Mendadak Dinikahi Bocah

Mendadak Dinikahi Bocah
Bab 25 Malam Pertama di Rumah Mertua


__ADS_3

Yumi hanya mengangguk seraya tersenyum manis. Namun Satria malah memalingkan wajahnya ke arah lain melihat papanya yang memapah tubuh wanita yang ia benci itu.


Setelah beberapa saat. Satria kembali menoleh kearah ayahnya dan wanita itu. Terlihat jelas kebencian yang membara di mata Satria.


"Wanita licik, aku akan membuatmu pergi dari rumah ini" Ucap Satria di dalam hatinya.


"Satria! Satria!" Seru Yumi kesekian kalinya.


Satria seketika tersentak, lalu mengalihkan pandangannya kepada Yumi.


"Kamu kenapa? Kamu gak suka ya sama ibu sambung mu itu?" Tanya Yumi cepat.


Satria berdiri, diam tanpa ingin menjawab.


"Sebaiknya kita beristirahat. Aku capek banget!" Ujar Satria dengan dingin, ia pun melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Yumi menatap kepergian Satria dengan heran.


"Apa kamu gak mau ikut?"


Sebuah suara seketika mengagetkan Yumi, yang membuat Yumi juga melangkah pergi.


Yumi terlihat mengekor dari belakang seraya mengedarkan pandangannya kepada seluruh penjuru ruangan yang ada.


"Seumur hidup, aku belum pernah masuk ke rumah segede ini. Ini bener-bener sangat mewah" Gumam Yumi di dalam hati dengan penuh kekaguman.


Satria terlihat berhenti di depan sebuah pintu, Yumi yang masih mengagumi keindahan rumah itu tidak menyadari sehingga ia terus berjalan kedepannya.


Satria menggelengkan kepalanya, seperdetik kemudian, ia menarik tangan lembut istrinya sehingga membuat Yumi berbalik dan terhuyung kaget hingga membawa Yumi kedalam dekapan hangatnya.


Yumi terdiam dengan mata yang melebar sempurna. Dikala Satria memeluk tubuhnya dengan erat. Hangat dan Begitu nyaman.


Begitu terasa tubuh Satria yang gemetar, Yumi segera melepaskan pelukannya lalu menatap manik mata Satria yang sudah memerah. Entah kenapa, Yumi merasa sangat sedih melihat itu. Kesedihan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Dan itu terjadi kepada suaminya, Satria.


"Apa kau merindukan ibumu?" Tanya Yumi yang memang sudah mengetahui latar belakang Satria.


Satria hanya mengangguk pelan, Yumi mengerti bagaimana rasanya merindukan seorang ibu yang sudah tiada. Karena Yumi juga pernah berada di posisi Satria, kehilangan seorang ibu yang sangat ia sayangi.


"Merindu kepada seseorang yang sudah tiada memang menyakitkan. Tapi percayalah, mereka tidak ingin melihatmu lemah. Tersenyumlah, dan doakan mereka agar selalu di tempatkan di surga firdaus-nya Allah"


Setelah mendengar ucapan Yumi, Satria tersenyum tipis, "Terimakasih" Ucap Satria yang kembali memeluk tubuh Yumi.

__ADS_1


****


Di dalam kamar.


Terlihat Yumi sedang melipat pakaiannya di kasur.


Satria yang baru keluar dari kamar mandi mendekati Yumi dan duduk disana. Seketika Satria menggeser duduknya, lalu tanpa ijin dari Yumi, ia segera berbaring di paha Yumi. Posisi ini sangat nyaman Satria rasakan, terlebih lagi dapat melihat wajah Yumi yang terlihat menggemaskan baginya.


"Kau tidak marah?" Tanya Satria.


"Kenapa harus marah?" Tanya Yumi balik yang juga menatap Wajah Satria dengan senyuman manisnya.


"Aku pikir kau akan marah jika aku seperti ini" Jawab Satria.


Yumi tersenyum, "Satria!" Seru Yumi. membuat lelaki itu mendongak menatap sang istri.


"Apa ucapan mu di sekolah tadi pagi itu benar-benar tulus dari hatimu?" Tanya Yumi dengan serius.


Satria segera bangun dan duduk disana. Tatapannya kini saling bertemu dengan sang kekasih.


Satria menatap dengan dalam wajah wanitanya itu, begitupun sebaliknya Yumi.


"Apa menurutmu aku bercanda?" Tanya Satria.


Satria tersenyum, lalu menarik pinggang ramping wanitanya. Sehingga kedua tubuh itu saling menempel.


"Aku mencintaimu" Bisik Satria di telinga Yumi. Sehingga membuat Yumi merasa geli ketika merasakan nafas Satria yang menembus sisi telinganya.


Yumi seketika tertegun, kata Aku Mencintaimu itu seakan membuatnya melayang. Ucapan yang memang ia harapkan dari mulut Satria.


"Apa kau juga mencintaiku?" Tanya Satria lagi.


Kedua mata mereka tampak saling bertemu, "A-aku juga Mencintaimu" lirih Yumi dengan gugup. Bukan tanpa alasan, hal seperti ini rasanya begitu aneh bagi Yumi. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya juga sudah mencintai lelaki tampan itu.


"Bolehkah aku meminta jatahku?"


Pertanyaan Satria kali ini membuat wajah Yumi mengkerut dengan bingung. Yumi tidak mengerti jatah apa yang Satria maksud.


"Bukankah kita sudah makan? Jatah makan mu bahkan sudah kau habiskan di meja makan" Kata Yumi.


Satria mendelikkan matanya, "Bukan itu" Rengek Satria.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Yumi lagu yang masih merasa bingung.


"Sudahlah. Nanti saja aku mengatakannya. Lagi pula kau pasti tidak akan mau" Ucap Satria dengan yang sengaja ia memanyunkan bibirnya.


Yumi semakin di buat bingung.


"Katakan saja, aku pasti mau kok. Kamu mau apa?"


Satria tersenyum mendengar perkataan Yumi.


"Mau makan lagi? Atau bagaimana?" Tanya Yumi dengan polos. Seketika membuat Senyum Satria menghilang. Wajahnya kembali cemberut.


"Aku mau tidur saja" Kata Satria lalu melepaskan pinggang ramping istrinya yang sejak tadi ia peluk.


"Katanya mau jatah makan lagi, gimana sih" Gerutu Yumi.


Satria langsung merebahkan tubuhnya di kasur dengan membelakangi Yumi.


"Aku sedang bicara, kamu kok ngambek gini sih" Yumi berjalan mendekati Satria yang terlihat merajuk.


Yumi menggoyang tubuh Satria agar menoleh kepadanya, namun Satria tidak menggubrisnya.


Yumi terlihat mendengus, "Aku tidur dimana?" Lirih Yumi dengan melihat di sekeliling yang hanya ada sebuah bangku panjang.


Yumi hendak berdiri, namun tiba-tiba sebuah genggaman tangan menarik tangannya dengan keras sehingga ia terjatuh dan terpental ke atas Kasur.


Tanpa bicara, Satria mengubah posisinya, lalu memeluk tubuh Yumi yang sudah terbaring di kasur.


"Tidur!" Seru Satria yang sudah memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk like dan komennya ya! Mohon dukungannya.


__ADS_2