkan wajahnya ke arah lain melihat papanya yang memapah tubuh wanita yang ia benci itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.


__ADS_2