
Keesokan harinya. Ihsan terlihat duduk di sebuah kursi paling ujung sekolahan. Menunggu kedatangan seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu.
Tidak lama, seorang gadis cantik pun datang. Ya dia adalah Maya. Maya adalah teman Winda yang dulu sempat dekat dan menjadi sahabat. Namun sekarang sudah berbeda, Maya bahkan tidak pernah lagi bersama dengan Winda, karena perubahan sikap Winda lah yang membuat Maya menjauhinya.
"Maaf kak! Lama ya nunggunya?" tanya Maya dengan gayanya yang ayu.
Ihsan tersenyum, "Tidak apa. Kamu sudah pulang sekolah kan? Kita makan Yuk!" Ajak Ihsan. Terlihat Maya mengangguk sebagai respon. Mereka berdua pun pergi dari sana dan menuju rumah makan terdekat dari sekolah.
Di dalam mobil.
Ihsan terlihat menatap Maya dengan senyuman manisnya sembari menyetir mobil, begitu pun dengan Maya yang juga membalas senyuman Ihsan dengan malu-malu.
Ihsan sengaja mendekati Maya untuk mencari informasi tentang Winda. Karena sebelum Winda menjadi sahabat Ayunda, Winda sudah lebih dulu dekat bersama Maya. Oleh karena itu, menggali sisi lain dari Winda melalui Maya adalah solusi tepat bagi Ihsan.
Sesampainya di rumah makan sederhana. Ihsan terlihat berjalan memutar, lalu membuka pintu mobil untuk Maya. Hal itu membuat Maya tersipu malu.
"Baru kali ini ada laki-laki seromantis Kak Ihsan" Gumam Maya dalam hati. Sungguh hatinya kini berbunga-bunga karena perhatian Ihsan.
"Masuk!" Ajak Ihsan. Seketika membuyarkan tatapan kekaguman Maya.
"Ahh, iya" Jawab Maya gugup. Tangannya kini di genggam oleh jemari kekar milik Ihsan, hal itu membuat Maya semakin gugup dan tidak karuan.
Sesampainya disana. Maya duduk setelah Ihsan menarik salah satu kursi disana. Lalu Ihsan juga duduk dengan saling berhadapan dengan Maya.
__ADS_1
Mereka pun terlihat memesan makanan sebelum memulai obrolan.
"Maya! Kamu sudah lama jadi sahabat Winda?" Ihsan bertanya, dengan Mulutnya yang terlihat masih mengunyah makanan.
"Gak juga kak. Kita dulunya sempat dekat, tapi dia tiba-tiba berubah gitu setelah kematian Ayunda. Dan kita gak pernah kontakkan lagi setelahnya" Jelas Maya.
Ihsan terlihat manggut-manggut sebagai respon.
"Kalau boleh tau, ada masalah apa sih kak sama Winda. Kok dari tadi Winda terus yang di bahas sama kakak?" Tanya Maya penasaran.
Ihsan terlihat menghentikan makannya. Matanya kini menatap Maya. Memang benar, sejauh ini, Ihsan belum bercerita apapun mengenai masalah Winda kepada Maya.
Sedikit helaan nafas terdengar dari mulut Ihsan.
Maya tersenyum simpul, wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar ucapan Ihsan barusan.
"Kamu tau rumah Winda?" tanya Ihsan lagi tanpa memperhatikan wajah Maya.
"Iya kak!" Jawab Maya singkat.
"Kita akan kesana setelah kamu makan" Ujar Ihsan lagi.
"Memangnya kakak mau main ke rumah dia?" Tanya Maya penasaran.
__ADS_1
"Tidak. Hanya ingin tahu saja. Terimakasih ya! nanti saya antar kamu pulang setelah melihat rumah Wjnda" Jawab Ihsan.
Setelah selesai makan. Sesuai ucapan Ihsan, mereka pun pergi ke ke alamat rumah yang di kota xx.
Ihsan terlihat memarkirkan sebuah mobil di depan rumah mewah yang di duga adalah rumah Winda.
Matanya terlihat begitu fokus menatap semua inci rumah tersebut.
Terlihat Ihsan tersenyum puas, lalu masuk ke dalam mobil.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Ihsan kepada Maya.
"Iya kak. Aku takut nanti ibu nyari aku. Kita pulang saja" Jawabnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.