Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 46


__ADS_3

Di kediaman keluarga Satriawan.


Yumi dan Satria terlihat membawa sebuah koper besar.


Tujuan Yumi kali ini adalah menjenguk sang ayah. Dan berniat untuk membawa ayahnya untuk tinggal bersama mereka di rumah Satria.


"Satria pamit ya pa!" ujar Satria kepada Papanya Herman.


"Yumi juga pamit pa" Sambung Yumi yang juga mengikuti Satria dari belakang dan mencium punggung tangan papa mertuanya.


"Iya hati-hati ya! Kalian sudah telepon papa mu itu?" tanya Pak Herman balik.


"Belum Pa. Kita mau bikin kejutan sama dia, kita gak kasih tau akan kesana" Jawab Satria cepat.


Pak Herman menggeleng dengan tersenyum manis, "Ada-ada aja kalian ini. Papa saranin kasih tau beliau biar gak syok pas liat kalian datang kesana!" Ujar Pak Herman mengingatkan.


"Iya Pa. Kalau gitu kami berangkat ya! Besok pagi kami kesini lagi dan bawa Papanya Yumi kesini" Ujar Satria lagi.


"Iya. Kalian hati-hati, salam untuk Papa mertuamu" Balas Pak Herman.


Setelah berpamitan. Satria dan Yumi pun pergi meninggalkan rumah dengan sebuah mobil Sport mewahnya. Kali ini Yumi dan Satria pergi tanpa di temani oleh Sopir atau pun pengawal. Karena mereka hanya pergi satu malam, jadi pikirnya tidak apa jika tidak di temani oleh pengawal.


"Sayang!" Seru Satria kepada Yumi yang terlihat membisu di sampingnya sembari masih fokus menyetir.


Yumi menolehkan kepalanya, menatap Satria dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Kenapa? Kok cemberut gitu?" Tanya Satria lagi.


"Aku kok tiba-tiba khawatir sama Papa kamu ya? Aku lihat wajahnya pucat banget tadi" Ujar Yumi.


"Papa emang gak enak badan. Tapi kamu jangan khawatir, tadi aku sudah tugaskan Dokter untuk menjaga Papa" Jawab Satria.


Yumi menatap intens wajah suaminya, "Kamu kok gak bilang papa sakit? Kan bisa kita tunda ke rumah papa aku dulu sampai papa kamu sembuh" Ujar Yumi yang terlihat marah.


Satria tersenyum, "Sayang, kamu jangan khawatir ya! Aku jamin papa akan baik-baik saja. Besok kan kita pulang, jadi gak akan lama kok. Kita juga bisa bawa papa kamu ke rumah secepat mungkin, karena kasihan juga kan papa mu sudah lama kita tinggal. Janjinya cuma seminggu, jadinya berminggu-minggu" Ujar Satria.


Yumi terdiam sejenak menanggapi ucapan Satria. Memang benar adanya, jika sebaiknya mengikuti perkataan Satria. Papanya pasti juga kesepian selama ini ia tinggal sendiri di rumah. Itu pikir Yumi.


"Baiklah" Jawab Yumi setelahnya.


Satria tersenyum sembari mengusap lembut pucuk kepala Yumi, "Gitu dong, jangan cemberut lagi. Kita kan mau malam pertama di rumah kamu kan, biar kita bisa main sepuasnya disana" Goda Satria.


"Kamu ah bisa aja" Yumi memukul manja lengan Satria dengan gemas.


"Tapi kamu suka kan?" Tanya Satria dengan senyuman menggoda.


Wajah Yumi semakin memerah, wajahnya menunduk menyembunyikan perasaannya yang senang. Terlihat ia menyembunyikan senyuman manisnya itu dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku akan buat kamu menjerit malam ini. Terus kamu minta lagi, lagi dan lagi. Pokoknya aku mau bikin kamu sampai lemes" Ujar Satria lagi dengan bayangan-bayangan gilanya tentang malam ini.


Plakkkkk.

__ADS_1


"Agrhhh" Seketika Satria meringis merasakan pukulan di bahunya.


"Sudah sadar sekarang?" tanya Yumi.


Satria terlihat meringis, sedikit menoleh kepada Yumi yang berada di sampingnya dengan menatapnya tajam.


"Maaf! Tapi beneran, aku Akan,,,,".


Plakkkk.


Kembali Yumi memukul bahu Satria dengan keras, membuat Satria spontan menghindari pukulan istrinya itu dengan memohon untuk dihentikan.


"Ampun, ampun sayang. Aku hanya bercanda aja" Ucap Satria pada akhirnya dan kembali fokus menyetir.


Yumi pun menghentikan pukulannya, lalu kemudian diam dan menatap ke luar jendela.


Jujur, hatinya cukup senang oleh godaan suaminya tentang malam ini yang akan di lakukan suaminya. Namun Yumi sengaja menghentikan Satria. Jika tidak, takutnya imannya gak kuat karena ucapan Satria barusan. Tubuh Satria sudah seperti candu bagi Yumi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2