
"Ahh iya. Aku dengar itu. Mulai sekarang aku mau untuk belajar" Jawab Satria dengan penuh semangat.
"Pelajarannya di mulai besok ya! Jadi jangan keluyuran lagi" Kata Yumi mengingatkan Satria.
"Siap Bos besar" Satria tersenyum seraya membentangkan tangan kanannya di dahi sebelah kanan.
*******
Malam harinya.
Lebih tepatnya di dalam kamar.
Nampak mata Satria masih setia memandang wajah Yumi dengan penuh kekaguman, "Cantik seperti bunga yang baru mekar. Namun sayang, galaknya mengalahkan emak-emak yang pernah ada. Tapi aku suka, dia membuatku merasa tertantang akan semuanya" Batin Satria seraya menikmati pemandangan yang menurutnya begitu indah.
Yumi seketika menoleh kepada Satria, "Apa kamu hanya akan menatapku seperti itu? Kapan kamu akan belajar?" Tanya Yumi.
"Belajar mencintaimu aku mau" Ujar Satria dengan masih menatap Yumi dengan penuh kekaguman.
Plakkkk.
Sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipi Satria.
Satria meringis, dengan memegang pipinya yang terasa panas karena di tampar oleh Yumi.
"Sekarang sudah sadar?" Tanya Yumi lagi dengan tatapan tajam.
Satria masih mengelus-elus pipinya dengan wajah yang sengaja ia buat cemberut.
"Dari tadi juga sadar kok. Emang aku lelaki apaan main tampar-tampar aja" Ujar Satria dengan wajah sedikit kesal.
"Makanya kalau di tanya di jawab serius" Balas Yumi yang juga kesal.
"Dari tadi juga serius"
"Sudah-sudah, sekarang kamu pergi ke tempat tidur kamu! Terserah mau ngapain aja, jangan mandangin aku terus, aku jadi risih ngeliatnya" Usir Yumi.
__ADS_1
"Ya aku kan gak ganggu. Cuma ngeliatin aja kok gak boleh" Keluh Satria.
"Sudah sana-sana pergi. Aku gak mau kamu di sini. Cepat pergi!" Yumi mengusir Satria seraya mendorong tubuh Satria ke sisi kanan kamarnya.
"Baiklah, baiklah" Ujar Wisnu dengan memutar bola mata malas.
Yumi hanya bisa membuang nafas kasar, lalu kembali duduk ke sebuah meja kerjanya yang ada di sana.
******
"Satria! Mulai besok kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh ya! Aku gak mau sampai kamu gak lulus ujian" Ujar Yumi yang masih sibuk dengan buku laporan ke siswaan.
Seketika Yumi menghentikan kegiatannya, sejenak ia menoleh kebelakang. Penasaran akan apa yang Satria lakukan sehingga tidak menjawab perkataannya.
Hrokkkkk Hrokkkkkk.
Yumi hanya tergeleng ketika menyadari bahwa Satria sudah tertidur pulas di kursi panjang itu.
Yumi berdiri, lalu berjalan mendekati Satria. Memastikan bahwa Satria benar-benar tidur atau tidak.
"Huhh, ternyata anak itu sudah tidur" Ucap Yumi, lalu ia meraih selimut yang ada di sisi kaki Satria dan menariknya perlahan seraya menyelimuti tubuh Satria.
Seketika Yumi tersentak, tangannya di tarik oleh Satria dengan keras, sehingga Yumi terjatuh di atas dada bidang miliknya.
Satria tersenyum miring, seraya menatap wajah Yumi yang juga menatapnya dengan tajam.
"Apa kamu kurang kerjaan?" Tanya Yumi kesal.
"Lalu kenapa kau mendekati ku dan memasangkan selimut untuk ku? Apa kau sudah mulai suka padaku? Atau jangan-jangan, kamu sudah mencintai ku tapi pura-pura tidak perduli?" Tanya Satria balik dengan berbagai pertanyaan beruntung yang ia tanyakan.
"Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan mu itu. Sebaiknya lepaskan aku!" Titah Yumi tegas.
Bukannya menurut, Satria malah semakin mempererat pelukannya kepada Yumi. Terlihat ia tersenyum miring, seraya menatap Yumi dengan sedikit mengedipkan sebelah matanya.
"Jika kamu tidak melepaskannya, maka aku akan berteriak" Ancam Yumi lagi.
__ADS_1
"Silahkan saja. Aku tidak takut"
"Ok......Aa..."
Cup.
Belum sempat Yumi benar-benar berteriak, Satria sudah lebih dulu menarik kepala Yumi dan membuat benda kenyal keduanya saling menyatu.
Kedua mata mereka saling berpandangan cukup lama, dengan bibir yang juga saling bertemu.
Tubuh mereka yang juga saling menyatu, membuat mereka bisa merasakan getaran irama jantung yang saling berdegup kencang.
Cukup lama mereka saling memandang, hingga sebuah ciuman menjadi sebuah ******* yang begitu menghanyutkan.
Ciuman yang membuat siapa saja terhanyut dan terbuai di dalam permainan hebatnya.
Cukup lama mereka bermain di antara benda kenyal itu, hingga sebuah tangan mulai meraba ke sesuatu yang begitu intim.
Yumi yang tersadar, segera membelalakkan matanya. Dan menepiskan tangan Satria yang mulai merajalela.
Segera Yumi berdiri, wajahnya nampak memerah karena menahan malu. Bagaimana mungkin, dia bisa juga terhanyut di dalam ciuman itu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya 😊